
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Berbagai kabar, dugaan, dan “teori konspirasi” merebak begitu sebagian besar listrik di Sumatera padam, Jumat (22/5) pekan lalu. Ada, misalnya, yang mengaitkan dengan baru saja diterimanya tawaran Amerika Serikat menjadikan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai bengkel pesawat militer.
Ada yang mengaku seperti mendengar suara pesawat atau helikopter terbang rendah sebelum listrik padam di Medan, Sumatera Utara. Ada pula yang mengaitkannya dengan upaya penyeludupan obat-obat terlarang.
Senin (25/5), Bareskrim Polri bersama tim gabungan dan PT PLN (Persero) memastikan bahwa insiden yang menyebabkan listrik di mayoritas Sumatera byarpet sampai Ahad (24/5) sore itu murni diakibatkan gangguan teknis kelistrikan dan cuaca ekstrem.
Baca Juga: PLN Minta Maaf atas Gangguan Kelistrikan Sumatera, Pemulihan Dilakukan Bertahap
“Bukan karena sabotase,” kata Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin dalam taklimat media di Mabes Polri, Jakarta.
Nunung menyebut kalau kepastian tersebut didapat setelah tim gabungan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Ahad (24/5). Penelusuran difokuskan pada Tower 175 dan Tower 176 jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi (SUTET) 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumpeh yang berlokasi di Desa Temino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.
“Dari hasil identifikasi di lapangan, kondisi fisik struktur tower secara umum masih dalam keadaan baik. Namun, tim menemukan adanya kabel transmisi yang mengalami putus. Gangguan inilah yang diduga memicu ketidakstabilan frekuensi dan tegangan listrik yang selanjutnya memicu matinya pembangkit secara berantai,” ungkapnya.
Nunung juga membeberkan bukti fisik berupa bentuk patahan pada kabel yang putus. Itu, tuturnya, merupakan indikator kuat bahwa kerusakan terjadi secara alami.
“Kenapa kami bisa pastikan? Karena kerusakan atau putusnya kabel ini potongannya tidak rapi, melainkan berbentuk serabut. Kalau itu sabotase (dipotong), pasti potongan-potongannya lebih rapi,” katanya.
Dalam Penyelidikan
Hipotesis itu, lanjut Nunung, turut dikuatkan keterangan warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Tiga orang saksi, masing-masing Sabridal selaku ketua RT setempat serta Narto Wijoyo dan Eka Dedi Setyawan sebagai warga sekitar lokasi, mengonfirmasi kepada penyidik bahwa mereka sempat mendengar suara ledakan keras dari arah SUTET yang langsung disusul dengan padamnya listrik di area tersebut,” paparnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




