Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jaringan Listrik Kabel Bawah Laut Pulau Sumatera-Bengkalis Ditunggu Masyarakat 

Abu Kasim • Selasa, 5 Mei 2026 | 14:20 WIB
Lokasi rencana pembangunan Gardu Induk dan sambungan kabel listrik bawah laut di Desa Pangkalan Batang Kecamatan Bengkalis menuju Desa Buruk bakul, Kecamatan Bukitbatu, Selasa (5/5/2026). (Abu Kasim/Riaupos.co_
Lokasi rencana pembangunan Gardu Induk dan sambungan kabel listrik bawah laut di Desa Pangkalan Batang Kecamatan Bengkalis menuju Desa Buruk bakul, Kecamatan Bukitbatu, Selasa (5/5/2026). (Abu Kasim/Riaupos.co_

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Pembangunan jaringan listrik interkoneksi kabel bawah laut, yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Pulau Bengkalis kembali masih ditunggu masyarakat. Investasi senilai Rp1 triliun yang ditargetkan rampung dan beroperasi pada pertengahan 2027, kini mulai dipertanyakan masyarakat karena dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan di lapangan.

Dari pantauan di lapangan, lokasi pembangunan gardu induk (GI) di lokasi PLTD PLN Desa Pangkalan Batang, Kecamatan Bengkalis belum ada tanda-tanda realisasi proyek strategis tersebut. Bahkan dinilai masyarakat masih jauh dari harapan. Bahkan masyarakat mempertanyakan keberadaan titik lokasi pembangunan GI di Pulau Bengkalis yang hingga kini belum terlihat wujudnya, sebagai lokasi interkoneksi kabel bawah laut yang menghubungkan GI di Desa Buruk Bakul, Kecamatan Bukitbatu.

Zulfahmi, salah seorang warga Desa Pangkalan Batang, mengaku heran dengan lambannya perkembangan proyek yang sebelumnya telah dijanjikan akan menjadi solusi jangka panjang krisis listrik di Pulau Bengkalis.

“Ya, kalau memang targetnya 2027 sudah beroperasi, setidaknya di pertengahan 2026 ini sudah terlihat titik lokasi gardu induknya mulai pengerjaan pemetaan lokasi GI. Tapi sampai sekarang belum jelas di mana kegiatannya akan berlanjut,” jelasnya, saat dijumpai di rumahnya yang tak jauh dari lokasi PLTD PLN Desa Pangkalan Batang, Selasa (5/5/2026).

Baca Juga: Suhu 43 Derajat di Tanah Suci, Jemaah Kloter BTH 03 Derita Batuk dan Alergi Ringan

Ia mengatakan, masyarakat Pulau Bengkalis selama ini membayar listrik dengan tarif yang sama, seperti daerah lain di luar pulau, namun belum merasakan kualitas layanan yang setara. Bahkan saat ini kondisi listrik sering terjadi pemadaman.

“Padahal kami bayar listrik sama seperti daerah lain, tapi kenapa kondisi di Pulau Bengkalis masih jauh dari harapan. Kami ini juga bagian dari wilayah 3T di NKRI,” katanya.

Sedangkan Hendra Jeje ST, anggota Komisi II DPRD Bengkalis yang membidangi masalah kelistrikan juga mempertanyakan progres proyek listrik interkoneksi melalui kabel bawah laut. Karena dengan kondisi listrik PLN yang ada saat ini sangat sulit untuk mendatangkan para investor maupun para pengusaha yang mau berinvestasi menanamkan modalnya untuk membangun usaha.

"Ya, kami juga mempertanyakan kondisi listrik di Pulau Bengkalis yang sering padam. Kalau pembangunan GI di Pangkalan Batang sudah terkoneksi melalui kabel bawah laut, tentu persoalan energi listrik di pulau Bengkalis sudah aman," jelasnya.

Baca Juga: Sekolah Nasional Terintegrasi akan Dibangun di Depan Kodim 0322/Siak, Wabup: Ditargetkan Hadir di 14 Kecamatan

Sebelumnya, Direktur Distribusi PT PLN (Persero), Adi Priyanto, bersama anggota DPR RI Komisi XII Iyeth Bustami, beberapa waktu lalu sempat meninjau pembangunan Gardu Induk di Desa Buruk Bakul, Pulau Sumatera. Saat itu, progres pembangunan GI di wilayah Sumatera telah mencapai 55 persen dan saat ini sudah beroperasi, sementara GI di Desa Pangkalan Batang, Bengkalis, masih dalam tahap lelang.

Dalam kunjungan tersebut, PLN menyatakan proyek interkoneksi kabel bawah laut ditargetkan selesai pada pertengahan 2027 dan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas listrik Bengkalis hingga 60 megawatt (MW). Proyek ini juga disebut sebagai langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Namun hingga kini, realisasi di Pulau Bengkalis dinilai belum menunjukkan perkembangan berarti. Padahal, kebutuhan listrik di daerah tersebut terus meningkat, sementara kapasitas pembangkit masih terbatas.

