Sejak beberapa bulan lalu, Rudi dan Ari bersama beberapa rekannya merantau ke Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), tepatnya di Kecamatan Rengat Barat, Kelurahan Pematang Reba. Mereka merupakan tamatan SMA yang berasal dari provinsi tetangga.
Mereka ingin mencari pekerjaan di daerah itu. Karena sebelumnya, ada rekan mereka yang duluan datang ke Kabupaten Inhu sudah mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Namun mereka belum memiliki pekerjaan tetap dan terpaksa menumpang di kontrakan rekannya yang sudah bekerja tersebut. Bahkan, makan minum lebih banyak ditanggung oleh rekannya.
Agar tidak terlalu memberatkan rekannya, mereka berkerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hanya saja, kadang lebih banyak nganggur dari pada bekerja.
Salah satu pekerjaan yang dilakukan di antara mereka yakni sebagai manusia perak. Untuk menjadi manusia perak, seluruh anggota tubuh dilumuri cat berwarna perak lalu berkeliling meminta uang ke orang-orang.
Salah satu tempat manusia perak beraksi adalah di pasar malam di Kelurahan Pematang Reba yang diadakan setiap sepekan sekali.
Ari termasuk yang memutuskan mencari uang dengan cara menjadi manusia perak.
Suatu malam, Ari mendatangi pasar malam. Di sana ternyata dan Rudi dan rekan-rekannya yang lain. Teman-teman Ari tidak tahu kalau Ari menjadi manusia perak. Dan saat itu, Ari pun tak mengenali temannya karena situasi yang agak gelap.
Si manusia perak pun mendapatkan uang recehan dari Rudi dan teman-temannya.
Saat pulang ke rumah kontrakan, Rudi melihat Ari sedang membersihkan tubuhnya dengan deterjen pembersih piring. Rudi yang curiga pun langsung menanyakan ke Ari apakah Ari menjadi manusia perak.
Ari mengganggukkan kepalanya.
”Alamaaaak….!!! Ternyata uang tadi kami kasih ke kamu ya,” ucap Rudi sambil geleng-geleng kepala.
”Untung kami punya uang receh dari gajian atas kerja bangunan kemarin,” sebutnya.(kas)
Editor : Arif Oktafian