Asap Karhutla di Bengkalis Meluas 

Tim Redaksi • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 11:08 WIB
Polwan Polres Bengkalis ikut memadamkan api yang membakar lahan di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, pekan lalu. (POLRES BENGKALIS UNTUK RIAU POS)
Polwan Polres Bengkalis ikut memadamkan api yang membakar lahan di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, pekan lalu. (POLRES BENGKALIS UNTUK RIAU POS)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kabupaten Bengkalis semakin parah. Bahkan, kabut asap akibat karhutla semakin meluas. Jika Sabtu (4/4), jerebu hanya menyelimuti Desa Teluk Lancar, pada Ahad (5/4) meluas ke empat desa lainnya, yakni Desa Pelkun, Kelemantan, Sekodi, dan Desa Kembung Luar.

Daerah tersebut diselimuti asap tebal dan juga partikel debu kebakaran yang bertebaran di udara. Pantauan Riau Pos di lapangan, sejak pukul 07.30 WIB sampai pukul 10.00 WIB, kabut asap terlihat sangat jelas dan jarak pandang diperkirakan hanya sekitar 2 kilometer. 

Partikel debu karhutla bertebaran di udara, bahkan, menempel di kepala warga yang berada di luar ruangan dan rumah war­ga. Kondisi ini membuat ma­syarakat setempat  khawatir. “Sudah dua hari ini diselimuti asap karena lokasi kebakaran hutan dan lahan sangat dekat dengan perkampungan masyarakat,” ucap Salam, warga Desa Kembung Luar, Ahad (5/4).

Ia mengaku, kondisi panas terik dan tak kunjung turun hujan membuat petugas pemadaman tak mampu berbuat banyak dan hanya memandang serta memadamkan api seadanya. Menurutnya, sumber air jauh dari lokasi kebakaran. Sedang­kan lahan yang terbakar merupakan tanah gambut serta semak belukar yang sudah kering, sehingga api dengan cepat membakar lahan tersebut.

Ahban, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Kembung Luar mengatakan, kebakaran lahan terus meluas. Bahkan asapnya setiap pagi sangat tebal dan partikel debu karhutla bertebaran di udara, kondisi ini sangat membahayakan kesehatan warga.

“Bahkan informasi dari saudara kami di Malaysia, asapnya sudah sampai di sana. Kan ini sudah sangat mengganggu dan kami bersama masyarakat tetap berupaya memadamkan api,” jelasnya.

Ia berharap, ada bantuan segera dari provinsi maupun pusat untuk mengirim helikopter dengan water bombing. Kalau ini tidak dilakukan, mereka khawatir seluruh lahan dari lima desa yang berdekatan akan terus terbakar.

“Hanya kuasa Allah saja yang bisa memadamkan api. Kami terus berdoa agar segera turun hujan derassehingga api cepat padam dan tidak ada lagi titik api,” harapnya.

Sedangkan Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis Salman Alfarisi ST mengatakan, sampai saat ini kawasan hutan dan lahan yang terbakar terus meluas. Bahkan yang terparah saat ini adalah di Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat.

Ia menyebutkan, untuk kebakaran lahan di Kecamatan Rupat terjadi di Jalan Tun Taher RT.01/RW.01, Desa Sri Tanjung dengan titik koordinat 1,8487398 N 101,72987427. Penyebabnya adalah kondisi cuaca ekstrem yakni angin kencang, musim kemarau, dan gambut kering. 

“Kebakaran ini sudah satu pekan lamanya di lahan perkebunan sawit, karet dan semak belukar. Dengan sumber air jaraknya 5 sampai 350 meter membuat petugas kesulitan memadamkan api. Luas lahan yang terbakar mencapai 2 hektare dan yang sudah dipadamkan 1,1 hektare (ha) serta proses pendinginan  0,9 hektare,” jelasnya.

