PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau resmi menetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) per Jumat (13/2). Status ini diberlakukan hingga 30 November 2026 dan ditetapkan berdasarkan hasil rapat bersama instansi terkait.
“SK Penetapan Status Siaga Darurat Karhutla Provinsi Riau sudah diteken oleh Pak Plt (Pelaksana Tugas) Gubernur Riau. Siaga Darurat Karhutla di Riau dimulai 13 Februari hingga 30 November 2026,” ujar Kepala Badan Penanggulangan
Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal, kemarin.
‘’Sebelumnya kami sudah melakukan rapat bersama Forkopimda Riau dan instansi terkait lainnya. Hasilnya, mengingat kondisi saat ini yang curah hujannya sudah menurun dan sudah ditemukan beberapa daerah yang terjadi karhutla, maka diusulkan untuk penetapan status tersebut,” tambahnya.
Setelah penetapan status tersebut, pihaknya juga akan langsung meminta dukungan dari pemerintah pusat untuk penanganan karhutla. “Kami akan segera kirimkan surat ke pemerintah pusat melalui BNPB untuk meminta dukungan helikopter baik water bombing dan patroli. Termasuk juga kegiatan operasi modifikasi cuaca,” sebutnya.
Sempat Muncul 280 Titik Panas
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru sempat menemukan 280 titik panas di Provinsi Riau, Kamis (12/2) pukul 23.00 WIB. Namun, Jumat (13/2) pukul 16.00 WIB, titik panas tersebut hilang. Bahkan, di wilayah Sumatera tersisa 6 titik.
“Sore ini (kemarin, red) kami tidak menemukan adanya sebaran titik panas di Provinsi Riau. Namun untuk wilayah Sumatera titik panas tersebar di Jambi 2, Bangka Belitung 2, Aceh 1, dan Sumatera Barat 1,” ujar Forcester on Duty BMKG Pekanbaru Ranti Kurniati, kemarin.
Sementara itu, untuk visibility, di Kota Pekanbaru masih dalam batas aman yakni berkisar 8 kilometer (km), Rengat 8 km, Pelalawan 8 km, dan Tambang 10 km. Di sisi lain untuk prakirakan cuaca di Provinsi Riau, sejak pagi hari cuaca terpantau didominasi udara kabur cerah berawan.
Berdasarkan pengamatan citra radar cuaca, hujan dengan intensitas ringan terjadi di Siak, Bengkalis, Kampar, dan Kuantan Singingi. Siang hingga sore hari cuaca cerah berawan hujan dengan intensitas ringan diperkirakan terjadi di Siak, Pelalawan, Indragiri Hilir, dan Indragiri Hulu.
Malam hingga dini hari udara kabur berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi hampir di sebagian besar wilayah Riau. Suhu udara Riau berkisar antara 23 derajat Celcius hingga 33 derajat Celcius dengan kelembapan udara 50 persen hingga 98 persen. ‘’Prakiraan tinggi gelombang di Perairan Provinsi Riau berkisar antara 0,5 meter hingga 1,25 meter (rendah),’’ ujarnya.
Sejumlah wilayah Riau sejak pagi hingga dini hari masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Hal ini dapat berpotensi menurunkan jumlah titik panas. ‘’Adanya peningkatan titik panas bukan berarti karhutla karena titik panas merupakan indikator yang mendeteksi lokasi dengan suhu permukaan relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Satelit menangkap anomali panas ini, namun tidak secara langsung membedakan antara api kebakaran atau objek panas lain,” tegasnya.
Di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), kabut asap tipis masih muncul, Jumat (13/2). BMKG sempat mendeteksi, satu titik panas. Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kuansing pun langsung bergerak cepat melakukan pengecekan dan verifikasi. ‘’Setelah diverifikasi tidak ada titik apinya, hanya titik panas,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kuansing H Yulizar melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Koko Mahyudi.
Koko menjelaskan, titik panas yang sempat terpantau itu berada di wilayah Kecamatan Gunung Toar di titik koordinat 0” 35’09.0” S 101” 29’32.8” E. Titik panas ini tertangkap satelit kemungkinan dari aktivitas mesin pabrik yang sedang beroperasi. “Untuk titik api kita nihil. Hanya satu titik yang terpantau,” ujarnya.
Namun BPBD Kuansing tetap menyampaikan imbauan agar masyarakat waspada di tengah perubahan cuaca sekarang ini. Saat ini, mulai terjadi perubahan cuaca dari musim hujan ke panas. Ini ditandai dengan intensitas curah hujan yang jauh turun. “Meski di bulan Februari ini masih ada curah hujan, tetapi intensitasnya sudah rendah atau jarang,” kata Koko.
