Kualitas Udara di Bengkalis Masuk Kategori Tidak Sehat, Tercatat ISPU Capai 132

Abu Kasim • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 14:04 WIB
Sekretaris DLH Marngatin memperlihatkan hasil pantau ISPU dilayar kaca di Kantor DLH Bengkalis, Kamis (3/9/2026). Foto Istimewa
Sekretaris DLH Marngatin memperlihatkan hasil pantau ISPU dilayar kaca di Kantor DLH Bengkalis, Kamis (3/9/2026). Foto Istimewa

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) -- Kendati sempat diguyur hujan deras, namun tak membuat kondisi udara di Kabupaten Bengkalis semakin sehat. Namun sebaliknya, kualitas udara di Kabupaten Bengkalis masuk kategori tidak sehat dan tercatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) diangka 132.

Sedangkan data pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup melalui stasiun pemantauan Kabupaten Bengkalis, di Desa Sanggoro, menunjukkan parameter kritis berada pada PM2.5 dengan nilai 132.

Sementara itu, parameter lainnya tercatat PM10 sebesar 105, SO2 sebesar 63, CO sebesar 4, O3 sebesar 40 dan NO2 sebesar 80. Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara yang dapat memberikan dampak merugikan bagi manusia, hewan dan tumbuhan.

Baca Juga: Ada Aktivitas Pekat, Satpol PP-PKP dan Polsek Singingi Patroli ke Sumber Datar dan Sungai Keranji

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bengkalis Agus melalui Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Sri Hartati ST mengatakan, kondisi kualitas udara saat ini masih belum stabil dan terus mengalami perubahan dari pagi hingga siang hari.

"Data kualitas udara saat ini memang terpantau dalam kondisi tidak sehat. Dari pantauan pagi hingga siang hari, angkanya masih terus berubah dan berada di atas 132," jelas Sri Hartati, Kamis (3/9/2026).

Ia mengatakan, alat pemantau kualitas udara yang berada di Kantor DLH Kabupaten Bengkalis mampu memberikan gambaran kondisi udara dalam radius sekitar 2 hingga 5 kilometer dari lokasi alat.

Baca Juga: Lemonia Bagikan Produk kepada Peserta Gowes Merdeka 2026

Ia menjelaskan, perubahan kualitas udara dapat terjadi dalam waktu yang relatif cepat sehingga masyarakat perlu memperhatikan perkembangan hasil pemantauan.

Menurutnya, memang kualitas udara ini sering mengalami perubahan. Dari pagi menuju siang biasanya bisa terus naik, sehingga sampai saat ini masih berada dalam kategori tidak sehat.

Sri Hartati mengatakan, kondisi kualitas udara sebelumnya sempat berada dalam kategori sedang. Pada Kamis pekan lalu, misalnya, hasil pemantauan menunjukkan angka sekitar 78, sehingga aktivitas pembelajaran di sekolah dapat kembali dilakukan seperti biasa.

Baca Juga: Bupati Siak Afni Satu-satunya Kepala Daerah Asal Provinsi Riau Mengikuti KPPD Lemhannas 2026

"Kamis lalu sempat berada di angka 78 atau kategori sedang. Kondisi tersebut bertahan sampai Ahad (30/8/2026). Namun setelah itu kembali meningkat hingga angka 107 dan terus mengalami perubahan sampai hari ini," ungkapnya.

Ia mengatakan, alat pemantau kualitas udara di DLH bekerja secara terus-menerus selama 24 jam sehingga perkembangan kondisi udara dapat diketahui secara berkala.

Namun, untuk wilayah lain di Kabupaten Bengkalis, seperti Kecamatan Mandau dan Batin Solapan yang juga kerap terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), saat ini belum seluruhnya memiliki alat pemantau kualitas udara seperti yang tersedia di DLH Bengkalis.

Baca Juga: Kasus Karhutla di Tasik Tebing Serai, Polisi Tangkap Pria 76 Tahun

"Ya, untuk saat ini di Kabupaten Bengkalis baru ada satu alat pemantau yang terpasang di Dinas Lingkungan Hidup. Sementara untuk kecamatan lain belum tersedia alat serupa," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris DLH Kabupaten Bengkalis, Marngatin, juga mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan indeks kualitas udara. Hasil pemantauan nantinya akan menjadi bahan laporan kepada Dinas Pendidikan terkait pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

"Indeks kualitas udara saat ini memang belum stabil. Kami terus melakukan pemantauan dan apabila kualitas udara masuk kategori tidak sehat maupun kembali membaik, hasilnya akan kami laporkan kepada Dinas Pendidikan," jelasnya.

Baca Juga: UPTJJ Wilayah II PUPR Riau Gesa Perbaikan Ruas Jalan di Rohil

Ia menjelaskan, pelaksanaan pembelajaran bagi peserta didik yang berada di daerah terdampak kabut asap mengacu pada ketentuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait penyelenggaraan layanan pendidikan pada satuan pendidikan di daerah terdampak asap.

Berdasarkan ketentuan tersebut, pola pembelajaran dan protokol layanan pendidikan disesuaikan dengan kategori ISPU. Untuk ISPU 1-50 atau kategori baik, pembelajaran dapat dilaksanakan secara tatap muka penuh.

Kemudian ISPU 51–100 atau kategori sedang, pembelajaran tetap dapat dilakukan secara tatap muka penuh, namun kegiatan di luar ruangan, termasuk kegiatan ekstrakurikuler dan aktivitas fisik, dibatasi serta penggunaan masker dianjurkan.

Baca Juga: Macet saat Pacu Jalur, PU Riau Diminta Perlebar Jalan Telukkuantan-Sentajo

Sedangkan ketika ISPU berada pada angka 101–200 atau kategori tidak sehat, pembelajaran tatap muka diselenggarakan secara terbatas, pembelajaran jarak jauh dapat diterapkan bagi kelompok rentan, dan penggunaan masker diwajibkan.

Menurutnya, jika indeks berada pada angka 101 sampai 200, pembelajaran tatap muka masih dapat diselenggarakan secara terbatas, sementara untuk kelompok rentan dapat dilakukan pembelajaran jarak jauh dan masker wajib digunakan.

Sementara itu, apabila ISPU mencapai 201–300 atau masuk kategori sangat tidak sehat, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk dilakukan secara jarak jauh.

Baca Juga: Diduga Tampung Barang Curian, Pria Lajang di Mandau Dibekuk Polisi

Dengan kondisi ISPU Bengkalis yang mencapai 132, masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan mereka yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara, diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika berada di luar rumah.

"Sedangkan data cuaca pada, pukul 11.00 WIB menunjukkan suhu 33,52 derajat Celsius, kelembapan 71,13 persen, tekanan udara 1.012,57 mbar, arah angin 214 derajat dengan kecepatan 2,22 meter per detik serta curah hujan 0 milimeter," jelasnya.

Editor : Rinaldi
kualitas udara bengkalis tidak sehat DLH Bengkalis