Baca Juga: Kembung Luar dan Teluk Lancar Diselimuti Asap Karhutla

Ia menjelaskan, kebakaran di Kecamatan Bengkalis terjadi di Dusun Mekar Sari RT02/RW 03 Desa Palkun, Dusun Sungai Dua Desa Kelemantan, Dusun Telaga 7 RT02/RW06, dan Dusun Nyatuh Desa Sekodi. Kondisi ini sudah masuk hari delapan. Karena cuaca ekstrem yakni angin kencang, musim kemarau dan gambut kering.

Ia menjelaskan, awalnya karhutla terjadi di Desa Kelemantan yang membakar lahan perkebunan di Dusun Mekar Sari RT.02/RW.03 sampai ke Desa Palkun yakni perkebunan sawit, karet dan sagu. Luas lahan yang terbakar  lebih kurang 180 hektare, yang berhasil dipadamkan sekitar 60 ha dan dalam proses pendinginan lebih 120 ha.

“Kami masih memerlukan tambahan personel dan peralatan karena kondisi terkini titik api dan asap masih ada. Upaya yang sudah dilakukan, kami berkoordinasi, melakukan pemantauan, pelaporan dan pemadaman oleh Satgas Gabungan darat,” jelas Salman.

Sedangkan karhutla di Kecamatan Rupat Utara sudah memasuki hari ke-12, kejadiannya sejak 24 Maret 2026 dan saat ini di Dusun Hutan Samak, Desa Titi Akar masih terjadi kebakaran akibat cuaca ekstrem dengan luas lahan terbakar mencapai 25 ha. Ya, sudah berhasil dipadamkan mencapai 14 ha dan dalam proses pendinginan mencapai 11 ha.

Sedangkan di Kecamatan Bantan, sudah memasuki hari ke-9, sejak 27 Maret 2026 dan sampai saat ini kebakaran di lokasi perkebunan masyarakat di Dusun 022 Jalan Perkebunan IV Dusun 03, Desa Teluk Lancar masih dilakukan pemadam. Lahan yang terbakar mencapai 53 ha.

“Karena luasnya lahan terbakar terus bertambah, maka kami membutuhkan tambahan personel dan juga peralatan. Bahkan kebakaran terus meluas sampai di Jalan  Darat Limau RT04/RW.02, Desa Kembung Luar. Luas lahan terbakar mencapai 18 ha, yang berhasil dipadamkan 6 ha, dan dalam proses pendinginan 12 ha,” jelasnya.

Fokuskan Daerah Pesisir Riau 

Tim gabungan memfokuskan padamkan api di Kabupaten Bengkalis yang berada di lokasi lahan gambut. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan, di Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara operasi pemadaman melibatkan dua tim Daops Sumatera V/Dumai, satu tim BKO Daops Sarolangun, dan satu tim BKO Daops Muba. 

Upaya pengamanan permukiman dilaporkan telah berhasil dilakukan. “Tim saat ini memukul kepala api di sisi kiri untuk menghambat laju kebakaran, sekaligus mengurangi asap pada bagian ekor dan sayap api. Proses ini memerlukan kesabaran karena api sudah masuk ke dalam pori-pori gambut,” ujar Ferdian.

Namun demikian, kondisi di lapangan masih menghadapi kendala berupa minimnya sumber air sehingga pergerakan tim menjadi terbatas. Sementara itu, di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, pemadaman lanjutan dilakukan oleh satu tim. Kebakaran dilaporkan telah meluas dalam satu hamparan yang mencakup sejumlah desa, yakni Teluk Lancar, Sekodi, Palkun, Kelemantan, hingga Kembung Luar.

Selain melakukan pemadaman langsung, tim juga melakukan size up atau penilaian lapangan di wilayah Palkun dan Kelemantan. “Dari hasil size up, diperlukan tambahan personel Manggala Agni dari Siak sebanyak dua regu dan satu regu BKO dari Pekanbaru. Kendala utama tetap pada keterbatasan air, luasnya area terdampak, serta tingginya bahan bakar di lokasi,” jelasnya.

