Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dharmayatra Sarana Memupuk dan Memperteguh Keyakinan Umat Buddha

Prapti Dwi Lestari • Senin, 5 Mei 2025 | 11:34 WIB
Para Bikkhu dan umat Buddha menjalankan pradaksina mengelilingi Candi Muara Takus sebagai bagian terpenting dalam perayaan Waisak 2569 BE, Ahad (4/5/2025).
Para Bikkhu dan umat Buddha menjalankan pradaksina mengelilingi Candi Muara Takus sebagai bagian terpenting dalam perayaan Waisak 2569 BE, Ahad (4/5/2025).

KAMPAR (RIAUPOS.CO) -- Candi Muara Takus bukan hanya sekadar sebuah situs objek wisata yang terletak di Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar. Situs yang berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru ini menjadi warisan bersejarah bagi umat Buddha di Provinsi Riau dalam menjalankan berbagai upacara keagamaan, salah satunya Dharmayatra.

Jelang perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2569 Buddhist Era (BE), ratusan umat Buddha dari seluruh penjuru di Provinsi Riau berkumpul di halaman Candi Muara Takus untuk menjalankan Dharmayatra yang diselenggarakan oleh Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Riau melalui Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) Riau, Ahad (4/5/2025).

Dharmayatra dipimpin Sekretariat Wilayah (Sekwil) Sangha Agung Indonesia Provinsi Riau, YM Bikkhu Pannapadipo Mahathera. Dharmayatra diisi dengan penyalaan lilin panca warna, pradaksina dengan mengelilingi Candi Muara Takus sebanyak tiga kali, aradhana tisarana dan Pancasila, renungan Waisak, pesan Waisak dan Sangha (Dhammadesana).

Dalam pesan Waisak, Sangha Agung mengingatkan tentang perlunya kebersamaan untuk kemajuan. "Hari ini, umat yang datang dari berbagai pelosok daerah di Riau, menandakan rasa kebersamaan masih kuat dan perlu kita jaga," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Riau, Romo Hanlun, mengatakan Dharmayatra merupakan perjalanan ziarah agama yang dilakukan oleh umat Buddha ke tempat-tempat suci dan penting dalam sejarah agama Buddha. Secara harfiah, "dharmayatra" berarti "perjalanan Dharma", dengan Dharma yang merujuk pada ajaran dan hukum Buddha.

Tujuan utama dharmayatra adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keyakinan, dan pengalaman spiritual melalui kunjungan ke tempat-tempat suci.

Makna Dharmayatra berasal dari dua kata yaitu dhamma (Pali) atau dharma (Sanskerta) yang berarti kebenaran, ajaran, dan yatra yang berarti perjalanan, sehingga dharmayatra adalah perjalanan yang berkaitan dengan ajaran dan hukum Buddha.

Dharmayatra dilakukan untuk memperkuat keyakinan dan meningkatkan pemahaman tentang ajaran Buddha. "Dengan adanya Dharmayatra ke tempat-tempat suci khususnya di Candi Muara Takus, diharapkan dapat memberikan pengalaman spiritual bagi umat Buddha," ucapnya.

Selain Dharmayatra, ratusan umat Buddha menjalankan ritual Pradaksina yaitu mengelilingi candi yang merupakan bentuk penghormatan dan penghormatan kepada Buddha.

Pradaksina dilakukan dengan berjalan mengitari candi, biasanya sebanyak tiga kali, searah jarum jam. Selama pradaksina, umat Buddha biasanya membacakan paritta, membaca doa, dan bersikap anjali atau merangkapkan tangan di dada sebagai bentuk penghormatan.

Pradaksina merupakan ritual sakral yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan, terutama selama perayaan. Ritual ini bertujuan untuk menghormati Sang Buddha, mengamalkan ajaran Buddha, dan memohon keberkahan.

"Pradaksina menjadi bagian penting dari ritual keagamaan Buddha dan menjadi momen sakral untuk beribadah dan menghormati Buddha," jelasnya.

Diungkapkan Hanlun lagi, kegiatan Dharmayatra ke Candi Muara Takus dihadiri sekitar 800 umat yang berasal dari Pekanbaru, Kabupaten Rohul, Rohil, Bengkalis, Siak dan daerah lainnya serta turut dihadiri Kapolres Kampar, AKBP Mihardi Mirwan SH SIK MM, perwakilan Majelis Agama Buddha Riau, puluhan Bikkhu dari Sekwil Sangha Agung Indonesia Provinsi Riau, perwakilan, Kecamatan XIII Koto Kampar.

Dharmayatra ke Candi Muara Takus merupakan kegiatan rutin setiap memperingati Tri Suci Waisak dan sudah dilakukan umat Buddha di Provinsi Riau sejak tahun 1992.

Dharmayatra ini wajib dijalankan umat Buddha jelang perayaan Tri Suci Waisak yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yaitu kelahirannya, pencapaiannya dalam mencapai pencerahan, dan kematiannya atau Parinirvana.

Tahun ini, lanjutnya, perayaan Waisak mengambil tema "Semangat Kebersamaan untuk Indonesia Maju" yang merupakan salah satu maksud yang terkandung dalam tema perlunya kekompakan dan kepedulian umat untuk Indonesia maju.

Dikatakannya, perayaan Waisak di Candi Muara Takus sebagai bentuk kebersamaan. "Sila dan dharma yang kami jalanan hendaknya membuat kemajuan untuk diri sendiri maupun Indoneia," tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Romo Hanlun minta dukungan pemerintah dan aparat keamanan agar perjalanan ziarah yang dilakukan umat Buddha ke tempat-tempat suci atau Dharmayatra ke Candi Muara Takus dapat berjalan lancar, termasuk dalam mengembangkan situs cagar budaya Candi Muara Takus.

Pembimas Buddha Kementerian Agama Provinsi Riau, Tarjoko meyambut baik Dharmayatra ke Candi Muara Takus yang merupakan situs sejarah umat Buddha peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

"Kehadiran Candi Muara Takus di Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar menandakan umat Buddha pernah ada di sini. Bahkan Muara Takus termasuk salah satu candi yang tertua di Indonesia," ungkapnya.



Editor : Rinaldi
#dharmayatra #Candi Muara Takus #umat buddha