
RIAUPOS.CO - Ramadan adalah salah satu bulan dari tahun hijriah. Bulan Ramadan pastilah dijumpai oleh setiap insan yang hidup, beriman atau tidak. Artinya bulan Ramadan adalah sesuatu yang terus berulang sepanjang masa.
Ramadan adalah bulan reflektif yang jika dimakna ke bahasa Indonesia berarti pembakaran. Dimana semua aspek fisikal dan psikologikal insan dibakar apabila dihubungkan dengan kewajiban syariat yang ada di dalamnya.
Bulan Ramadan dengan syariat puasa di dalamnya, menitahkan komitmen dan disiplin diri yang terukur karena Ramadan juga disebut dengan bulan puasa.
Bulan puasa adalah bulan yang identik dengan imsak yang bermakna menahan. Menahan yang dimaksud yaitu mengendalikan diri untuk tetap sebagai orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa mengendalikan dirinya untuk tetap konsisten menjalankan hidup dalam kesadaran dan disiplin diri sejak masa imsak (menahan) sampai ifthar (berbuka).
Puasa adalah menahan dan mengendalikan diri untuk tidak makan, minum, bermaksiat, berjimak, berghibah, dan segala yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari.
Puasa bukan sekadar kewajiban mukallifiin, bahkan puasa menjaga dan merawat diri baik fisikal maupun psikologikal. Secara jasmaniah puasa menjamin pelaksananya (shaim) menjadi sehat lahiriah. ‘’Berpuasalah agar kamu sehat,’’ demikian di dalam sebuah riwayat disampaikan Nabiyullah Karim.
Di dunia kesehatan berpuasa adalah wejangan ampuh sang dokter muslim dalam upaya perawatan pasiennya. Ini menandakan puasa sebagai metode kesehatan fisikal yang sangat positif. Jasmani insan terutama lambung membutuhkan istirahat. Jika fisik memerlukan istirahat, maka puasa adalah jawaban bagi lambung untuk dihentikan bekerja dalam waktu tertentu.
Apabila boleh diilustrasikan dengan sebuah riwayat bahwa Rasulullah SAW membiasakan sebelum menelan makan setelah terlebih dahulu mengunyah 33 kali. Dengan mengunyah 33 kali sebelum menelan dapat meringankan kerja lambung sehingga dapat memperlambat datangnya rasa lapar.
Ternyata lambung apabila diberikan pekerjaan secara proporsional dapat membantu kesehatan secara efektif. Sebaliknya jika makan dengan kunyahan yang sedikit atau tergesa telah membuktikan mempercepat datangnya rasa lapar serta memaksa lambung bekerja keras yang kemudian bisa menimbulkan penyakit.
Puasa pada aspek fisikal dapat membantu pemulihan dan perawatan kesehatan jasmani secara efektif. Puasa menimbulkan dampak yang memberikan pengaruh positif pada kesehatan psikologis. Dalam ilmu kesehatan mental orang yang menunaikan puasa dengan terminologi yang sebenarnya bahwa pengendalian jasmani dan rohani sesuai muatan puasa hampir dapat dipastikan hidup dalam kesejahteraan psikologis yang teruji.
Apabila diuji ilmiah, orang yang berpuasa yang terhindar dari bohong, berjanji palsu, memfitnah, menghujat maka sesungguh mereka sudah mendekati pintu deklarasi takwa. Sementara takwa dalam kesehatan mental Islam adalah salah satu syarat yang mendekatkan pada terwuiudnya keserasian di antara elemen-elemen kejiwaan dengan lingkungannya.
Di mana akan tercipta kesadaran berdamai dengan diri sendiri, memiliki sense belonging, asertif, sense of crisis, berempati, dan bersimpati. Orang yang berpuasa dengan penuh pengendalian diri adalah orang mempunyai psychological well being.
Puasa adalah spirit jiwa dan raga untuk maslahat diri dan sosial karena kepedulian, kepekaan, dan kesamaan muncul efek dari menjalankan ibadah Ramadan. Wallahu a’lam bishawab.***
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

