BENGKALIS (RIAUPOS.CO) – Dalam dua pekan terakhir, masyarakat di Pulau Bengkalis kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite maupun Pertamax Ron 92. Akibatnya ratusan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, mengantre panjang di 4 SPBU, Pulau Bengkalis, Rabu (1/7/2026).
Dari pantauan di lapangan, mulai dari SBPU di Desa Teluk Latak, Desa Senggoro, Desa Wonosari Kecamatan Bengkalis, dan SPBU di Desa Selatbaru, Kecamatan Bantan, mengalami antrean cukup panjang.
Antrean cukup memprihatinkan terjadi di SPBU Jalan Lembaga Desa Wonosari dan Jalan Bantan, Desa Senggoro. Ratusan kendaraan bermotor sudah antrean sejak pukul 13.30 WIB sampai pukul 16.00 WIB pintu SPBU tersebut belum juga dibuka. Bahkan petugas SPBU pun tidak kelihatan stand by di tempat pengisian BBM tersebut.
Baca Juga: Harry Kane Lampaui Total Gol Piala Dunia Pele saat Inggris Singkirkan Kongo
"Antre dah tiga jam, di tengah terik matahari sampai sore belum juga masuk minyak. Karena terlambat masuk mobil tangki, maka masyarakat yang menjadi korbannya," jelas Andi, salah seorang warga Senggoro, Rabu (1/7/2026).
Sedangkan sampai malam hari, semua SPBU dalam keadaan tutup. Namun anehnya di tengah lampu remang-remang banyak aktivitas di dalamnya dalam kondisi pintu pagar masuk SBPU tertutup.
Pantauan pada Kamis (2/7/2026) seluruh penjualan eceran BBM di pinggir jalan tidak satu pun ada yang menjual BBM. Kondisi ini membuat masyarakat resah, karena tak bisa bepergian untuk melakukan aktivitas ke kantor maupun ke kebun.
"Semua tempat eceran kosong. Tak tahulah ke mana hilangnya minyak. Tapi anehnya aparat penegak hukum tak ada melakukan upaya untuk menyelidiki kelangkaan BBM. Akibatnya masyarakat yang menderita," ucap Hendri, warga Wonosari.
Baca Juga: Belgia Lakukan Comeback Menakjubkan untuk Singkirkan Senegal di 32 Besar Piala Dunia 2026
Ia mengaku, kesulitan untuk mengantar istrinya bekerja dan bahkan untuk pergi berbelanja di pasar susah. Akibatnya dia harus berjalan kaki untuk membeli sesuatu di warung sembako.
Tak hanya itu, persoalan kelangkaan BBM juga dirasakan masyarakat yang ada di ibu kota Bengkalis. Bahkan perwakilan dari 20 desa di Kecamatan Bengkalis dan Kecamatan Bantan merasakan hal yang sama. Pihak desa mendesak Pemerintah Kabupaten Bengkalis, segera mengambil langkah konkret agar distribusi bahan bakar minyak dapat menjangkau masyarakat desa yang selama ini bergantung pada pelansir.
Warga menilai skema sub-penyalur bagi wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan terpencil (3T) layak diterapkan di Pulau Bengkalis. Ini mengingat kondisi geografis daerah tersebut yang masih memiliki keterbatasan akses distribusi BBM.
Baca Juga: Dugaan Penganiayaan Warga Rupat Utara, Ipda ES Dicopot dan Ditahan di Ruang Penempatan Khusus
Yandi, salah seorang perwakilan desa Teluk Lancar menegaskan, bahwa masyarakat hanya ingin memperoleh kemudahan mendapatkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari, bukan untuk mencari keuntungan.
"Tolonglah kami, kami bukan mau kaya, hanya untuk memenuhi keperluan keluarga sehari-hari," ujar ujarnya.
Sedangkan Udin, salah seorang warga, Pulau Bengkalis mengatakan, Kabupaten Bengkalis dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak bumi terbesar di Provinsi Riau. Sebagian wilayahnya berada dalam Wilayah Kerja Rokan yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan.
"Kalau kami ini penimbun minyak, kami siap ditangkap. Kami hanya untuk keperluan keluarga sehari-hari, bukan untuk kaya, Bang," terangnya.
Udin berharap BPH Migas, Pemerintah Kabupaten Bengkalis, serta instansi terkait dapat memberikan kemudahan akses BBM bagi masyarakat desa.
"Namun demikian, dengan harapan kami kepada BPH migas, Bupati Kabupaten Bengkalis, Pemkab, maupun dinas terkait, permudahlah kami," harapnya.
Di sisi lain, panjangnya antrean di SPBU juga dikeluhkan masyarakat. Rahmi warga lain juga mengaku lebih memilih membeli BBM dari pelansir dibanding harus menghabiskan waktu mengantre.
Baca Juga: BI Riau Tantang 27 Barista Lokal Berkompetisi Olah Kopi Liberika
"Kami sebenarnya tidak tahan antre-antre di SPBU ni Bang, karena terpaksa saja. Maunya kami, lebih cepat jika ada penjual di pinggir jalan (pelansir), walaupun beda seribu rupiah ataupun dia ribu rupiah, lebih baik kami ke pelansir pinggir jalan," ujar Rohani.
Menanggapi itu, Kepala Disdagprin Bengkalis Zulfan mengatakan, pihak terus memantau masukkan BBM ke Pulau Bengkalis. Namun karena kondisi penyeberangan ro-ro ke Pulau Bengkalis mengalami kendala membuat pasokan BBM terlambat.
"Ini masalah ro-ro yang lambat. Makanya BBM terlambat masuk ke SPBU, sementara ratusan masyarakat yang mencari BBM sudah antre cukup lama di SBPU," jelasnya.(ksm)
Editor : Edwar Yaman