Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sosok Demagog vs Pedagog

Redaksi • Senin, 1 Juni 2026 | 05:05 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

 

Oleh : Samsul Nizar  

Secara bahasa, demagog dan pedagog adalah dua istilah yang berlawanan. Bila demagog adalah sosok manusia yang memanipulasi emosi sosial untuk me-nampilkan karakter anggun guna mem-perkuat posisi (status kekuasaan), maka pedagog adalah sosok manusia yang berkarakter mendidik, membangun nalar yang cerdas, dan berkarya nyata.

Dalam bahasa sederhana, sosok demagog hanya mengandalkan retorika "pepesan kosong" di atas podium, statement kebijak-an yang "nyeleneh" dan terkesan barbar, apologetis, menciptakan kegaduhan tanpa mampu berprestasi, atau varian lainnya. Kehadirannya hanya untuk memanipulasi media informasi, seakan semua yang ada merupakan prestasi dan hasil kerja keras-nya. Padahal, semua yang dikatakan telah terbangun kokoh jauh sebelum kehadiran-nya. Sedangkan sosok pedagog memiliki kualifikasi keilmuan, cita-cita, berkarya tiada henti, mencerdaskan, dan tata kerja-nya terfokus (terukur) untuk membangun peradaban yang rahmatan lil 'aalamiin.

Ketika kedua sosok di atas dipertemukan, maka eksistensinya bagaikan "minyak dan air". Ada beberapa konsekuensi ketika ke-duanya "menguasai" publik, antara lain :

Pertama, karakter manusia demagog akan menggunakan celah kuasa (aji mumpung) dengan membuli dan menyingkirkan sosok pedagog. Sebab, ia khawatir bila kebusukannya akan terbongkar. Berbagai cara dihalalkannya, baik laungsung maupun tak langsung. Bahkan, tak sungkan mengguna-kan kekuatan, kuasa, hukum, dan pundi untuk membungkam kebenaran.

Anehnya, sosok manusia demagog selalu dipercaya, tampil kepermukaan, dan diberi panggung megah. Sebab, ia pandai "ambil muka" dengan "wajah lugu tanpa dosa". Katanya penuh pujian, membela "sang pemilik kursi", dan gencar mempublikasi sesuatu yang --sebenarnya-- tak berkuali-tas. Meski sadar akan "kekokosangan akal-nya", namun ia tampil begitu percaya diri.

Baca Juga: UPA PKK Unri Jadi Penggerak Utama Career Fair dan Inkubator Bisnis pada MUED 2026

Bagi sosok demagog, senjata dan materi bukan ancaman. Justeru, ancaman yang ditakutinya hanya ketika sosok pedagog hakiki muncul dengan kritik kebenaran yang akan menyingkap kebusukannya. Untuk itu, sosok pedagog harus disingkir-kan (aksi atau intimidasi) dan dibungkam.

Fenomena di atas secara rinci dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di dalam-nya orang yang berdusta dipercaya sedang orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah, sedang orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat al-ruwaibidhah.” Sahabat bertanya“Apa itu al-ruwaibidhah ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda : “Yaitu orang bodoh yang berbicara (memberi fatwa) dalam urusan manusia” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Bila diperhatikan secara seksama, hadis di atas merupakan peringatan Rasulullah ﷺ mengenai fitnah akhir zaman. Masa ketika standar kebenaran menjadi terbalik (benar dinilai salah dan salah dinilai benar) dan menempatkan

orang yang tidak kompeten untuk mengatur urusan publik. Akibatnya, orang jahil mengatur orang pintar, amanah sebatas kata, fitnah merajalela dan terke-san sengaja diciptakan. Tujuannya agar umat terlena pada "pergunjingan" (fitnah) yang saling beririsan. Akibatnya, persoalan utama terpinggirkan dan terlupakan. Wajar bila kehancuran peradaban begitu masif.