Pihaknya juga terus mengupayakan dukungan alat berat untuk membuat embung air, membersihkan kanal, serta membangun sekat bakar guna menahan laju api.

Di lokasi lain, tepatnya di Desa Gambut Mutiara, Kecamatan Teluk Meranti satu regu Daops Rengat masih siaga. Meski tidak ditemukan lagi api aktif, proses pendinginan masih berlangsung untuk mengurangi asap dan memastikan bara di lapisan gambut benar-benar padam. “Statusnya belum padam karena masih perlu waktu untuk menyapu bagian sayap dan ekor api,” tambah Ferdian.

Dari sisi dukungan udara, operasi water bombing oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dilakukan dua kali sortie. Sortie pertama difokuskan di Titi Akar, sementara sortie kedua dilakukan di wilayah Bengkalis. Selain itu, OMCjuga digelar intensif dengan empat sortie sepanjang pagi hingga petang. Wilayah sasaran meliputi Dumai-Pulau Rupat, Kepulauan Meranti-Pelalawan-Bengkalis, Bengkalis-Siak, serta Pelalawan-Siak-Kepulauan Meranti. “Semoga hasil penyemaian awan ini bisa membantu turunnya hujan untuk mempercepat proses pemadaman,” harapnya.

Dibantu Hujan, Karhutla Desa Gambut Mutiara Padam

Hujan deras yang turun mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Pelalawan memberikan keberkahan yang sangat luar biasa. Betapa tidak, curah hujan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang turun Sabtu (4/4) pagi lalu dan Ahad (5/4) pagi membuat karhutla, khususnya di Desa Gambut Mutiara Kecamatan Teluk Meranti telah teratasi.

“Alhamudillah, seluruh titik api di Desa Gambut Mutiara telah berhasil dipadamkan total. Ini berkat bantuan keberkahan Sang Pencipta yang menurunkan hujan deras hasil OMC,” terang Kalaksa BPBD Pelalawan, Zulfan MSi, Ahad (5/4).

Namun tim gabungan masih tetap siaga di lapangan untuk melakukan upaya pemantauan agar titik api tidak kembali muncul. “Hari ini (kemarin, red) tim gabungan masih siaga di Desa Gambut Mutiara. Jika tidak ada kendala, maka areal karhutla sudah bisa ditinggalkan dan seluruh personel dari tim gabungan akan ditarik ke instansi masing-masing,’’ jelasnya.

“Intinya, jika di Gambut Mutiara tidak muncul lagi titik api, maka besok (hari ini, red), Pelalawan sudah zero karhutla. Pasalnya, seluruh titik api (firespot) maupun titik panas (hot pot) yang sebelumnya ditemukan di dua lainnya, yakni Kecamatan Kuala Kampar dan Bunut telah berhasil dipadamkan total pada pekan lalu,” paparnya. 

Baca Juga: Dibantu Hujan, Karhutla di Desa Gambut Mutiara Pelalawan Padam Total, Senin, Seluruh Personel Gabungan Ditarik dari Lokasi

Di tempat terpisah, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara SIK melalui Kanit ll Tindak Pindana Tertentu (Tipidter) Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Iptu Asbon Mairizal SPsi MH menambahkan, pihaknya masih tengah mendalami kasus karhutla di wilayah Desa Merbau, Kecamatan Bunut yang diduga berasal dari area perkebunan milik Koperasi RTBS.

Tim saat ini tengah melakukan proses penyelidikan guna mengungkap penyebab pasti kebakaran tersebut. Dalam rangka kepentingan penyelidikan, pihak kepolisian akan melakukan pemanggilan terhadap pengurus dan pihak terkait dari Koperasi RTBS untuk dimintai keterangan Senin (6/4) hari ini.

“Langkah pemanggilan ini dilakukan guna mendalami apakah ada dugaan kelalaian maupun potensi unsur kesengajaan dalam peristiwa yang menyebabkan kerusakan lahan cukup luas tersebut. Serta memastikan kelengkapan dokumen tersebut. Dengan demikian, kita akan kejar peran masing-masing pengurus dan seperti apa tanggung jawab mereka,” tuturnya.

