
RIAUPOS.CO - TAK bisa dipungkiri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin paling berpengaruh di dunia, dari dulu hinggalah hari ini. Michael H Hart, seorang antrofisikawan dan penulis kenamaan asal Amerika dalam bukunya yang berjudul “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” [100 tokoh paling berpengaruh didunia sepanjang sejarah], menempatkan Nabi Muhammad pada posisi pertama pemimpin paling berpengaruh di dunia.
Sebagai pemimpin yang berpengaruh, khususnya terhadap umat Islam, nilai-nilai-nilai kepemimpinan apa yang dapat diteladani dari Rasulullah SAW, khususnya di bulan Ramadan.
Nilai Ketakwaan
Ketaqwaan merupakan syarat utama yang harus ada pada diri seorang pemimpin. Takwa dalam artinya adanya kesadaran atau hadirnya rasa takut kepada Allah SWT. Rasa takut itu dibuktikan dengan mengerjakan apa yang diperintah dan meninggalkan yang dilarang oleh Allah SWT. Sifat takwa inilah sesuai dengan tujuan disyari’atkannya puasa kepada baginda Nabi selaku pemimpin dan juga kepada umatnya adalah untuk membentuk manusia yang bertakwa.
Nilai Empati Ikut Merasakan Apa yang Dirasakan Orang Lain
Puasa yang menghendaki ‘tidak makan dan minum’, berujung pada adanya rasa lapar dan haus. Lapar dan haus ini identik pada masyarakat fakir miskin. Nah, melalui momentum puasa ini, diharapkan pemimpin dapat merasakan bagaimana rasanya bila ditimpa kelaparan dan kehausan, yang selama ini mendera kaum fakir miskin.
Sehingga ada keinginan yang kuat untuk mengeluarkan kaum fakir miskin dari kesulitan makan dan minuman yang mereka hadapi. Nilai empati ini bukan terbatas pada ‘makan dan minum’, namun dapat merambah ikut merasakan bagaimana penderitaan masyarakat yang ditimpa banjir, mengarungi jalan berlubang, mencium bau sampah di sepanjang jalan, dan ketidaknyamanan lainnya.
Nilai Memberi
Pemimpin, itu lebih banyak memberi, ketimbang menerima, apalagi mengeruk. Hal ini telah dicontohkan oleh nabi sebagai pemimpin di bulan mulia ini. Ada satu hadis yang menyebutkan bahwa “Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan. Terlebih lagi di bulan Ramadan’’. (HR. Bukhari Muslim)
Nilai Survival
Diceritakan, Nabi Muhammad SAW berbuka puasa hanya dengan kurma dan air putih. Demikian juga saat sahur. Dari kebiasan ini, dapat diambil satu hikmah, bahwa pemimpin itu tidak mesti identik dengan hidangan mewah. Sebagaimana yang disaksikan pada hari ini. Maksudnya, pemimpin dapat saja menempuh hidup sederhana, terlebih lagi di saat rakyatnya hidup penuh kekurangan.
Nilai Disiplin
Ada aturan main dalam berbuka puasa dan sahur. Khususnya berkenaan dengan waktunya. Tidak boleh berbuka puasa lebih cepat, sebelum waktunya. Demikian pula, tidak boleh melengah-lengahkannya, bila telah sampai waktunya.
Sahur pun demikian, jika sudah masuk waktu larangan makan dan minum, maka dihentikan. Bila itu dilanggar maka gagallah puasanya. Inilah kedisiplinan yang diajarkan oleh amalan puasa. Mengerjakan sesuatu sesuai dengan waktunya. Tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan.
Bila kedisiplinan dilanggar, maka gagal lah tujuan yang akan dicapai. Bayangkan jika kedisiplinan ini diimplementasikan dalam pengerjaan proyek pembangunan; maka banyak hal yang selesai sesuai dengan waktunya.
Nilai Evaluasi
Dalam Ramadan, menunaikan puasa dan salat haruslah ihtisaban. Ihtisaban seakar kata dengan muhasabah (evaluasi). Jadi, puasa bukanlah sekadar puasa. Salat malam bukanlah sekadar salat malam. Tilawah bukanlah sekadar tilawah, namun semuanya ada evaluasi.
Apakah kita hanya puasa dari tidak makan dan minum, sementara anggota tubuh lainnya tidak dipuasakan. Sudahkah salat kita dikerjakan dengan khusyuk dan tumakninah (tenang, tidak buru-buru, seperti ayam mematuk makanan). Evaluasi itu dilakukan dengan harapan untuk mendapatkan pahala dan keridaan Allah SWT.
Nah, melalui kebiasaan ihtisaban ini, pemimpin hendaknya membiasakan diri mengevaluasi diri dalam setiap tindakan yang dilakukan. Adakah telah berlaku adil ataukah zalim. Adakah perbuatannya sudah sesuai ikut aturan Allah, ataukah sebaliknya; melanggar. Adakah rakyatnya sejahtera atau teraniaya.
Nilai Kejujuran
Kejujuran hadir dikarenakan merasa diri diawasi oleh Allah, bukan diawasi oleh manusia. Bila hanya merasa diawasi oleh manusia, tentu orang dapat saja berbuka puasa di siang hari di saat ia sendiri, di saat orang tidak melihatnya, kemudian ia berbohong kepada orang-orang bahwa ia sedang berpuasa.
Disebabkan merasa diawasi oleh Allah, maka sekalipun punya kesempatan untuk makan di siang hari, namun seorang muslim yang beriman, ia tidak akan makan dan minum. Merasa diri diawasi oleh Allah. Inilah yang kehendaknya ada pada seorang pemimpin sehingga akan senantiasa berbuat jujur dalam segala keadaan. Baginya bukan karena pengawasan manusia yang menjadikan ia berlaku jujur, melainkan karena pengawasan Allah.***
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

