Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Penjelasan Tentang Gempa Bumi Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, Ini yang Harus Dilakukan Sebelum, Sesaat dan Sesudah Gempa Menurut BMKG

Redaksi • Senin, 2 September 2024 | 18:43 WIB

 

Ilustrasi, Gempa Bumi Megathrust.
Ilustrasi, Gempa Bumi Megathrust.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Gempa bumi megathrust masih terus menjadi perbincangan di beberapa kalangan masyarakat. Khususnya di wilayah Pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Karena mengemukanya potensi gempa bumi megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Lantas seperti apa sebenarnya gempa bumi megathrust ini dan apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan sesudah gempa bumi.

Memang, pembahasan mengenai potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebenarnya bukanlah hal baru, sudah lama, bahkan sudah ada sejak sebelum terjadi Gempa dan Tsunami Aceh 2004.

Penjelasan tentang gempa bumi megathrust ini, dikutip Riaupos.co dari laman resmi BMKG, menurut Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menyebut, munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona megathrust saat ini bukanlah bentuk peringatan dini (warning) yang seolah-olah dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar.

Baca Juga: Mengundang Gempa Megathrust?

"Tidak demikian. Kita hanya mengingatkan kembali keberadaan Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai sebuah potensi yang diduga oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar (seismic gap) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun," terang BMKG.

Karenanya, dugaan potensi zona kekosongan gempa besar atau seismic gap inilah yang menurut Daryono dalam keterangan resminya di laman BMKG, yang patut diwaspadai.

"Seismic gap ini memang harus kita waspadai karena dapat melepaskan energi gempa signifikan yang dapat terjadi sewaktu-waktu," sambungnya.

Baca Juga: BMKG Prediksi Potensi Gempa Magnitudo 8,9 di Zona Mentawai dan Selat Sunda 8,7, Ini Penjelasannya

Dijelaskan lebih lanjut, munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, sebenarnya tidak ada kaitannya secara langsung dengan peristiwa gempa kuat M7,1 yang berpusat di Tunjaman Nankai dan mengguncang Prefektur Miyazaki Jepang.

Menariknya, gempa yang memicu tsunami kecil pada 8 Agustus 2024 lalu ini mampu menciptakan kekhawatiran bagi para ilmuwan, pejabat negara dan publik di Jepang akan potensi terjadinya gempa dahsyat di Megathrust Nankai.

"Peristiwa semacam ini merupakan momen yang tepat untuk mengingatkan kita di Indonesia akan potensi gempa di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut," jelasnya.

Baca Juga: Jepang Diguncang Gempa Besar Magnitudo 7,1, Peringatkan Tsunami dan Gempa Susulan

Karena, menurut BMKG, sejarah mencatat, gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946 (usia seismic gap 78 tahun).

Sedangkan gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1757 (usia seismic gap 267 tahun) dan gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797 (usia seismic gap 227 tahun).

"Artinya kedua seismic gap kita periodisitasnya jauh lebih lama jika dibandingkan dengan seismic gap Nankai, sehingga mestinya kita jauh Lebih serius dalam menyiapkan upaya-upaya mitigasinya," beber BMKG.

Baca Juga: BREAKING NEWS: Gempa Bumi Magnitudo 3.7 Berpusat di Darat 4 Km Tenggara Bukittingi

Menyinggung tentang rilis gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang disebutkan BMKG "tinggal menunggu waktu", menurut Daryono hal ini dikarenakan kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar, tetapi bukan berarti segera akan terjadi gempa dalam waktu dekat.

"Dikatakan "tinggal menunggu waktu" disebabkan karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah rilis gempa besar semua, sementara Selat Sunda dan Mentawai-Siberut hingga saat ini belum terjadi," ungkapnya.

Secara pemahaman bersama, diakuinya bahwa hingga saat ini belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dengan tepat dan akurat mampu memprediksi terjadinya gempa (kapan, dimana, dan berapa kekuatannya).

Baca Juga: Setelah Diguncang Gempa 7,5 SR, Peringatan Tsunami oleh Jepang, Taiwan, dan Filipina

"Sehingga kita semua juga tidak tahu kapan gempa akan terjadi, sekalipun tahu potensinya. Sekali lagi, informasi potensi gempa megathrust yang berkembang saat ini sama sekali bukanlah prediksi atau peringatan dini, sehingga jangan dimaknai secara keliru, seolah akan terjadi dalam waktu dekat," kata pihak BMKG.

Karenanya, BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas normal seperti biasa.

"Seperti melaut, berdagang, dan berwisata di pantai. BMKG selalu siap memberikan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami dengan cepat dan akurat," jelasnya.

Baca Juga: Sumbar Rawan Gempa dan Tsunami tapi Minim Tempat Evakuasi Vertikal

Apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan sesudah gempa?

Dikutip dari laman BMKG pula, terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat sebagai langkah antisipasi gempa bumi. Baik sebelum terjadi gempa, saat gempa dan sesudah gempa.

