Oleh : Samsul Nizar
Dikisahkan, seorang petani sedang mena-nam padi di sawah. Tiba-tiba, seekor ular menggigit kakinya. Karena kasihan, petani memberinya sebutir telor. Keesokan hari, ular tersebut kembali menggigitnya.
Meski si petani mengeluh kesakitan, ia tetap memberinya seekor tikus. Petani tau jika ular tersebut menggigitnya karena kelapar-an. Untuk itu, setiap ular mengigitnya, ia selalu memberinya makanan yang lebih besar dan enak. Akibatnya, si ular "ketagih-an". Setiap hari, si ular menunggu kehadir-an petani dan berharap mendapatkan tumpukan makanan yang besar dan lezat.
Namun, akibat sering digigit ular, si petani jatuh sakit dan tak bisa ke sawah. Hampir
1 (satu) bulan si petani tak bisa ke sawah. Melihat petani yang ditunggu tak datang, si ular mulai mengarang cerita pada teman-temannya tentang keburukan, aib, dan ber-bagai cerita negatif lainnya tentang si petani. Si ular berbuat demikian karena kecewa. Sebab, ia tak bisa memperoleh makanan dan keuntungan dari si petani.
Baca Juga: Iduladha 10 Zulhijjah 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026, Kemenag Gelar Sidang Isbat
Berbeda kisah yang terjadi pada seorang pelayan kaisar Romawi. Meski telah lebih 30 tahun melayani kaisar, tapi si pelayan justeru di hukum mati karena melakukan kesalahan kecil (ringan). Ia dihukum men- jadi santapan anjing istana yang terkenal galak. Menyadari dan mengetahui hal tersebut, si pelayan minta penagguhan eksekusi. Ia bermohon pada raja agar diberi kesempatan untuk mengurus anjing-anjing istana yang galak sebelum ia disantap. Mempertimbangkan jasa si pelayan, raja mengabulkan permintaan
tersebut. Selama 10 hari, si pelayan meng-urus dan memberi makan anjing-anjing istana dengan telaten, sabar, dan penuh kasih sayang. Setelah tenggat waktu penangguhan eksekusi habis, si pelayan akhirnya dimasukan ke dalam kandang anjing-anjing istana yang terkenal beringas. Kaisar berharap tubuh pelayan tersebut akan dicabik-cabik oleh kawanan anjing istana yang terkenal sadis. Namun, alangkah terkejutnya kaisar. Ketika si pelayan dimasukan dalam kandang, se-mua anjing mengelilingi dan bercanda sembari mengibas-ngibaskan ekornya. Kaisar bertanya, "kenapa anjing-anjing istana yang terkenal galak tak menyerang-mu hai pelayan ?". Dengan tenang si pelayan menjawab, "selama 10 hari, anjing-anjing ini ku rawat dengan penuh kasih sayang dan ku beri makan dengan telaten.
Baca Juga: Pemko Pekanbaru Tertibkan Aset 8 Hektare di Sudirman Ujung, Parit Sepanjang Satu Kilometer Digali
Anjing-anjing ini begitu kenal dan berterimakasih padaku yang telah mengurusnya selama 10 hari. Tapi, balasan kaisar justeru sebaliknya. Meski 30 tahun aku telah melayanimu, tapi karena kesalahan ringan, pengabdianku tak pernah dihargai. Anjing tau balas budi tapi manusia acap-kali lupa diri". Mendengar penjelasan si pelayan, kaisar menjadi sadar dan malu atas sikapnya yang tak tau balas budi. Raja mohon maaf atas kekeliruannya dan mengampuni kesalahan kecil si pelayan.
Dua kisah di atas merupakan cerita rakyat klasik yang disampaikan turun temurun. Tapi, cerita tersebut tak pernah mampu menyadarkan manusia sampai kiamat. Belajar dari 2 (dua) kisah di atas, manusia disuguhkan pelajaran sekaligus "tamparan" yang begitu berharga, yaitu :
Pertama, seekor ular mengajarkan, ketika ada orang yang selalu mendekat, tampil "sok akrab", memelas dan menghiba, acap-
kali hanya kamuflase untuk memperoleh keuntungan semata. Ia "merayap" seakan tak mematahkan ranting, tapi ketika ada peluang, ia tak sungkan membelit, meng-gigit, menelan, dan menyebarkan fitnah bila keinginannya tak diperoleh atau telah tercapai. Ia tak peduli atas jasa orang yang pernah menolongnya. Baginya --tujuan utama-- asal perut kenyang dan hidup senang. Ia selalu berganti "kulit", warna, dan pendekatan, tapi substansi sifat asli-nya tetap karakter seekor ular.
Kedua, perilaku ular terhadap petani me-nyampaikan pesan bahwa orang yang tak tau berterimakasih akan melupakan sejuta kebaikan. Ia lupa pada "tangan-tangan" yang pernah menolong dan membuatnya "kenyang". Sungguh karakter manusia yang tak tau balas budi dan lupa diri acap-kali melupakan sejarah, air susu dibalas
tuba. Begitu mudah melupakan dan meng-hilangkan sejuta kebaikan bak "debu yang ditiup angin". Baginya, tak ada kebaikan atau keburukan yang abadi, kecuali hanya kepentingan (hajat) diri lebih utama.
