BENGKALIS (RIAUPOS.CO)- Pemerintah Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, melalui keterlibatan aktif masyarakat dan dukungan program konservasi, telah sukses menurunkan laju kerusakan hutan mangrove hingga 96 persen, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.
Sedangkan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang melaksanakan program di Desa Teluk Pambang menyampaikan, laju degradasi mangrove yang sebelumnya mencapai rata-rata 27 hektare per tahun pada periode 2016–2021, kini menyusut drastis menjadi hanya 1 Ha per tahun sepanjang 2022-2024.
“Mangrove hasil rehabilitasi memerlukan waktu sekitar 40 tahun, untuk kembali menyimpan karbon seperti semula atau bahkan bisa jadi tidak tercapai. Oleh karena itu, perlindungan mangrove yang masih ada saat ini adalah langkah mitigasi paling strategis,” ujar Senior Manager Ketahanan Kawasan Pesisir YKAN Mariski Nirwan di Bengkalis, Selasa (15/4).
Ia menyebutkan, program yang dilaksanakan di Desa Teluk Pambang dengan mengusung pendekatan Nature-based Solutions (NbS), yang menempatkan perlindungan mangrove sebagai strategi utama mitigasi perubahan iklim.
“NbS ini menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga ekosistem pesisir,” jelasnya.
Dikatakannya, di Desa Teluk Pambang semangat konservasi tumbuh pesat dengan jumlah warga yang aktif dalam pengelolaan mangrove meningkat dari hanya 5 orang menjadi 170 orang. Mereka tergabung dalam Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan secara rutin melakukan patroli serta pengawasan kawasan mangrove desa dan sekitarnya.(ksm)
Editor : Arif Oktafian