Sebelum Terjadi Gempabumi

Baca Juga: Gunung Marapi Erupsi Lontarkan Kolom Abu Letusan Setinggi 2 Km, Warga Bukittinggi: Terdengar Gemuruh dan Guncangan

1. Kunci Utama adalah mengenali apa yang disebut gempabumi. Pastikan bahwa struktur dan letak rumah Anda dapat terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh gempabumi (longsor, liquefaction dll), mengevaluasi dan merenovasi ulang struktur bangunan Anda agar terhindar dari bahaya gempabumi.

2. Kenali Lingkungan Tempat Anda Bekerja.

Dengan memperhatikan letak pintu, lift serta tangga darurat, apabila terjadi gempabumi, sudah mengetahui tempat paling aman untuk berlindung. Kemudian belajar melakukan P3K, belajar menggunakan alat pemadam kebakaran dan mencatat nomor telepon penting yang dapat dihubungi pada saat terjadi gempabumi.

Baca Juga: Banjir Bandang Kota Ternate, 13 Orang Meninggal Dunia

3. Persiapan Rutin pada tempat Anda bekerja dan tinggal

Perabotan (lemari, cabinet, dll) diatur menempel pada dinding (dipaku, diikat, dll) untuk menghindari jatuh, roboh, bergeser pada saat terjadi gempabumi.

Simpan bahan yang mudah terbakar pada tempat yang tidak mudah pecah agar terhindar dari kebakaran. Selalu mematikan air, gas dan listrik apabila tidak sedang digunakan.

Baca Juga: Waspada! Gunung Marapi Erupsi, Patuhi Rekomendasi Badan Geologi

4. Penyebab celaka yang paling banyak pada saat gempabumi adalah akibat kejatuhan material

Atur benda yang berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah, cek kestabilan benda yang tergantung yang dapat jatuh pada saat gempabumi terjadi (misalnya lampu dll).

5. Alat yang harus ada di setiap tempat

Kotak P3K, senter/lampu baterai, radio, makanan suplemen dan air.

Baca Juga: Heboh!!! Kuansing Gempa, tapi Tak Seorang pun yang Merasakan

Saat Terjadi Gempabumi

1. Jika Anda berada di dalam bangunan

Lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja dll, cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan goncangan, lari ke luar apabila masih dapat dilakukan.

2. Jika berada di luar bangunan atau area terbuka

Baca Juga: Warga Tak Rasakan Getaran Gempa Rohul

Menghindari dari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, pohon, dll, perhatikan tempat Anda berpijak, hindari apabila terjadi rekahan tanah.

3. Jika Anda sedang mengendarai mobil

Keluar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran, lakukan point 2.

4. Jika Anda tinggal atau berada di pantai

Jauhi pantai untuk menghindari bahaya tsunami.

Baca Juga: Data Sementara, 62 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Warga di Pengungsian Akibat Banjir Bandang dan Longsor Sumbar

5. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan

Apabila terjadi gempabumi hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.

Setelah Terjadi Gempabumi

1. Jika Anda berada di dalam bangunan

Keluar dari bangunan tersebut dengan tertib, jangan menggunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa, periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K, telepon atau mintalah pertolongan apabila terjadi luka parah pada Anda atau sekitar Anda.

Baca Juga: Detik-Detik Bencana Galodo Melanda Sumbar, Batu Besar dan Kayu Terbawa Lumpur Mengalir Deras dari Kaki Gunung Marapi ke Perkampungan,

2. Periksa lingkungan sekitar Anda

Periksa apabila terjadi kebakaran, periksa apabila terjadi kebocoran gas, periksa apabila terjadi hubungan arus pendek listrik, periksa aliran dan pipa air, periksa apabila ada hal-hal yang membahayakan (mematikan listrik, tidak menyalakan api dll).

3. Jangan mamasuki bangunan yang sudah terkena gempa

Karena kemungkinan masih terdapat reruntuhan.

Baca Juga: Masyarakat Minang Menyebutnya Galodo, Banjir Bandang dari Gunung Marapi di Sumbar

4. Jangan berjalan di daerah sekitar gempa

Kemungkinan terjadi bahaya susulan masih ada.

5. Mendengarkan informasi.

Dengarkan informasi mengenai gempabumi dari radio (apabila terjadi gempa susulan), jangan mudah terpancing oleh isu atau berita yang tidak jelas sumbernya.

6. Mengisi angket yang diberikan oleh instansi terkait untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang terjadi

Baca Juga: Berlakukan Buka Tutup di Lembah Anai, Jalur Padang-Bukittinggi via Padangpanjang Sudah Bisa Dilewati

7. Jangan panik dan jangan lupa selalu berdo'a kepada Tuhan YME demi keamanan dan keselamatan kita semuanya.

Editor : RP Eka Gusmadi Putra
#bmkg #Megathrust Selat Sunda #hal yang harus dilakukan sebelum sesaat sesudah gempa #megathrust siberut #penjelasan tentang gempa bumi megathrust #megathrust mentawai #gempa bumi megathrust