PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Masyarakat Riau diminta untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang terjadi jelang pergantian tahun baru 2026. Forecaster on Duty Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Bella R memperkirakan wilayah Riau masih berada di musim penghujan, dengan intensitas hujan ringan hingga sedang yang terjadi pada sore hingga malam hari.
Hal ini dikarenakan wilayah Riau yang sedang berada dalam musim hujan serta adanya pola belokan angin atau shareline yang menyebabkan terjadinya penumpukan masa udara basah di Riau. “Kondisi hujan deras disertai petir dan angin kencang juga akan terjadi pada pergantian tahun baru 2026, dimana hujan akan secara merata terjadi di seluruh wilayah Riau,” jelasnya, Selasa (30/12).
“BMKG mengimbau masyarakat waspada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Kondisi tersebut diprakirakan terjadi pada siang, sore, hingga malam hari. Masyarakat juga harus waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir tanah longsor dan pohon tumbang karena angin kencang,” tambahnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau terus meningkatkan koordinasi dengan pihak BPBD Kampar untuk memantau kondisi Sungai Kampar. Hal ini dilakukan setelah pihak Waduk PLTA Koto Panjang mulai membuka pintu waduknya, Selasa (30/12).
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, akibat pembukaan pintu waduk tersebut diinformasikan bahwa debit air Sungai Kampar diprediksi akan naik 20-30 cm. ‘’Kami terus berkoordinasi dengan BPBD Kampar untuk dapat memantau kondisi sungai Kampar pasca pembukaan pintu waduk. Karena mereka yang berada disekitar lokasi,” katanya.
Koordinasi penting dilakukan jika sewaktu-waktu debit air terus mengalami kenaikan. Pihaknya juga meminta BPBD setempat melaporkan secara berkala kondisi terkini. “Kami minta pihak BPBD setempat terus melaporkan kondisi terkini. Jika memerlukan bantuan juga hendaknya segera melapor,” ujarnya.
Manajer PLTA Koto Panjang, Dhani Irwansyah, menjelaskan pintu pelimpahan (spillway gate) dibuka karena Tinggi Muka Air (TMA) waduk atau elevasi aktual telah melampaui elevasi Rencana Tindak Operasi Waduk (RTOW) 2025 sebesar 50 sentimeter (cm) dalam kurun waktu 24 jam.
“Pada 29 Desember 2025 pukul 09.00 WIB, selisih elevasi sudah mencapai 1,5 meter, dengan elevasi aktual 79,20 mdpl. Sementara elevasi RTOW berada di angka 77,70 mdpl,” jelas Dhani. ‘’Selain itu, kondisi operasional PLTA Koto Panjang saat ini hanya memungkinkan pengoperasian dua unit turbin dengan beban 38 MW,’’ tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, dijelakan Dhani kapasitas outflow turbin maksimal hanya mencapai 230 meter kubik per detik (m³/s), lebih rendah dibandingkan saat beroperasi tiga unit yang mampu mengalirkan hingga 348 meter kubik per detik. Artinya, terdapat selisih outflow turbin sebesar 118 meter kubik per detik.
Dhani menambahkan, keputusan early release juga mempertimbangkan curah hujan yang masih tinggi di wilayah hulu waduk, serta potensi peningkatan inflow dalam beberapa hari ke depan yang berpengaruh terhadap kenaikan elevasi waduk.
“Dengan mempertimbangkan peningkatan inflow, elevasi waduk yang terus naik, serta keterbatasan outflow turbin. Tim Koordinasi menyepakati dilakukannya early release melalui pembukaan dua pintu spillway masing-masing 50 sentimeter,” ujarnya.
Dhani menjelaskan, pembukaan dua pintu spillway tersebut menghasilkan tambahan debit air sebesar 134 meter kubik per detik, sehingga total outflow gabungan antara turbin dan spillway mencapai sekitar 364 meter kubik per detik. Debit ini hampir setara dengan kondisi PLTA Koto Panjang saat beroperasi tiga unit dengan beban maksimal.
“Adapun pembaruan data elevasi waduk per Selasa (30/12) pukul 10.00 WIB menunjukkan elevasi aktual berada di angka 79,62 mdpl, dengan outflow turbin sebesar 230,96 meter kubik per detik dan inflow waduk mencapai 596,46 meter kubik per detik,” jelas Dhani.(ayi/sol/kom)
Editor : Arif Oktafian