Kedua, karakter manusia pedagog imitasi (formalitas). Meski mengerti hukum dan agama, tapi tak mampu mempertahankan idealisme dan menjaga kebenaran. Sosok-nya cerdas secara keilmuan, tapi penuh kepentingan (tanpa integritas). Kehadiran-nya bagai "baling-baling di atas bukit" yang berputar sesuai arah angin dan pesanan yang menguntungkan. Bicara menggelegar tapi sebatas kata, tanpa karya nyata.

Baca Juga: Lima Warga Binaan Lapas Bagansiapiapi Terima Remisi Khusus saat Hari Raya Waisak 

Idealisme sebatas ucapan dan tulisan di atas kertas. Realitanya sekedar "pembual" dan penyebar fitnah. Pertemanan dengan kebenaran hanya sebatas "lipstik" pemanis bibir. Tapi, bila idealisme menghambat tujuannya, ia tak ragu "berbalik arah" dan meninggalkannya. Sosoknya sebagai aktor dibalik layar yang memberi masukan (penjustifikasi) terhadap kaum demagog agar terlihat "hebat dan cerdas". Hal ini dilakukan agar "posisinya aman" dan dinilai loyal. Padahal, loyalitasnya merupa-kan upaya "menjilat" kaum demagong.

Eksistensi manusia berkarakter pedagog imitasi (formalitas) sangat berbahaya. Ia bisa lebih sadis ketimbang demagog. Ke-mampuan yang dimiliki dan status yang di-percayakan akan digunakan untuk men-dapatkan keuntungan. Ia pintar "angkat telur dan cari muka" dengan manfaatkan posisi demagog jahil yang begitu senang pujian. Tak peduli bila yang dilakukan harus mengorbankan teman yang telah berjasa. Hal ini diingatkan oleh leluhur melalui kata bijak "tak ada teman yang sejati, tak ada musuh yang abadi, kecuali kepentingan dan janji pundi atau posisi".

Bagi sosok pedagog imitasi, idealisme se-batas lipstik pemanis bibir yang mudah luntur. Bahkan, ia tega menggadaikan dan menjual harga diri. Untuk itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sabdanya : "Barang-siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka Allah akan mengekangnya dengan kekang api neraka pada hari kiamat" (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Hadis di atas secara tegas peringatan agar manusia berilmu tak menyembunyikan dan tutup mulut menyuarakan kebenaran. Aki-batnya, kebenaran terkubur dan kesalahan semakin subur. Untuk itu, bila pemilik ilmu tak lagi peduli lagi membela kebenaran, maka wajar bila api neraka sangat pantas sebagai balasan setimpal akibat mulutnya bungkam dari menyuarakan kebenaran atas kesalahan yang begitu nyata. Sosok demagog acapkali menggunakan pedagog formalitas (imitasi) untuk dijadikan "pion" yang dibenturkan dengan sosok pedagog penjaga idealisme. Untuk itu, arena "debat kusir" sengaja diciptakan agar tiada henti. Tujuannya agar publik terfokus pada per-debatan murahan dan lupa substansi (inti) persoalan (masalah) yang sebenarnya.

Ketiga, karakter manusia pedagog hakiki (ideal) yang istiqomah menjaga kebenaran dan moralitas. Dalam konteks ini, Allah dan Rasul-Nya sangat memuliakan kaum pedagog yang istiqomah. Hal ini sesuai firman-Nya : "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu ; maka barang-siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'" (QS. al-Kahfi : 29).

Baca Juga: Warga Diminta Waspada Terhadap Potensi Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Kampar

Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat di atas sebagai penegasan bahwa Allah memberi manusia kebebasan memilih antara iman atau kafir. Janji surga bagi yang menjaga iman dan menjunjung tinggi kebenaran. Meski dunia membencinya, tapi Allah dan Rasul-Nya sangat mencintai. Sebaliknya, ancaman siksaan neraka bagi pelaku zalim dan munafik. Mungkin sikapnya disenangi penduduk dunia, tapi hina dihadapan Allah dan Rasul-Nya.

