Oleh : Samsul Nizar
Dikisahkan, Allah pernah mengutuk Bani Israil menjadi monyet. Peristiwa ini terjadi di negeri Ailah (Elath), sebuah kota pelabuhan kuno di tepi Laut Merah. Kutukan ini menimpa penduduk Israil yang melanggar "perjanjian suci" agar tidak menangkap ikan di hari Sabtu (Sabat). Kisah nyata ini dijelaskan secara rinci melalui firman-Nya dalam QS. al-Baqarah : 65-66, QS. al-A'raf : 163-166, dan QS. al-Maidah : 60).
Awalnya, penduduk negeri Ailah (Elath) se-lalu mematuhi larangan-Nya. Tapi, Allah menguji ketaqwaan bani Israil. Setiap hari sabtu, rombongan ikan berdatangan ber-bondong-bondong ke tepi pantai. Feno-mena ini hanya terjadi setiap hari Sabtu dan bukan pada hari lain. Anehnya, selain hari sabtu, ikan-ikan sangat sulit diperoleh. Padahal, kehidupan mereka sebagai nela-yan bergantung dari penangkapan ikan.
Melihat fenomena ini, nafsu serakah melahirkan akal licik. Mereka beramai-ramai membuat bendungan dari batu dan jaring yang dibentangkan di hari jumat. Harapan-nya agar ketika air pasang naik di hari sabtu, maka ikan akan datang dan begitu air surut akan terperangkap dalam ben-dungan yang dibuat. Begitu hari minggu, mereka memanen ikan yang terperangkap dengan hasil yang berlimpah ruah dan tumpukan pundi berlipat ganda.
Ketika melihat perilaku sebagian penduduk yang demikian, nabi Daud AS bertanya, "kenapa kalian melanggar perjanjian dengan Allah ?". Dengan rasa tanpa dosa mereka berkata, "kami tak pernah berbuat pelanggaran atas perjanjian suci tersebut.
Baca Juga: Jalur Keramat Jubah Merah Raih Gelar Juara Tepian Burondo Pangean
Sebab, kami tak pernah menangkap dan mengambil ikan pada hari sabtu. Kami hanya mengambilnya di hari ahad". Terjadi-lah perdebatan antara nabi Daud dengan penduduk negeri Ailah (Elath). Perdebatan berlangsung alot ala "debat kusir". Mereka secara sadar menggunakan logika licik. Alasan licik tersebut didukung mayoritas penduduk yang berwatak serupa. Mereka begitu sombong dan merasa mampu "mengelabui" Allah dengan muslihat dan alasan (retorika) licik yang dibangun.
Akibat kelicikan dan logika sesat yang di-paksakan telah merubah seluruh pelaku yang awalnya taat menjadi membangkang. Pembangkangan tersebut menyebabkan turun murka-Nya. Mereka dikutuk menjadi monyet yang hina selama 3 (tiga) hari. Pada hari keempat, pelaku kelicikan dibinasakan dengan azab yang pedih.
Tragedi di atas dinukilkan melalui firman-Nya : "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik" (QS. al-A'raf : 163).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan kisah Bani Israil yang diuji oleh Allah SWT terkait larangan menangkap ikan pada hari Sabtu (Sabat). Namun, keserakah menjadikannya melanggar "perjanjian suci" melalui tipu muslihat (hilah) dengan cara memasang bendungan dan jala pada hari jumat, lalu mengambilnya pada hari ahad. Kelicikan Bani Israil ini menunjukkan sikap menentang dan melampaui batas (fasiq). Mereka seolah menghindari larangan, tapi secara sadar melakukan pelanggaran. Hal ini membuktikan adanya niat untuk meng-halalkan yang haram dengan berbagai tipu daya (muslihat). Akibatnya, mereka semua dikutuk menjadi monyet. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya : "Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka : 'Jadilah kamu kera yang hina'. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. al-Baqarah 65-66).
Menurut Imam al-Qurthubi, ayat di atas me-rupakan bentuk murka-Nya dan i'tibar yang begitu nyata, tapi acapkali didustakan dan diingkari. Bila kaum Yahudi mengingkari janji suci hari Sabat, tapi manusia akhir zaman mengkhianati setiap diberi amanah.
Baca Juga: SPMB SMP dan SD Dibuka, Disdik Ingatkan Orang Tua Daftar Lewat Jalur Resmi
Ketika laknat Allah menimpa, kaum Yahudi terbagi menjadi tiga golongan, yaitu : (1) Pelaku pelanggaran (mereka yang sengaja membuat tipu muslihat dan logika nista). Mereka merupakan kelompok mayoritas. (2) Penjaga kebenaran (mereka yang taat dan melarang perbuatan maksiat). Namun, kelompok ini acapkali dibenci, dibuli, dan disingkirkan. (3) Kaum apatis yang hanya menyerahkan semua pada-Nya. Mereka tak berusaha memperbaiki dan tak pula mengikuti kemungkaran yang terjadi. Dalam sejarah, kutukan fisik menjadi monyet hanya menimpa terhadap pelaku maksiat (fasik). Sementara bagi hamba-Nya yang taat selamat dari murka-Nya.
