Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Festival Perang Air 2026 Resmi Ditutup

Tim Redaksi • Senin, 23 Februari 2026 | 11:11 WIB

 Penyerahan Piagam KEN Festival Perang Air 2026 Selatpanjang dari Deputi Kemenparekraf Vinsensius Jemadu kepada Bupati Kepulauan Meranti Asmar yang didampingi Wakil Bupati Muzamil Baharuddin.
Penyerahan Piagam KEN Festival Perang Air 2026 Selatpanjang dari Deputi Kemenparekraf Vinsensius Jemadu kepada Bupati Kepulauan Meranti Asmar yang didampingi Wakil Bupati Muzamil Baharuddin.

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Jalan-jalan utama di Selatpanjang, Kepulauan Meranti masih menjadi area permainan lautan manusia dan percik air, Sabtu (21/2) lalu. Hampir sepekan penuh gelak tawa dan siraman air yang menyegarkan, Festival Perang Air 2026 resmi ditutup dalam sebuah seremoni meriah yang menyatukan ribuan warga di jantung kota. 

Penutupan festival budaya yang telah masuk kalender nasional tersebut berlangsung tak kalah megah dibanding pembukaannya. Titik kegiatan tetap dipusatkan di Jalan Ahmad Yani, yang sejak awal menjadi episentrum kemeriahan.

Jika pada pembukaan hadir jenderal bintang satu dan dua dari jajaran Polda Riau yakni Irjen Pol Herry Heryawan dan Brigjen Pol Hengky Haryadi, maka pada penutupan kali ini hadir jenderal bintang tiga, Komjen Pol Makhruzi Rahman, yang menjabat Sekretaris Utama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI.

Kehadiran pejabat tinggi negara itu menjadi penegasan bahwa Festival Perang Air telah berkembang jauh melampaui batas tradisi lokal. Festival ini kini dipandang sebagai kegiatan strategis di kawasan perbatasan yang memiliki daya tarik dan pengaruh di tingkat nasional.

Turut hadir Deputi Bidang Produksi Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vinsensius Jemadu, yang menyampaikan apresiasi atas konsistensi pemerintah daerah dalam merawat tradisi sekaligus mengangkatnya menjadi produk wisata unggulan.

Hadir pula Kelompok Ahli BNPP RI Irjen Pol (Purn) Hamidin dan Nur Kholis, perwakilan Konsulat Indonesia di Johor Bahru, serta jajaran Karo Ops dan Dirlantas Polda Riau.

Dari unsur pemerintah daerah tampak Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H Asmar bersama Wakil Bupati Muzamil Baharuddin, Ketua DPRD Khalid Ali, Kapolres AKBP Aldi Alfa Faroqi, pimpinan OPD, tokoh adat, tokoh agama, organisasi kepemudaan, hingga perwakilan masyarakat Tionghoa yang selama ini menjadi bagian penting dalam sejarah Festival Perang Air.

Di hadapan ribuan warga yang memadati lokasi, suasana terasa hangat dan penuh kebersamaan. Penutupan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan refleksi atas keberhasilan menjaga harmoni sosial di wilayah perbatasan. Selama sepekan, air menjadi simbol persaudaraan yang menyatukan perbedaan dalam tawa dan kebahagiaan.

Festival Perang Air 2026 kembali menunjukkan dirinya sebagai panggung budaya lintas generasi dan lintas etnis. Dari anak-anak hingga orang tua, dari warga lokal hingga wisatawan mancanegara, semua menyatu dalam suasana kegembiraan yang lepas dari sekat sosial maupun latar belakang budaya.

Di balik kemeriahan tersebut, tersirat pesan kuat tentang Kepulauan Meranti sebagai daerah perbatasan yang bukan hanya strategis secara geografis, tetapi juga kaya akan nilai budaya. Tradisi Festival Perang Air menegaskan bahwa identitas lokal mampu tampil percaya diri dan berdiri sejajar di panggung nasional.

Pesan yang tertinggal jelas, yakni rangkaian resmi mungkin telah berakhir, tetapi semangat kebersamaan yang lahir dari festival ini akan terus mengalir, sebagaimana air yang sempat membasahi kota kecil di tepian Selat Melaka itu.

Sekretaris Utama BNPP RI Komjen Pol Makhruzi Rahman berdiri di hadapan masyarakat dengan raut kagum. Di penghujung Festival Perang Air 2026, ia menyaksikan langsung bagaimana kota di beranda terdepan NKRI itu menjelma menjadi pusat kegembiraan yang luar biasa.

Ia menyebut Selatpanjang memiliki posisi penting karena berbatasan langsung dengan Malaysia dan berada di jalur strategis Selat Melaka. Momentum perayaan yang beriringan dengan bulan suci Ramadan dan Imlek, menurutnya menjadi gambaran nyata harmoni Indonesia.

