Dari pusat kerajaan, kini tetap menjadi sumber peradaban. Dari pusat penghasil gambir, kini tak lagi mulai terpinggir. Inilah sebuah kisah dan sejarah di hulu sungai paling hilir yang terus mengalir.
Laporan KUNNI MASROANTI, Rohul
Dusun ini dulunya merupakan pusat Kerajaan Mentawai. Bahkan menjadi kampung pertama ketika Cipang hanya terbagi dua, yakni Cipang Kanan dan Cipang Kiri. Inilah Kampung Simpang di masa itu dan kini menjadi Desa Cipang Kiri Hilir ini sudah berpindah tiga kali. Pertama Kuburan Tinggi, Kampung Bukit dan Simpang. Seperti yang diceritakan Datuk Bosa, Datuk Pucuk M Yusuf, Kerajaan Mentawai ada sejak abad XIII. Ini dibuktikan dengan adanya kompleks pemakaman para raja yang dikenal dengan Kuburan Tinggi.
Kerajaan Mentawai dipercayai berasal dari Kerajaan Pagaruyung, pindah ke Bukittinggi. Dulu ada datuknya, bernama Datuk Jombang Bendaharo di Kampung Tinggi itu dan sekarang pindah ke Simpang dengan nama datuknya Datuk Rum. Datuk Rum merupakan keturunan Raja Mentawai. Ia juga merupakan wali negeri pertama tahun 1960. M Yusuf juga meyakini, Kuburan Tinggi mungkin dulunya ada nama lain, tapi yang jelas sekarang dikenal dengan nama Kuburan Tinggi.
Disebut Datuk Yusuf, Raja Mentawai bernama Somet. Sitawai adalah mamaknya Somet. Sitawai ini yang dapat luhak pertama di Cipang Kiri. Sedangkan nama sungai di desa tersebut yakni Sungai Mentawai, diambil dari nama Sitawai sebagai penemu luhak. Raja Mentawai juga diyakini lebih tua dari Raja Rokan. Tapi karana terlambat membuka kerajaan, maka Raja Mentawai berdaulat kepada Raja Rokan. Makanya Raja Mentawai bergelar datuk, yakni Datuk Rum. Raja yang menjadi Datuk.
Cipang Kiri pangkalnya berada di Tangkolio, sedangkan ujungnya di Lubuk Ulek. Ada tiga datuk yang ditanam atau dilantik oleh Raja Rokan, kata Datuk Yusuf, yakni Datuk Rum (Simpang), Datuk Rajo Gagah (Tangkolio) dan Datuk Menaro Kuning (Lubuk Ulek). Datuk Menaro Kuning tidak punya ulayat karena seluruh luhak sudah diserahkan kepada Datuk Rum. Maka ia meminta ulayat kepada Datuk Rum, lalu diberi paling ujung yakni di Lubuk Ulek.
Ada dua datuk lagi yang dilantik Raja Rokan atas persetujuan Datuk Rum yakni Datuk Gunung dan Datuk Sutan Gumalo. Keduanya punya ulayat karena Datuk Rum yang menyuruh. Ulayatnya dari Bukit Lumut sampai lewat Sungai Talas. Marwan Machmud, tokoh masyarakat Cipang Kiri Hilir, juga menjelaskan, karena Kerajaan Mentawai dari Pagaruyung, maka sistem yang masih terjaga sampai sekarang berupa materinial, yakni keturunan dari ibu. Peninggalan sejarah atau sisa-sisa dari Kerajaan Mentawai bukan hanya bisa dilihat dari makam para raja di kawasan Kuburan Tinggi, tapi juga rumah godang, lelo (meriam) yang sudah tidak aktif dan didapat di dekat makam Raja Mentawai oleh keturunan Sitawai atau Datuk Rum.
Dari waktu ke waktu, Dusun Simpang dan Cipang Kiri terus berkembang. Desa Cipang Kiri Hilir terdiri dari tujuh dusun, yakni Dusun Lubuk Inguh, Tangkolio, Banjar Datar, Tandikat, Simpang, Kandis dan Kubudienau. Banyak sungai yang membelah desa ini, antara lain Sungai Mentawai, Sungai Kandis, Sungai Tangkolio Kuning, Sungai Parais, Sungai Simau, Sungai Tandikat, Sungai Pauh, Sungai Landur, Sungai Keruh dan Sungai Batang Talau. Di sungai ini pula masih terpelihara tradisi Lubuk Larangan. Setiap kampung ada Lubuk Larangan, bahkan ada yang dua yakni Lubuk Ingu, Tandikat dan Simpang.
Kepala Desa Cipang Kiri Hilir, Azwir Abbas, menyebutkan, jumlah penduduk di Cipang Kiri Hilir sekitar 1.888 jiwa atau 487 Kepala Keluarga (KK) pada Juni 2015. Pada Mei 2018, jumlah penduduk semakin bertambah. Diperkirakan sekitar 2000 jiwa dengan penghasilan perekonomian yang beragam. Ada karet sekitar 75 persen, sawit sekitar 20 persen, dan lain-lain sekitar 5 persen.
Fasilitas umum juga mulai banyak. Setiap tahun terus bertambah. Pelayanan kepada masyarakat semakin baik. Sudah banyak fasilitas yang sebelumnya dirasakan masih kurang, tapi di tahun 2018 sudah mulai mencukupi. Masing-masing kampung sudah ada SD. Sedangkan SMP hanya ada 1 yakni di Dusun Banjar Datar. Puskesmas 1 unit, pustu 1 unit dan pasar desa per 2018 sudah ada 4 yakni di Dusun Tangkolio, Lubuk Ingu, Tandikat dan Simpang. Sementara pada 2015, belum ada pasar. Suku di desa ini juga tidak banyak. Dasarnya hanya ada satu suku, yakni Suku Melayu, tapi pecahannya banyak dengan 14 datuk.
Editor : Administrator