Kegagalan Sistemik Provinsi Riau kembali tercatat sebagai wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi di Pulau Sumatera. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau mencatat, dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), selama Januari hingga 25 Maret 2026, 302 dari total 582 titik panas di Sumatera berada di Riau.

Data ini dikuatkan dengan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai kejadian karhutla di Provinsi Riau yang mencapai 2.713,26 ha dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, terhitung sejak 1 Januari-24 Maret 2026. Direktur Walhi Riau Eko Yunanda mengatakan, pihaknya turut menganalisa melalui satelit Aqua dan Terra dengan confidence level di atas 80 persen.

Hasilnya, sepanjang periode 1 Januari hingga 25 Maret 2026  itu tercatat 271 titik panas yang tersebar di delapan dari 12 kabupaten yakni Bengkalis, Pelalawan, Dumai, Siak, Rokan Hilir, Indragiri Hilir, Kampar, dan Kepulauan Meranti. Sebagian besar titik panas tersebut berada di kawasan lahan gambut.  

Meski data itu diakui Eko bersifat indikatif berbasis penginderaan jauh dan masih memerlukan verifikasi langsung secara faktual, namun sudah cukup menjadi dasar peringatan dini dan respons cepat dalam upaya pencegahan serta penanganan karhutla.

Eko menyebutkan, banyaknya titik panas yang menjadi indikasi terjadinya karhutla di Riau awal 2026 membuktikan kegagalan pemerintah daerah dalam strategi pencegahan efektif. Perda No.1/2019 tentang penanggulangan karhutla sudah mengatur pemantauan lahan gambut, tim respons cepat, dan kolaborasi dengan masyarakat serta pihak swasta, tapi implementasinya lemah.

‘’Kondisi ini bukan sekadar bencana tahunan, melainkan kegagalan sistematis dalam tata kelola lingkungan hidup, khususnya dalam perlindungan ekosistem gambut. Gambut yang rusak dan tidak direstorasi dengan baik menjadi sumber api yang terus berulang setiap musim kemarau,’’ ujarnya.

Eko menegaskan, tanpa kebijakan yang tegas untuk memastikan perlindungan dan restorasi gambut berjalan konsisten, status siaga darurat hanya menjadi respons administratif tanpa menyentuh akar persoalan.

Baca Juga: Warga Bengkalis Keluhkan Kabut Asap, Terpantau 182 Hotspot, Karhutla Belum Padam

Walhi Riau juga menyoroti hasil analisanya bahwa ada puluhan titik panas berada di kawasan konsesi dan lahan berizin. Termasuk yang berada di pulau-pulau kecil yang menjadi  ancaman lebih serius daripada di daratan utama, karena dominasi gambut pesisir yang rentan kerusakan permanen. 

Sementara itu, Direktur Lembaga Advokasi Lingkungan Hidup (LALH) menekankan pentingnya penegakan hukum tegas dan evaluasi izin untuk mencegah impunitas korporasi di kawasan gambut. 

‘’Karhutla yang terjadi di awal tahun ini adalah alarm keras bahwa perlindungan gambut di Riau belum menjadi prioritas utama. Khususnya perusahaan yang berulang kali menjadi pelaku karhutla dan memiliki catatan pelanggaran lingkungan hidup lainnya sudah layak dicabut perizinannya,” jelasnya.

Indra juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap izin-izin konsesi yang berada di wilayah rawan kebakaran. Ia mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pengawasan dan pelaporan. ‘’Pemerintah tidak bisa terus menerapkan pola pemadaman tanpa pencegahan. Tanpa restorasi yang serius dan penegakan hukum terhadap korporasi, Riau akan terus menjadi langganan bencana asap,’’ ujarnya. (sol/ksm/ amn/end/das) 

Laporan TIM RIAU POS

Editor : Arif Oktafian
karhutla riau krisis iklim bengkalis bpbd