Manusia berkarater pedagog hakiki selalu menjaga nilai kebenaran, profesionalitas, dedikasi, amanah, dan integritas diri untuk meraih ridho Allah dan Rasul-Nya. Sosok-nya senantiasa mengimplementasikan ajaran nabi Muhammad ﷺ. Hal ini sesuai sabdanya : "Sesungguhnya ulama (hakiki) adalah pewaris para Nabi..." (HR. Abu Daud).

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menjelas-kan kualitas ulama : "Barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayahnya (ketakwaannya), maka ia tidak akan semakin dekat kepada Allah melain-kan semakin jauh" (HR. Ath-Thabrani).

Meski banyak manusia yang mengaku diri-nya ulama, tapi tak semua dimaksudkan oleh hadis di atas. Paling tidak, ada 2 (dua) kategori ulama, yaitu : (1) ulama rabbani (hakiki). Ia selalu menjaga kesucian ilmu dengan berbalut  adab mulia. Kategori ini diwakili sosok pedagog hakiki. (2) ulama  suu'  (imitasi) sebatas label untuk mencari keuntungan duniawi. Tampil begitu anggun dan kata lembut tersusun, tapi menyembunyikan kesombongan, kemunafikan, dan keserakahan. Kategori karakter ini diwakili oleh sosok pedagog imitasi dan terlihat nyata ketika diberi "panggung dan kursi".

Dalam Islam, sosok pedagog yang selalu istiqomah diharapkan menjadi suluh pene-rang cahaya kebenaran. Hal ini mengimple-mentasikan sabda Rasulullah ﷺ : "Kata-kanlah kebenaran meskipun itu pahit" (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad).

Hadis di atas merupakan perintah Nabi Muhammad ﷺ kepada umatnya agar  berani menyuarakan kebenaran (keadilan), meskipun jalan tersebut terjal dan berat. Sebab, jalan ini acapkali dibenci, dicela, atau tak disenangi oleh pelaku kejahatan. Namun, perintah Rasulullah ﷺ acapkali tak dihiraukan. Di akhir zaman, komunitas demagog dan pedagog imitasi tampil lebih dominan dan  menguasai "panggung". Tapi eksistensinya cenderung mencampakkan nilai-nilai kebenaran dengan membela ke-salahan untuk meraih keuntungan (pribadi atau kolektif) duniawi. Karakter ini begitu dikhawatirkan Rasulullah ﷺ. Hal ini sesuai sabdanya : "Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya" (HR. Bukhari).

Meski hadis di atas begitu populer, tapi tidak pernah dipedomani. Teksnya hanya dihafal, tapi sulit dilaksanakan. Nasehat  agung dan suci, tapi tak pernah dipeduli. Sabda mulia, tapi sebatas selingan canda dan tawa. Peringatan yang begitu keras dan tegas, tapi dianggap "angin lalu" tanpa bekas. Begitu angkuh manusia merespon semua firman-Nya dan sabda Rasulullah. Padahal, Allah secara spesifik

menegur keangkuhan manusia dengan nada yang keras. Hal ini tertuang pada QS  Luqman : 18 dengan menyebutkan manusia yang angkuh melebihi makhluk paling angkuh (Iblis). Tapi semua menutup mata dan bisu.

Sungguh, Allah dan Rasul-Nya merindukan sosok pedagog hakiki. Sosok penjaga ke-benaran dengan simpul adab mulia. Se-moga masih tersisa sosok pedagog hakiki akhir zaman yang senantiasa istiqomah pada nilai kebenaran. Sebab, kehadirannya akan meminimalisir ruang gerak destruktif kaum demagog dan pedagog imitasi yang "bergentayangan" merusak peradaban. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

 

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

Editor : Edwar Yaman
#demagog #pedagog #emosi sosial