Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pulau Bengkalis Dikepung Banjir Pasang

Tim Redaksi • Senin, 18 November 2024 | 09:34 WIB
Kondisi air pasang laut merendam permukiman warga di Dusun Kebun Kapas, Kelurahan Rimba Sekampung, Kecamatan Bengkalis, Ahad (17/11/2024).
Kondisi air pasang laut merendam permukiman warga di Dusun Kebun Kapas, Kelurahan Rimba Sekampung, Kecamatan Bengkalis, Ahad (17/11/2024).

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Dalam tiga hari ini, pulau Bengkalis diterjang banjir air pasang laut. Fenomena yang sering dikenal di kalangan masyarakat sebagai air pasang keling. Jalanan pun jadi terputus akibat direndam banjir.

Pantauan di lapangan selama dua hari terakhir, air pasang tahun ini merupakan siklus lima tahunan. Terjadi di wilayah pesisir Riau, khususnya daerah pulau Bengkalis, Rupat dan juga di pesisir Kecamatan Siak Kecil dan Bukit Batu, Bengkalis.

Di Kota Bengkalis, ribuan rumah warga terendam air pasang laut. Ditambah sejak pagi sampai menjelang siang (Ahad, red) Pulau Bengkalis diguyur hujan deras. Akibatnya kedua air yang bertemu dalam kondisi naik, membuat rumah warga yang terendam air semakin dalam.

Bahkan sejumlah pedagang di Pasar Terubuk Bengkalis mengungsi jualan ke pinggir jalan masuk pasar. Pasalnya, tempat dagangan mereka khusunya tempat penjualan ikan segar bagian lapal mereka terendam banjir.

“Ya, pindah ke jalan jualannya. Karena bagian belakang pasar ikan terendam banjir,” ujar Ali, salah seorang pedagang ikan di Pasar Terubuk Bengkalis.

Air pasang yang cukup dalam terjadi mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 11.30 WIB. Akibatnya, jalan penghubung antar desa dan kecamatan terputus

Seperti di jalan lintas Selatbaru-Bantan Tengah, Kecamatan Bantan, tepatnya sebelum jembatan Sungai liong. Hampir 1 km jalan terendam air masin pasang laut. Demikian juga di jalan lintas Pambang menuju ke Desa Pematang Duku, tepatnya di Parit Bengkok Desa Pematang Duku Timur yang menjadi langganan banjir setiap pasang besar. Ini mengakibatkan jalan terputus dan masyarakat terkendala dan harus menunggu lama untuk melintasi jalan tersebut.

Sementara itu, air yang merendam paling parah menimpa Jalan Lingas Desa Kelemantan menuju Desa Sekudi, Kecamatan Bengkalis. Kondisi jalan yang rusak parah ditambah lagi terendam banjir yang cukup dalam membuat masyarakat yang akan bepergian ke Kota Bengkalis harus menunggu cukup lama.

“Ya, banjir ini sudah lazim dan sekarang pasang keling naik lagi. Makanya jalan sepanjang 500 meter terendam banjir cukup dalam,” ujar Anto, salah seorang warga Desa Kelemantan.

Sedangkan di wilayah barat, tepatnya jalan lintas Desa Pangkalan Batang menuju ke Desa Simpang Ayam Kecamatan Bengkalis, juga terjadi hal yang sama. Jalan sepanjang 300 meter putus, karena terendam air pasang laut.

Kondisi banjir yang merendam rumah warga dialami ratusan rumah di Dusun Kebun Kapas Kelurahan Rimba Sekampung dan juga di Dusun Parit Bangkong, Kelurahan Kelapapati Laut, Kecamatan Bengkalis. Termasuk perumahan warga di Desa Pangkalan Bantang juga terendam banjir.

Kondisi banjir ini dimanfaatkan anak-anak setempat untuk bermain air. Masyarakat di dusun Kebun Kapas menyelamatkan kendaraan bermotornya dengan memarkirkan di tempat yang tinggi di pinggir jalan maupun gang masuk ke pemukimannya.

“Ya, dalam tiga hari ini kondisi air pasang cukup tinggi naik dan sempat masuk ke rumah warga. Karena kondisi ini tidak ada penahan air laut agar tidak masuk ke perkampungan masyarakat,” ujar Rustam, Ketua RT Dusun Kebun Kapas.

Ia menyebutkan, untuk kondisi banjir air pasang ini pihaknya sudah menyampaikan kepada Pemerintah Provinsi untuk meninggikan jalan yang menuju ke pemukiman masyarakat, tapi belum ditanggapi.

“Katanya jalannya masih layak. Padahal bukan jalan layak atau tak layak. Tapi kami minta jalannya ditinggikan dari drainasenya,” ujarnya.

Rustam menyebutkan, untuk mengatasi persoalan banjir air laut ini, salah satunya adalah membuat tanggul di bagian laut, dengan tinggi dua meter dan lebar tiga meter. Nantinya daerah ini bisa menjadi objek wisata bagi masyarakat.

“Juga diperlukan pintu klip yang bisa mengontrol air masuk dan keluar. Makanya diperlukan tata kota dan penggelolaan sistem pembuangan air dan masuk ke pemukiman,” harapnya.

Sementara itu, terkait pasang air laut yang merendam jalan lintas desa di Desa Kelemantan, salah seorang warga bernama Roni mengharapkan agar Pemkab Bengkalis segera merampungkan pembangunan jalan di daerahnya. Karena dengan kondisi jalan yang masih tanah dan rendah, sangat mudah terendam banjir.

“Kami minta agar pembangunan jalan disegerakan oleh Pemkab Bengkalis. Karena kondisi jalan rusak yang sangat parah itu terjadi antara Desa Kelemantan sampai menuju Desa Sekudi,” ujarnya.

