Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Harga Cabai di Bengkalis Masih Tinggi, Petani Lokal Tak Mau Tanam Cabai

Abu Kasim • Senin, 13 Oktober 2025 | 13:55 WIB
Harga cabai asal sumbar di Pasar Terubuk Bengkalis masih tinggi dan stoknya juga masih terbatas, Senin (13/10/2025).
Harga cabai asal sumbar di Pasar Terubuk Bengkalis masih tinggi dan stoknya juga masih terbatas, Senin (13/10/2025).

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Kondisi harga cabai lokal dan luar pulau Bengkalis masih sangat tinggi. Bahkan sampai akhir pekan, yakni pada Sabtu (11/10/2025) dan Ahad (12/10/2025) yang biasanya Pasar Terubuk Bengkalis diserbu pembeli, sejumlah bahan pokok melambung tinggi.

Terutama harga cabai di Pasar Terubuk Bengkalis terus meroket dan menjadi sorotan masyarakat. Cabai merah asal Bukit Tinggi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan dalam dua bulan terakhir.

Dari pantauan di lapangan, di akhir pekan para pembeli yang umumnya adalah pegawai, berbelanja untuk memenuhi kebutuhan selama sepekan ke depan. Namun mereka terkejut dihadapkan dengan sejumlah barang masih sangat tinggi, terutama harga cabai.

Di mana dua hari lalu, sempat terpantau harganya melambung sampai Rp120 ribu dan hanya turun sedikit di level Rp500 ribu atau tetap bertahan di harga Rp115 ribu per kg. Sedangkan cabai lokal asal Siak masih berkisar di harga Rp95 ribu per kg, disusul cabai asal Medan Sumut dengan harga Rp85 ribu sampai Rp90 ribu per kg.

"Sepekan tak ke pasar, kami terkejut mendengar harga cabai mencapai Rp 115 ribu per kg. Karena pekan lalu harganya hanya Rp100 ribu per kg, sekarang tambah gila dan tambah mengama," keluh Kaila, seorang pegawai di salah satu dinas di Pemkab Bengkalis.

Ia mengaku, berbelanja kebutuhan dapur untuk satu minggu, karena selama satu minggu itu selalu disibukan dengan pekerjaan rutin. Maka berbelanja harus distok untuk satu pekan ke depan.

"Tapi kalau melihat harga semua tinggi, terpaksa harus berhemat dan mengungi volume belaja, khususnya cabai," jelasnya.

Sedangkan Uni, seorang pedagang di Pasar Terubuk mengatakan, bahwa harga cabai lokal kini dijual mencapai Rp85 ribu per kilogram, sementara cabai asal Bukittinggi naik menjadi Rp115 ribu per kilogram.

“Ya, sudah dua bulan ini harga cabai belum turun. Cabai lokal saja sekarang Rp85 ribu per kilo, sedangkan cabai dari Bukittinggi malah naik sampai Rp115 ribu,” jelasnya.

Ia mengaku, kenaikan harga disebabkan oleh berkurangnya pasokan cabai lokal yang sebagian besar dijual ke luar daerah.

“Cabai asal Bengkalis, Siak, dan Sungai Apit banyak dijual ke Pekanbaru. Sementara kebutuhan masyarakat di sini juga meningkat, jadi harga otomatis naik," ucapnya.

Sedangkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisdagprin) Bengkalis, Zulpan membenarkan, adanya lonjakan harga beberapa komoditas, termasuk cabai dan ayam. Menurutnya, kondisi ini masih tergolong wajar karena Bengkalis bukan daerah penghasil cabai.

“Kenaikan harga cabai ini memang wajar terjadi karena Bengkalis bukan daerah produsen. Kebutuhan kita banyak didatangkan dari luar daerah,” ungkap Zulpan.

Ia mengatakan, faktor distribusi juga berperan terhadap kondisi harga, terutama karena keterlambatan pengiriman bahan pokok melalui jalur penyeberangan.

“Kadang distribusi terlambat karena kapal terbatas. Walaupun sudah diprioritaskan untuk sembako, pengangkutan bisa memakan waktu lebih dari satu hari. Pengantar barang pun harus bermalam di pelabuhan,” ujarnya.

Menurut Zulpan, persoalan harga pemerintah tidak dapat mengintervensi langsung harga di pasar, namun akan berupaya menstabilkan melalui kegiatan gerakan pangan murah dan operasi pasar.

“Tentu salah satu solusi adalah dengan menggelar operasi pasar bersama instansi terkait seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Bulog. Dengan begitu, diharapkan harga bisa lebih terkendali dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya.

Zulfan mengatakan, petani lokal juga sempat kecewa saat panen cabai melimpah di Bengkalis, namun pada saat itu harga turun membuat petani kecewa dan tak mau menanam cabai lagi.

Akibatnya kata Zulfan, saat cabai mahal petani tak ada yang menanam cabai dan akhirnya didatangkan dari luar Bengkalis, makanya cabai jadi barang langka dan harganya tinggi.

"Sesuai hukum ekonomi, bila permintaan tinggi, barang terbatas maka dengan otomatis harga menjadi tinggi. Kami berharap kondisi ini cepat berlalu dan masyarakat juga kami imbau galakkan menanam cabai," jelasnya. (ksm)

Editor : M. Erizal
#Pasar Terubuk Bengkalis #harga cabai #harga cabai melambung tinggi #bengkalis