PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - 17 Februari 2026 menjadi awal masuknya Tahun Kuda Api (Fire Horse) 2557 Kongzili. Dalam kalender Cina terdapat 12 shio yang setiap tahun terus berganti seperti Shio Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi.
Tahun Kuda Api 2026 berlangsung selama satu tahun penuh. Dimulai dari 17 Februari 2026 hingga 5 Februari 2027. Ini adalah siklus 60 tahunan yang melambangkan energi besar, ambisi, dan perubahan signifikan. Tahun ini juga dikenal sebagai periode double fire (api ganda) yang membawa dinamika kuat.
Namun masyarakat Tionghoa percaya, jika setiap tahunnya terdapat ramalan baik dan buruk yang bisa terjadi ditahun baru ini. Hal ini lantaran kalender Lunar Cina memiliki perhitungan yang berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis Matahari (solar).
Prinsip utamanya didasarkan pada peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Kalender ini memiliki 365 hari dalam setahun, atau 366 hari pada tahun kabisat. Setiap bulan memiliki durasi yang tetap, yakni 30 atau 31 hari.
Sementara kalender Lunar Cina adalah kalender Lunisolar, yang artinya perhitungannya menggabungkan pergerakan Bulan mengelilingi Bumi dan posisi Matahari. Setiap tahunnya, kalender ini memiliki 12 bulan, dengan durasi setiap bulan sekitar 29 atau 30 hari. Di tahun tertentu, kalender ini bisa memiliki bulan tambahan (bulan kabisat) untuk menyesuaikan dengan pergerakan Matahari.
Bagi masyarakat Tionghoa, setiap tahun dikaitkan dengan satu dari 12 shio dan lima elemen utama, yaitu kayu, api, tanah, logam, dan air. Tahun 2026 merupakan Tahun Kuda Api, sebuah kombinasi yang hanya terjadi sekali dalam siklus 60 tahun.
Secara filosofis, kuda merepresentasikan kebebasan, energi, dan pergerakan, sedangkan Api melambangkan gairah, kreativitas, dan transformasi. Gabungan keduanya dipandang sebagai simbol semangat maju, munculnya ide-ide baru, serta peluang untuk melakukan perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan.
Meski demikian, energi besar dari kuda api juga diyakini perlu diimbangi dengan pengendalian diri dan kebijaksanaan agar semangat yang menyala tidak berubah menjadi tekanan emosional atau konflik yang tidak perlu.
Sekertaris Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Pusat Peng Suyoto menjelaskan, Tahun Kuda Api membawa energi dinamis, berani, dan cepat berubah. Energi ini dianggap baik untuk melakukan langkah besar, mengambil peluang baru, dan mencapai pertumbuhan karier secara cepat.
Tahun ini juga menjadi tahun yang penuh perjuangan, dan pencapaian seperti kuda yang selalu berusaha berjuang menghadapi semua tentang yang dihadapi ke depannya.
“Tahun ini kita harus bekerja keras dalam mencapai tujuan dan keberhasilan, seperti kuda yang selalu melihat peluang baru dan berjuang demi mendapatkannya,” ucapnya.
Peng Suyoto menjelaskan, sebagaimana perhitungan di setiap tahun, Tahun Kuda Api pada 2026 juga membawa keberuntungan bagi beberapa shio. Keberuntungan ini mencakup kekayaan dan kondisi keuangan.
Shio Macan diprediksi salah satu yang paling bersinar. Energi Fire Horse dinilai selaras dengan sifat macan yang berani dan inisiatif sehingga peluang kenaikan jabatan, proyek besar, atau pengakuan profesional akan lebih mudah datang.
Hal ini membuat macan dapat memimpin perubahan penting di lingkungan kerja atau usaha sendiri. Pada sisi keuangan, keberanian mengambil langkah besar akan membawa hasil yang signifikan, baik itu bonus, profit usaha, atau peluang investasi menguntungkan sepanjang tahun ini.
“Secara perekonomian di Provinsi Riau tahun ini semua lini harus diisi dengan kerja keras dan ketekunan. Jika tanpa kerja keras dan ketekunan maka tidak ada hasil terbaik yang didapat,’’ ujarnya. ‘’Semoga di Tahun Kuda Api ini, semua diberkati kebahagiaan, kesehatan, serta berpartisipasi dalam membangun persatuan bangsa menuju Indonesia emas,” katanya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau Lindawati mengatakan, perayaan Imlek bersama ini menjadi momentum tahunan yang mempererat persaudaraan antarorganisasi Tionghoa di Pekanbaru.
Namun tahun ini panitia tidak melaksanakan kegiatan detik-detik perayaan Imlek di kawasan kampung Tdan hanya menyalahkan sebanyak 888 lampion yang dalam aksara mandarin, huruf 8 (fa) memiliki pelafasan yang mirip dengan arti dari keberuntungan, seperti kalimat yang sering diucapkan pada Tahun Baru Imlek yaitu gong xi fa cai. Ini bermakna semoga kita dianugerahi berkah, termasuk rezeki yang lancar.
“Ini merupakan hasil kesepakatan bersama berbagai organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, serta unsur pendidikan Tionghoa di Pekanbaru. Kegiatan Imlek bersama ini merupakan agenda tahunan yang melibatkan banyak organisasi. Tahun ini kita sepakat melaksanakannya pada, Ahad (22/7) di Hotel Furaya,” katanya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI) Riau Ket Tjing menambahkan, kegiatan satu hari menjelang pergantian tahun baru bagi warga Tionghoa yang masih mengikuti tradisi budaya adalah melaksanakan sembahyang kepada para leluhur atau orang tua yang telah wafat di altar rumah masing-masing.