Karena itu, masyarakat harus waspada dan berhati-hati. Apalagi saat beraktivitas di ladang atau di kebun. Saat berakrivitas di ladang di kebun itu, hindari membakar sampah tumpukan belukar atau lainnya. Memastikan saat meninggalkan area, api dalam keadaan mati. “Ini selalu kita sampaikan. Apalagi ketika perubahan cuaca sekarang ini,” ujar Koko.
Sementara Sekretaris BPBD Kuansing Marel H ST MT menyebutkan, dalam penanggulangan bencana karhutla, Pemkab Kuansing sudah melakukan MoU dengan Pemkab Pelalawan. “Kalau Pelalawan memerlukan bantuan personel dan peralatan, kami siap membantu dan mengirimkan. Begitu juga sebaiknya, kami bisa minta bantuan juga Pelalawan bila dirasa perlu,” ujarnya.
Untuk penanganan dan pencegahan, BPBD Kuansing sudah menyiapkan nomor informasi yang siap 24 jam yang bisa dihubungi masyarakat Kuansing kapan pun di Nomor 08117575755. “Kalau ada terjadi bencana seperti Karhutla, silahkan hubungi kami di nomor ini. Siap 24 jam,” ujarnya.
20 Ha Terbakar di Desa Tumang
Lahan kebun sawit di Desa Tumang, Kecamatan Siak terbakar Jumat (13/2). Luasnya mencapai 20 hektare. Hingga pukul 21.30 WIB, api masih belum berhasil dipadamkan, namun sudah dibuat sekat bakar agar api tidak meluas. “Kendala kami saat ini, sulitnya mendapatkan air. Embung cukup jauh dari lokasi,” kata Kalaksa BPBD Siak Novendra.
Sulitnya medan, karena jauh dari jalan besar, lahan yang di atasnya ada sawit masih kecil, dan bekas disemprot racun rumput membuat upaya pemadaman terkendala sehingga sampai malam ini api belum bisa dipadamkan. “Kami sudah berkoordinasi dengan perusahaan terdekat untuk membantu mobil pemadam dan regu pemadam,” katanya.
100 Ha Lahan Telah Terbakar di Kuala Kampar
Karhutla yang terjadi di dua kecamatan Kecamatan Kuala Kampar dan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan tak kunjung padam. Operasi pemadaman darat telah berlangsung selama hampir dua pekan di Desa Sungai Upih dan Desa Teluk Beringin. Namun api dan asap belum dapat dikuasai oleh petugas hingga Jumat (13/2).
“Ya, titik api belum berhasil dipadamkan tim gabungan. Khususnya di Desa Sungai Upih Kecamatan Kuala Kampar. Bahkan, bunga api yang beterbangan telah membakar lahan ke wilayah Kelurahan Teluk Dalam dan Teluk Beringin,” terang Kalaksa BPBD Pelalawan Zulfan, kemarin.
Dijelaskannya, lahan yang dilalap api sebelumnya hanya semak belukar di Desa Sungai Upih dan Teluk Beringin dalam satu hamparan. Namun, api kemudian menyebar kembali sampai ke Kelurahan Teluk Dalam. Meskipun puluhan personil gabungan telah berupaya memadamkan dan memutus penyebarannya.
“Memang kita akui di lokasi lama, api sudah padam dan tinggal pendinginan. Namun, kondisi cpanas ekstrim dan curuh hujan yang minim, membuat api menyebar lagi ke arah kelurahan. Apalagi lahan yang dilalap api merupakan tanah gambut yang cukup dalam,” ujarnya.
Disinggung luas lahan yang terbakar, Zulfan menyebutkan diperkirakan ratusan hektare. Seperti di Desa Sungai Upih, setidaknya diperkirakan ada 100 hektare lahan yang terbakar. Sedangkan di Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti seluas 19 hektare.
Untuk menanggulangi karhutla ini, pihaknyan telah menyurati Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membantu pemadaman agar dapat maksimal. Salah satunya meminta BNPB melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Pelalawan, khususnya di daerah yang sedang dilanda karhtula.
“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan telah resmi menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla tahun 2026 mulai Rabu (11/2) lalu sampai 30 November mendatang. Dengan penetapan status ini, upaya penanggulangan bencana karhutla bisa lebih optimal dengan melibatkan berbagai instansi pemerintah maupun pihak swasta,” tuturnya.(sol/ayi/mng/amn/ksm/das)
Editor : Bayu Saputra