Anggota DPR RI Komisi XII, Iyeth Bustami, sebelumnya juga menegaskan pentingnya percepatan proyek kabel bawah laut ini. Ia menyebut proyek tersebut sebagai kebutuhan strategis guna menjamin pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan bagi masyarakat Bengkalis.

Selain itu, proyek ini diharapkan dapat mengurangi beban biaya operasional PLTD yang selama ini mengandalkan bahan bakar minyak dalam jumlah besar.

Masyarakat kini berharap pemerintah daerah, termasuk Bupati dan DPRD Kabupaten Bengkalis, dapat mendorong percepatan realisasi proyek tersebut agar tidak sekadar menjadi janji.

Baca Juga: Booth PHR Terbaik Dumai Expo 2026

“Harapan kami jelas, proyek ini jangan hanya jadi wacana. Kami butuh kepastian, bukan janji-janji,” jelasnya.

Persoalan ini menjadi pengingat bahwa pemerataan infrastruktur dasar, khususnya listrik, masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama bagi wilayah kepulauan seperti Bengkalis yang selama ini menghadapi keterbatasan akses energi yang andal.

Sementara itu, Iyeth Bustami juga mengaku terus mengupayakan percepat listrik kabel laut ini dapat terealisasi dengan segera. Sehingga masyarakat Bengkalis tidak lagi diresahkan dengan kondisi pemadaman bergilir yang dilakukan pihak PLN.

“Dengan percepatan jaringan listrik bawah laut ke Pulau Bengkalis kita harapkan ada kesetaraan kualitas dengan listrik yang berada di Pulau Sumatera dan tidak lagi menjadi keresahan masyarakat Bengkalis. Apa lagi pemadaman bergilir dari PLN ini sudah saya rasakan sejak saya kecil. Ini harus kita upayakan,” tegasnya.

Ia juga menilai, kondisi itu belum mendukung Indonesia menuju Net Zero Emission dengan program dedieselisasi yang menggunakan pembangkit dengan energi baru dan terbarukan. Menurutnya, biaya bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin diesel sangat tinggi.

Ini disebabkan oleh keperluan BBM jenis solar untuk konsumsi PLTD Pangkalan Batang bisa mencapai 35 juta liter per tahun. Ini artinya penggunaan PLTD dapat menghabiskan anggaran yang cukup besar, bila dibandingkan dengan menggunakan listrik interkoneksi melalui pembangunan jaringan listrik bawah laut.

Selain menindaklanjuti aspirasi masyarakat di Pulau Bengkalis karena seringkali terjadi pemadaman bergilir. Untuk itu, Iyet Bustami meminta PLN pusat melakukan percepatan realisasi jaringan listrik bawah laut ini, sesuai dengan yang tertuang dalam RUPTL PLN Tahun 2021-2030 dan dalam rangka mendukung penguatan sistem ketenagalistrikan di Provinsi Riau.

Baca Juga: Indosat Catat Pertumbuhan Dua Digit pada Kuartal I 2026 

“Maka kami merekomendasikan agar PLN mempercepat realisasi proyek kabel bawah laut demi ketahanan listrik Bengkalis. Ketahanan listrik di Pulau Bengkalis menjadi perhatian utama seiring meningkatnya kebutuhan daya hingga 28 MW, sementara kapasitas PLTD hanya sekitar 27 MW,” tegas Iyeth.

Untuk mencegah pemadaman bergilir, Iyet meminta PLN segera mempercepat pembangunan kabel laut, yang akan menghubungkan Bengkalis dengan jaringan kelistrikan Sumatera. Proyek ini harus menjadi prioritas strategis dan ditargetkan tuntas sebelum 2027 agar masyarakat Bengkalis memperoleh akses listrik yang stabil, efisien, dan berkelanjutan.

Menurut Iyeth, kehadiran gardu induk sangat krusial untuk memperkuat ketahanan sistem dan mendukung penyaluran daya secara merata. Keterlambatan ini diduga akibat kendala perizinan di kawasan hutan lindung. Diperlukan percepatan proses administrasi serta koordinasi lintas instansi agar pembangunan Gardu Induk tidak menjadi hambatan utama dalam menjamin pasokan listrik yang andal.

Sedangkan Manager ULP PLN Rayon Bengkalis Ade Pratama Saputra yang dijumpai wartawan mengatakan, untuk progres pembangunan kabel bawah laut itu merupakan kewenangan PLN Wilayah. Karena ULP PLN Bengkalis hanya sebagai unit pelayanan pelanggan.

"Kalau itu bukan kewenangan kami untuk menjelaskan. Karena kami hanya unit pelayanan pelanggan," ujarnya.(ksm)

Editor : Edwar Yaman
#kabel bawah laut #jaringan listrik #pulau sumatera #bengkalis