Ilham terburu-buru berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat tarawih.
Sarung pun diletakkan di bahu agar lebih mudah saat berwuduk.
Saat tiba di masjid, azan berkumandang. Ilham langsung berwuduk.
Usai berwuduk, bukan main kagetnya Ilham, ternyata sarung yang dibdibawanya adalah milik putranya. Jelas ukurannya lebih kecil.
”Alamaaak…!!! Inilah risiko kalau terburu-buru,” batin Ilham.
Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba putranya muncul dan menyerahkan sarungnya yang tertinggal di rumah. Lalu Ilham pun menyerahkan sarung kecil itu kepada putranya.
”Ibu tadi yang menitipkan sarung ini,” terang putra Ilham.
”Iya, ayah terburu-buru tadi,” jawab Ilham.
Usai tarawih, Ilham nongkrong dengan teman temannya di warung kopi, lalu menceritakan pengamannya terbawa sarung putranya.
Ramzi dan Ono paling kuat tertawa, seolah dibuat-buat hanya sekadar menyenangkan Ilham biar terlihat lucu.
Kelakuan Ramzi dan Ono itu kiranya membuat suasana menjadi gembira, atas kepolosan Ilham menceritakan salah membawa kain sarung.(mng)
Editor : Arif Oktafian