Kehadiran karakter manusia yang tak tau berterimakasih telah diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterimakasih pada sesamanya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Begitun aneh umat akhir zaman. Lisannya bersaksi umat Nabi, tapi hati dan perilaku begitu nyata menafikannya. Sifat yang demikian telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya : "Sebagian manusia berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir', padahal mereka tidak beriman” (QS. al-Baqarah : 8).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan karakter kaum munafik. Mereka meng-
aku beriman, namun hatinya ingkar. Ayat ini turun menjelaskan sifat orang munafik di Madinah. Mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul dan pengikutnya. Mereka pura-pura beriman demi keamanan diri dan harta bendanya. Hal serupa juga terjadi se-panjang sejarah manusia yang mengguna-kan "jurus munafik" untuk kepentingan diri.
Ketiga, kumpulan anjing yang ganas masih tau berterimakasih atas jasa orang yang pernah membantu dan memeliharanya. Wajar bila anjing ashabul kahfi dijanjikan sebagai penghuni surga. Sebab, ia setia menjaga kebenaran. Karakter anjing istana yang tau berterimakasih dan ingat jasa baik orang telah mengimplementasikan sabda Rasulullah ﷺ : "Barangsiapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya,
hendaklah dia memujinya (mendoakan). Jika dia memujinya, sungguh dia telah bersyukur kepada-Nya. Dan barangsiapa yang menyembunyikan kebaikan, sungguh dia telah kufur (terhadap nikmat)" (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).
Sementara, manusia yang konon berilmu justeru tak tau diri dan lupa berterimakasih pada orang yang pernah menolongnya. Semua bantuan hilang bak "sifat ular yang lupa kebaikan petani". Ia akan mencari "induk semang" baru yang menjanjikan "makanan enak" untuk mengisi perutnya. Demikian seterusnya sampai mulutnya terisi dengan tanah dan kembali ke tanah.
Namun, manusia yang berkarakter ular akan bertemu "induk semang" berkarkter serupa. Tapi ia lupa "tak ada makan siang yang gratis". Hal ini terlihat pada kisah mitologi Yunani kuno. Adalah Cassandra sang putri Troya. Kecantikannya membuat Dewa Apollo bermurah hati menganugerah-kannya kecerdasan yang mampu meramal masa depan. Tapi, kebaikan Dewa Apollo ada maksud yang tersembunyi. Ternyata, sang dewa ingin menikahi Cassandra, tapi cintanya ditolak. Akibatnya, semua kelebihan dan kecerdasan Cassandra "dikutuk" sang dewa. Semua nasehat kebenaran yang disampaikan Cassandra selalu ditolak dan dibenci rakyat. Ternyata, Dewa Apollo berbuat baik karena ada "ada udang di balik batu". Tersimpan keinginan culas, licik, dan maksud tersembunyi.
Baca Juga: Ramaikan Operasi Pasar Jelang Iduladha 1447 H di 5 Kecamatan Rohul, Ini Jadwal Lengkapnya
Kisah dan mitologi di atas bersandingan dengan katakter dan perilaku nyata. Bak Dewa Apollo yang "bersembunyi" pada statusnya. Manusia selalu mencari alibi "pembenaran". Retorika dan asesoris ke-salehan tampil begitu anggun untuk me-nutupi kesalahan. Bila cara kemunafikan ini terus dilakukan, maka kebenaran hakiki
tak akan pernah ditemui. Sebab, kebenar-an hakiki tak memerlukan pembenaran yang dipaksakan oleh keinginan. Sebab, kebenaran hadir pada manusia yang dekat pada Allah sebagai pemilik diri yang benar.
Karakter kisah-kisah di atas seakan telah terjawab melalui fenomena"sunnatullah". Sebab, semua karakter akan dipertemukan sesuai pasangan "induk semang" yang memiliki sifat serupa. Hal ini diingatkan melalui tamsilan pada firman-Nya : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)..." (QS. an-Nur : 26).
Menurut Ibnu Katsir, meski ayat di atas menjelaskan prinsip kesetaraan (kafa'ah) jodoh, tapi berlaku pula pada kesetaraan
karakter. Manusia baik untuk orang baik dan demikian pula sebaliknya. Ayat ini turun terkait fitnah terhadap Aisyah RA. Ayat ini menegaskan kesuciannya dari tuduhan keji dan menjanjikan ampunan serta rezeki mulia bagi mereka.
Pertemuan dan pertemanan sifat manusia yang berkarakter setara dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, sehingga setiap individu hendaknya memperhatikan siapa yang dijadikan teman dekatnya" (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Ketika teman memiliki adab, maka ia akan beradab. Tapi, bila teman yang mengeli-linginya berkarakter toxic dan manipulatif, maka akan terbangun karakter serupa, bahkan berpotensi lebih nista.
Melihat kisah-kisah yang dinukilkan di atas, terkandung pelajaran berharga.
Meski sebatas kisah fiksi dan mitologi, tapi begitu jelas nyata dan terus terjadi.
Fenomena kisah-kisah di atas begitu nyata, terutama terlihat pada "posisi dan status". Ketika posisi berada di atas, sejuta tangan menyambut dengan tepukan yang menggema, seakan tanpa dosa. Namun, ketika posisi di bawah, kata pujian berubah celaan dan fitnah penuh nista. Begitu sifat manusia yang dipesankan dalam kata bijak "tak ada teman sejati, tak ada musuh yang abadi, kecuali hanya ada kepentingan yang menjanjikan posisi dan pundi-pundi". Ketika itu, engkau akan melihat kenyataan bahwa "sepasang tangan yang diulurkan ketika engkau di bawah lebih mulia dibanding sejuta tangan yang menyambut-mu ketika dipuncak kejayaan". Fenomena nyata yang memperlihatkan kualitas watak dan karak-ter manusia yang sebenarnya. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor : Edwar Yaman