Ratusan Rumah dan Jalan di Rohul Terendam

Tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) sejak Sabtu (16/11) malam hingga Ahad (17/11) petang, mengakibatkan peningkatan volume debit air Sungai Batang Lubuh. Sehingga air meluap ke rumah penduduk dan sejumlah titik ruas jalan provinsi di Desa Rambah, Kecamatan Rambah Hilir.

Informasi yang dirangkum Riau Pos di lapangan, meluapnya air sungai Batang Lubuh mengakibat terendamnya ratusan rumah penduduk di Desa Rambah, Ahad (17/11) petang. Banjir pun sempat membuat kemacetan lalu lintas di jalan provinsi Rohul.

Akibatnya, antrean panjang kendaraan terjadi dari arah Pasirpengaraian menuju Dalu-dalu, Kecamatan Tambusai dan Simpang Kumu menuju Kota Tengah, Kecamatan Kepenuhan. Kendaraan terpaksa berjalan lambat mengingat banjir mencapai ketinggian air sekitar 30 sentimeter hingga selutut orang dewasa.

Banjir yang merendam ratusan rumah penduduk sejak Ahad (17/11) siang membuat warga mengungsi ke rumah tetangga yang tidak terkena luapan air sungai Batang lubuh. Warga menyelamatkan barang berharga dengan membawanya ke tempat yang lebih tinggi.

Mengingat kondisi luapan air Sungai Batang Lubuh itu hanya singgah lalu, pada pukul 18.55 WIB banjir sudah surut di badan jalan dan arus lalu lintas kembali normal.

Kalaksa BPBD Rohul Ridarmanto melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Rohul Boy Arta menjelaskan, banjir yang merendam sejumlah titik ruas jalan provinsi di Desa Rambah, Kecamatan Rambah Hilir, masih bisa dilewati kendaraan bermotor dengan kecepatan lambat.

‘’Saat banjir merendam rumah penduduk dan ruas jalan provinsi, Tim Reaksi Cepat (TRC) dan personel BPBD Rohu langsung turun membantu evakuasi warga. Lalu menyalurkan logistik untuk dapur umum yang didirikan oleh masyarakat bersama pemerintah Desa Rambah berupa beras, sarderm, kornet, gula, air mineral gelas dan lainnya, tuturnya, Ahad (17/11).

Dari pendataan yang dilakukan, terdapat 140 kepala keluarga rumahnya terendam banjir dengan ketinggian 30-90 centimeter. Terutama yang berada di tepi Sungai Batang Lubuh Pasirpengaraian.

Mengingat tingginya curah hujan yang terjadi, Boy mengimbau kepada masyarakat di 16 kecamatan se Rohul terutama yang bermukim dekat dengan daerah aliran sungai besar seperti Batang Lubuh, Rokan dan Sungai Batang Sosa untuk tetap selalu waspada. Karena daerah tersebut berpotensi terjadi bencana banjir.

Puncak Hujan di November-Desember

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Riau memperkirakan musim hujan di Provinsi Riau akan berlangsung pada November -Desember mendatang. Mereka pun mengimbau agar masyarakat selalu waspada lantaran musim hujan ini disebabkan oleh salah satu fenomena La Nina. Kondisi ini dapat meningkatkan curah hujan bulanan hingga 40 persen.

La Nina sendiri merupakan kebalikan dari El Nino. Yaitu fenomena anomali iklim global yang ditandai dengan suhu permukaan laut (SPL) di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis yang lebih rendah dari rata-rata. Fenomena ini biasanya diikuti oleh perubahan pola sirkulasi walker (sirkulasi atmosfer timur-barat di sekitar ekuator) di lapisan atmosfer yang memengaruhi pola iklim dan cuaca global.

La Nina umumnya terjadi dalam siklus 3-7 tahun. Selama periode ini, suhu laut di wilayah timur Pasifik (dekat Amerika Selatan) menjadi lebih dingin, sedangkan wilayah barat Pasifik (Indonesia) menjadi lebih hangat dari biasanya. Makanya, proses penguapan dan pembentukan awan hujan di Indonesia meningkat, yang berpotensi menaikkan curah hujan di wilayah Indonesia.

Itu sebabnya BMKG Pekanbaru mengimbau kepada masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya saat ini Provinsi Riau sudah memasuki musim hujan dengan puncaknya diperkirakan akan berlangsung pada bulan November hingga Desember 2024 ini.

Selain itu, berdasarkan data yang dimiliki oleh BMKG, cuaca di Provinsi Riau pada pagi hari udara kabur–berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang namun tidak merata diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Siak, Kota Dumai, Bengkalis, Siak, Pelalawan, dan Kepulauan Meranti.

“Pada siang hingga sore hari, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang namun tidak merata. Diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Dumai, Bengkalis, Pelalawan, Indragiri Hulu dan Kota Pekanbaru,” katanya.

Kemudian, pada malam sampai dini hari, cuaca kembali berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi dan Kota Pekanbaru.

Masyarakat pun diminta waspada terhadap hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Dperkirakan akan terjadi di sebagian wilayah Bengkalis, Kepulauan Meranti, Pelalawan, Kampar, Indragiri Hulu dan Kota Dumai pada siang atau sore dan malam hari.

“Kepada masyarakat kami imbau untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi. Jangan lupa membawa jas atau mantel hujan dan payung. Serta membersihkan selokan biar lancar airnya dan dapat meminimalisir terjadinya banjir,”katanya.(ksm/epp/ayi)

Editor : Rindra Yasin
#air pasang laut #pulau bengkalis #pasang keling #banjir