Rasa sedih dan kesal yang sangat dirasakan oleh Mak Ijah. Sepulang dari pasar, ia tak menemukan cabai merah yang dibelinya di dalam tas belanjaan. Dan itu baru ia ketahui setelah sampai di rumah.
Kekesalannya semakin dalam karena harga cabai merah saat ini yang tinggi.
”Alamaaaak…!!!! Cabaiku mana, ya? Kok tak ada dalam tas belanjaan? Mana harganya sekarang selangit hilang pula lagi,” ucap Mak Ijah.
Ia pun meminta anaknya menemaninya kembali ke pasar. Berharap bisa menemukan kembali cabai miliknya.
Mak Ijah pun mendatangi kembali kios penjual cabai dan menanyakan keberadaan cabai merah yang dibelinya. Namun sang pedagang mengatakan jika cabai yang dibeli itu sudah dibawa oleh Mak Ijak dan tidak ada barang pembeli yang ketinggalan di tempatnya.
”Sudahlah, kita beli saja lagi Mak. Walaupun cuma Rp10 ribu tapi setidaknya bisa buat masak di rumah,” ucap sang anak.
Mak Ijah pun tak mengeluarkan kata-kata lagi. Ia hanya terlihat semakin murung.
Ketika sampai di parkiran, terdengar suara anak laki-laki mendatangi Mak Ijah sembari memberikan cabai milik Mak Ijah. Ternyata cabai itu jatuh di area parkiran pasar.
”Ibu, ini cabainya jatuh tadi. Saya nyariin ibu tapi nggak jumpa. Untung masih ketemu di sini,” ucap anak laki-laki itu.
Mendengar itu, wajah Mak Ijah langsung sumringah dan bahagia.
”Terima kasih ya, Nak. Sudah mau simpan cabai ibu. Sekarang cabai mahal, sudah sama seperti harga daging. Jadi kalau hilang rasanya sedih sekali,” ucap Mak Ijah tersenyum.(ayi)
Editor : Arif Oktafian