Makhruzi menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan seluruh pihak yang terlibat. Keberhasilan menghadirkan ribuan orang dalam suasana aman dan damai dinilainya sebagai bukti bahwa Meranti adalah wilayah perbatasan yang tertib dan ramah.

Ia juga mengajak masyarakat menengok kembali akar tradisi Perang Air. Baginya, kegiatan tersebut bukan sekadar saling menyiram, melainkan wujud akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu yang tumbuh dari tradisi keluarga saat Imlek, lalu berkembang menjadi ikon wisata nasional.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan tiga pesan utama yakni perbatasan sebagai simbol harmoni, penguatan ekonomi daerah melalui UMKM dan komoditas sagu, serta peningkatan konektivitas dan pelayanan publik. BNPP, katanya, berkomitmen mendorong pembangunan infrastruktur perbatasan, termasuk rencana bandara perintis dan Pos Lintas Batas Regional menuju PLBN.

Tepuk tangan panjang mengiringi pesan tersebut, sebuah pengakuan bahwa di tepi Selat Melaka, tradisi sederhana telah menjelma menjadi simbol harmoni, kekuatan ekonomi, dan kebanggaan Indonesia.

Sementara itu, Deputi Kemenparekraf Vinsensius Jemadu menilai kehadiran pejabat tinggi negara menjadi sinyal kuat bahwa Perang Air telah naik kelas. Ia menegaskan festival ini berhasil menembus kurasi nasional dan masuk dalam 125 Karisma Event Nusantara (KEN), hasil seleksi kurator independen profesional.

Menurutnya, capaian tersebut patut dibanggakan, namun tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi standar penyelenggaraan agar dampak ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan benar-benar dirasakan masyarakat.

Ia memaparkan, dari 110 event KEN yang digelar secara nasional tahun sebelumnya, tercatat 13,3 juta pengunjung dengan dampak ekonomi langsung Rp17,1 triliun dan tidak langsung Rp20,23 triliun. Angka itu menunjukkan bahwa kegiatan bukan sekadar pesta rakyat, melainkan instrumen penggerak ekonomi daerah.

Di akhir sambutannya, ia berharap Festival Perang Air ke depan tidak hanya bertahan, tetapi mampu meningkat menjadi event bertaraf internasional, memanfaatkan posisi strategis wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Sementara itu, Bupati Asmar menyampaikan terima kasih kepada panitia, relawan, aparat keamanan, dan seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi aktif menyukseskan kegiatan tersebut. Ia berharap semangat persatuan yang tercermin dalam festival terus terjaga. Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan kota melalui kerja bakti setelah kegiatan berakhir agar Selatpanjang tetap bersih dan asri.

Penutupan Disemarakkan Night Carnival 2026

Rangkaian perayaan dilanjutkan dengan Night Carnival 2026 di Taman Cik Puan, Sabtu (22/2) malam. Ribuan warga dan wisatawan kembali memadati lokasi untuk menyaksikan parade dan hiburan. Bupati H Asmar, menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Ia menilai Night Carnival 2026 tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memberi dampak positif bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat. “Atas nama pribadi dan PemkabKepulauan Meranti, kami mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya Night Carnival tahun 2026 ini,” ujarnya.

Lebih jauh dijelaskan Bupati, pada momentum Tahun Baru Imlek 2026, total pergerakan penumpang tercatat mencapai 20.475 orang atau meningkat sekitar 1,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara pada periode H-7 hingga hari H, jumlah kunjungan kapal tercatat sebanyak 352 kunjungan.

Lonjakan tertinggi terjadi pada H-2 atau 15 Februari dengan total penumpang 4.076 orang, meningkat 30,52 persen dibandingkan tahun lalu. “Peningkatan mobilitas masyarakat tersebut sejalan dengan rangkaian perayaan Imlek dan Festival Perang Air,” kata Asmar. 

Tingginya kunjungan wisatawan berdampak langsung pada peningkatan aktivitas sektor penginapan, transportasi, kuliner, serta pelaku UMKM. “Kami dari unsur pemerintah berharap momentum ini dapat terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai bagian dari strategi penguatan pariwisata daerah berbasis budaya dan kearifan lokal,” harap Asmar.

Perang Air Night Carnival 2026 tersebut turut dihadiri Sekretaris Utama BNPP, Komjen Pol. Makhruzi Rahman, Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Event Kemenparekraf, Drs Vinsensius Jemadu, Kelompok Ahli BNPP Irjen Pol Drs H Hamidin, dan Nur Kholis, serta unsur forkopimda.(adv/wir)

Editor : Arif Oktafian
#festival perang air #kepulauan meranti #area permainan #jantung kota #lautan manusia