
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - PEMERINTAH telah melakukan kebijakan efisiensi anggaran sejak awal tahun 2025. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pun berkurang, termasuk di Riau dan kabupaten/kota. Dampaknya, gaji pegawai pemerintah tersendat, bahkan tambahan penghasilan pegawai (TPP) dipotong. Alhasil, daya beli pun menurun. Berkurangnya peredaran uang di masyarakat memicu penurunan permintaan pasar, yang berimbas langsung pada penurunan omzet pelaku usaha. Meski demikian, semangat umat muslim di Riau untuk berbagi dan beramal tetap tinggi. Dikepung efisiensi, minat untuk berkurban masih besar.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) memprediksi kebutuhan hewan kurban pada Hari Raya Iduladha tahun ini meningkat. Di mana, pada 2025 lalu kebutuhan hewan kurban di Riau mencapai 50.463 ekor, sedangkan tahun ini diprediksi bisa mencapai 52.885 ekor.
Kepala Dinas PKH Riau Mimi Yuliani Nazir mengatakan, dari data yang dihimpun, pada 2025 lalu jumlah hewan kurban hampir tersebar merata di 12 kabupaten/kota di Riau. Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan pemotongan hewan kurban terbanyak tahun lalu. “Tahun lalu, pemotongan hewan kurban di Pekanbaru sebanyak 9.435 ekor,’’ ujarnya.
Baca Juga: Pemprov Prioritaskan Pendidikan Berkualitas
Setelah Pekanbaru, ada Kampar sebanyak 7.641 ekor, Bengkalis 5.012 ekor, Rokan Hulu 4.745 ekor, Kuantan Singingi sebanyak 3.484 ekor, Indragiri Hulu 3.152 ekor, Indragiri Hilir 3.071 ekor, Pelalawan 2.752 ekor, Siak 3.744 ekor, Rokan Hilir 3.438 ekor, Kepulauan Meranti 722 ekor, dan Dumai 3.267 ekor. “Prediksi kami penyembelihan hewan kurban di Riau pada Iduladha tahun ini meningkat hingga 4,8 persen,” sebutnya.
Dapat 14 Sapi Kurban Bantuan Presiden
Provinsi Riau mendapatkan sebanyak 14 ekor sapi kurban bantuan dari Presiden Prabowo Subianto tahun ini. Sapi tersebut diperuntukkan bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, 12 pemerintah kabupaten/kota dan satu tokoh masyarakat.
Mimi Yuliani Nazir mengatakan, pihaknya lebih dulu mengajukan sapi hasil seleksi dari kabupaten/kota, dengan kriteria utama bobot hidup terbesar di masing-masing daerah. Selain bobot, faktor kesehatan, kelayakan fisik, serta kesiapan distribusi juga menjadi perhatian utama dalam penilaian.
Adapun untuk tingkat provinsi berasal dari peternak Franto KSR dengan jenis Simental berbobot 1.013 kilogram (kg). Sementara di Indragiri Hilir, milik peternak Zaini yakni sapi jenis Brangus dengan bobot 1.000 kg.
Di Bengkalis, diambil dari peternak Adi Tiawarman yakni sapi Simental berbobot 961 kg, di Pelalawan sapi milik Ricky Juniardi jenis Simental seberat 955 kg, di Rokan Hilir, sapi milik Azwar Sayudi jenis BC x Bali dengan bobot 950 kg.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