‘’Sesuai pepatah Tionghoa, ketika minum air ingatlah sumbernya. Maksudnya kita ada di dunia ini karena adanya budi orang tua dan leluhur kita,’’ jelasnya.
Masyarakat Tionghoa menganggap hari pertama di Tahun Baru Imlek merupakan awal mulanya nasib dan keberuntungan pada tahun yang bersangkutan sehingga banyak sekali larangan dan pantangan dalam merayakan Tahun Baru Imlek.
“Sebenarnya untuk semua larangan atau pantangan ini boleh dipercaya boleh tidak, tergantung pada pribadi masing-masing. Tapi sebagian masih dipercayai masyarakat Tionghoa pada umumnya, namun sebagian lagi sudah tidak terlalu ditaati karena perkembangan zaman dan era globalisasi terutama bagi generasi muda, seperti berpakaian warna hitam dan putih dan potong kuku,” terangnya.
“Semua makanan dan minuman ini umumnya banyak disajikan ditahun baru yang melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi umat Tionghoa yang merayakannya,” tambahnya.
Harmoni Kuda Api dan Semarak Festival Perang Air
Tahun Baru Imlek 2577 disambut penuh suka cita oleh masyarakat Tionghoa di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Perayaan kali ini tidak hanya sarat makna spiritual, tetapi juga menghadirkan semangat optimisme, dinamika, serta keharmonisan dalam keberagaman.
Sejak beberapa hari terakhir, suasana Kota Selatpanjang mulai berubah. Lampion merah menghiasi ruas-ruas jalan utama, ornamen khas Imlek terpasang di pertokoan, dan aktivitas warga di kelenteng meningkat.
Tokoh masyarakat Tionghoa Selatpanjang, Tjuan An menyebutkan Imlek bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum refleksi dan doa untuk kehidupan yang lebih baik. “Imlek adalah saat berkumpul keluarga, menghormati leluhur, dan memanjatkan harapan,” ujarnya, Senin (16/2).
Perayaan Imlek di Selatpanjang tak hanya berdampak secara budaya, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi. Pedagang lampion, pernak-pernik Imlek, hingga pelaku usaha kuliner merasakan peningkatan omzet.
Salah seorang pedagang kue keranjang di Pasar Selatpanjang, Yuliana, mengaku bahwa memasuki rangkaian perayaan terjadi meningkat dibanding hari biasa. “Seminggu terakhir pesanan naik. Bukan hanya warga Tionghoa, masyarakat lain juga membeli untuk ikut merasakan suasana Imlek,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Rudi, pemilik toko dekorasi. Ia mengatakan penjualan lampion dan ornamen merah mengalami lonjakan signifikan menjelang puncak perayaan. Tak hanya itu, perayaan Imlek di Selatpanjang juga identik dengan Festival Perang Air yang menjadi daya tarik wisata. Tradisi unik ini digelar beberapa hari setelah Imlek dan selalu menyedot perhatian wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Ketua Panitia Festival Perang Air, Rahmat Santoso, mengatakan tahun ini rangkaian kegiatan lebih semarak dengan tambahan Meranti Night Carnival dan bazar UMKM.
“Perang Air bukan sekadar hiburan. Ini simbol kerukunan umat bergama. Tidak hanya warga tionghoa, kegiatan ini diikuti seluruh warga dengan latar belakang budaya yang berbeda melebur menjadi satu. Kami juga siapkan panggung hiburan dan stan kuliner agar ekonomi masyarakat ikut bergerak,” jelasnya.
Imlek dan Toleransi
Di Selatpanjang, Imlek telah lama menjadi perayaan bersama. Warga dari berbagai latar belakang turut membantu pengamanan, pemasangan dekorasi, hingga menjaga ketertiban selama festival berlangsung.
Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti AKBP Purnawiraran H Asmar memastikan pihaknya bersama, Polri, TNI dan pemerintah daerah memberikan dukungan pengamanan maksimal. “Kami siagakan personel untuk memastikan ibadah dan festival berjalan aman. Ini momentum kebersamaan yang harus dijaga,” katanya.
Di Rokan Hilir, serangkaian acara dipersiapkan. Ketua panitia Imlek, Jasman menyebutkan penyambutan pergantian tahun baru Imlek dipusatkan di lingkungan Klenteng Ing Hok King yang bersebelahan dengan sekretariat Yayasan Multi Marga Indonesia (YMTI), Bagansiapiapi.
Pada 2 Maret panitia mengagendakan kegiatan malam kesenian yang dipusatkan di samping IP Plaza Bagansiapiapi. Seperti biasanya pula terang Jasman untuk malam hiburan akan diramaikan dengan penampilan artis dan pemberian door prize.
Seterusnya diagendakan kemeriahan berupa pawai lampion Cap Go Meh 2557 yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Maret malam. “Sejauh ini terdapat sekitar 20-an peserta lampion yang akan ambil bagian, dari perwakilan klenteng-klenteng di Bagansiapiapi, dari sekolah-sekolah swasta yang ikut berpartisipasi,” katanya.(ayi/wir/fad/das)
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian