BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Di tengah keprihatinan masyarakat terhadap pemerintah yang menaikkan harga BBM jenis pertamax Ron 92 (biru) dari Rp12.900 ribu menjadi Rp16.500, di tingkat pengecer dijual lebih mahal yakni Rp19.000 liter, sedangkan Pertamax merah dijual Rp24.000 per liter.
Kondisi itu tidak membuat masyarakat memiliki pilihan. Karena di SPBU di Pulau Bengkalis hanya tersedia BBM jenis pertalite, yang masuk ke Pulau Bengkalis sering mengalami keterlambatan, karena alasan penyeberangan Roro.
Pantauan di lapangan pada, Rabu (10/6/2026) sore, ratusan kendaraan bermotor roda dua dan empat mengantre cukup panjang alias mengular, di SPBU Jalan Batan dan Jalan Lembaga. Demikian juga di SPBU jalan Sudirman Desa Selat Baru, Kecamatan Bantan dan SPBU di Desa Teluk Latak Kecamatan Bengkalis.
Kondisi itu diperparah oleh mobil angkutan BBM yang baru masuk ke SPBU di pulau Bengkalis pada sore hari. Padahal mobil tangki tersebut sudah mengantre di dermaga Sungai Selari-Paking sebelum tengah hari. Namun kawal penyeberangan mobil tangki ini baru berlayar pada pukul 14.15 WIB.
"Entahlah tiap hari terlambat mobil masuk ke SPBU kami, karena antrean di Roro Penyeberangan. Makanya kami bukan sejak mobil tangki masuk sampai malam hari," ujar Ujang pengelola SPBU Jalan Bantan, Bengkalis, Rabu (10/6/2026).
Ia menyebutkan, dengan kondisi ini masyarakat mengeluh, karena sulit membeli BBM jenis pertalite di SPBU. Karena pihaknya tidak bisa menjual BBM ke pengecer, sehingga pembeli harus ke SPBU.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi, BPBD Kampar Minta Warga Tetap Waspada
"Ya, akibatnya masyarakat yang antrean cukup panjang menjelang masuk SPBU. Sedangkan masalah BBM jenis pertalite tidak ada pengurangan dari Pertamina setiap hari rata-rata 15 kiloleter," jelasnya.
Sedangkan Andi, salah seorang masyarakat yang ingin membeli BBM jenis pertalite mengaku sangat kecewa dengan kebijakan pemerintah yang tak berpihak kepada masyarakat. Apalagi saat ini ada kenaikan harga BBM jenis pertamax biru.
"Tapi minyaknya tak ada jual di semua SPBU di Pulau Bengkalis. Tapi anehnya di tingkat pengecer menggunakan Pertamini malah banyak yang menjual, tapi harganya melambung tinggi. Manalah kami mampu membeli, makanya kami rela mengantre cukup panjang," ucapnya kecewa.
Sedangkan sepanjang perjalanan mengelilingi kota Bengkalis, tidak ada yang menjual BBM jenis pertalite secara eceran. Namun yang ada malah Pertamax biru dan merah dengan harga cukup tinggi yakni Rp19 ribu untuk Pertamax biru dan Rp24 ribu untuk Pertamax merah.
Masyarakat yang antre di SPBU Jalan Lembaga juga mengeluhkan panjangnya antrean tersebut. Meski harga Pertamax naik, namun di SPBU malah tak ada menjual dan selama ini hanya menjual dua jenis, yakni pertalite dan solar subsidi.
"Tak ada pilihan. Makanya mau tahu mau dan suka tak suka harus ikut antrean yang melelahkan. Memang kalau tak menyusahkan masyarakat pemerintah kita ini tak senang. Tapi malah senang jika melihat sengsara seperti ini," ujarnya.
Baca Juga: Hari Pertama SPMB Riau, 40.150 Calon Siswa Sudah Pilih Sekolah
Sedangkan Kadisdagprin Bengkalis, Zulpan yang dikonfirmasi terkait antrean di SPBU di pulau Bengkalis hanya mengaku bahwa kondisi antrean disebabkan oleh keterlambatan BBM masuk ke SPBU.
"Ya, memang selalu lambat. Makanya terjadi antrean panjang di SPBU. Meski kami selalu mengingatkan agar mobil membawa BBM di dahuluan dalam pelayanan penyeberangan Roro Bengkalis," ujarnya.
Editor : M. Erizal