Tragedi yang menimpa kaum Yahudi di atas mengandung pelajaran yang relevan dengan fenomena abad modern, yaitu :
Pertama, Tampil sosok manusia fasik. Tampil seakan taat beragama, namun semua hanya muslihat menutupi perilaku kemungkaran. Kata indah beruntai ayat-Nya, asesories berbalut busana dan tampil anggun bak "penghuni surga", serta silau "cahaya pencitraan" yang begitu menyilau-kan. Padahal, semua hanya fatamorgana yang menutupi "kebusukan" perilakunya.
Meski semua kenistaan dan kezaliman begitu nyata, namun umat mengapresiasi dengan "tepukan gemuruh" dan pujian yang membahana. Seakan tak lagi tersisa pemilik kebenaran atau mungkin kebenar-an telah mati. Semua fenomena di atas diingatkan dan berikut ancaman komuni-tas tersebut. Hal ini sesuai firman-Nya : "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat" (QS. al-Baqarah : 7).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas ditujukan pada manusia yang mengingkari dan menolak kebenaran. Allah mengunci mati hati, pendengaran, dan penglihatannya. Mereka tertutup dari hidayah-Nya. Untuk itu, wajar bila ayat-Nya dan nasehat kebenaran tak pernah mampu "meluruskan" hati yang bengkok dan memperbaiki yang busuk. Bagi mereka siksa yang sangat pedih.
Kedua, Sosok yang pintar memutarbalikan logika (agama dan hukum), menolak kebe-naran, dan membenarkan kebatilan untuk membenarkan kesalahan yang dilakukan-nya. Sebab, mereka tak pernah mengambil ikan pada hari yang dilarang (hari sabat). Tapi "mengkondisikan" terkumpulnya ikan di hari sabtu. Logika serupa terjadi pada pelanggaran hukum akibat keserakahan (korupsi) manusia. Pelaku memang tak pernah mengambil (menerima) "upeti". Padahal, ia aktor yang mengkondisikan kebijakan agar semua pundi terkumpul melalui "tangan orang kepercayaan" ala jaring kaum Yahudi. Begitu nyata transaksi terjadi , tapi didiamkan dan nilai wajar. Perilaku yang demikian dinukilkan melalui firman-Nya : "Mereka (orang-orang Yahudi dan munafik) sangat suka mendengar kebohongan dan men-dengar (berita-berita) dari kaum lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah perkataan (Allah) dari makna yang sebenarnya..." (QS. al-Maidah : 41).
Menurut Imam Al-Qurthubi, ayat di atas menjelaskan sifat para tokoh Yahudi yang memanipulasi Taurat sesuai keinginannya. Mereka enggan tunduk pada hukum Allah, mendengarkan kebohongan, munafik, dan mengubah isi kitab suci demi kepentingan sesuai yang mereka inginkan (kolektif).
Ketiga, I'tibar Allah merubah kaum Yahudi menjadi monyet hina karena kesamaan sifatnya dengan manusia. Sebab, monyet merupakan primata yang aktif, cerdas, dan bersosial. Monyet memiliki kemampuan kognitif dalam menggunakan alat yang sederhana, rasa ingin tahu yang tinggi, serta sifat adaptif yang kuat dalam men-jelajahi lingkungan. Namun, monyet me-rupakan hewan paling serakah --layaknya Yahudi-- dan suka melanggar aturan. Ironisnya, meski salah si monyet tak pernah mau mengakui dan merasa ber-salah. Meski mulutnya telah terisi penuh makanan, tangan dan kaki memegang makanan, serta beringas bila ada yang mau mengambil makanan yang ada di depannya. Karakter monyet terhadap makanan mengenyampingkan solidaritas. Sifat serakah yang dimiliki membuatnya ingin berkuasa dan menguasai.
Baca Juga: Bank Nagari Perkuat Sinergi dengan IKM
Apa yang menimpa kaum Yahudi di atas menjadi pelajaran yang nyata. Murka-Nya atas tipu muslihat dan kelicikan kaum Yahudi di atas berpotensi menimpa pada manusia sepanjang sejarah hingga akhir zaman. Bila sifat monyet telah menguasai diri, maka manusia pada hakikatnya telah mengikuti watak licik "kaum Yahudi" dan dilaknat menjadi seekor monyet. Meski fisik tetap manusia, tapi perilaku dan sifat-nya berkorelasi kebiasaan seekor monyet.
Meski manusia marah dan tak mau dikata-kan monyet, tapi Allah telah menyatakan-nya dalam al-Quran. Andai sisi keenggan-an sebagai "monyet", maka ada 3 (tiga) pi-lihan, yaitu : (1) tinggalkan semua perilaku kemungkaran yang dilarang-Nya. Pilihan ini merupakan cara hamba "tau jalan pulang". (2) nafikan ayat al-Quran yang berkaitan berbagai larangan agar bisa lebih leluasa melakukan kemungkaran. Pilihan ini meru-pakan jalan kesesatan. (3) masa bodoh dan tak peduli atas semua ayat-Nya. Pilihan
ini merupakan jalan kekufuran.
Pilihan ke-1 wujud iman dan kebijaksana-an. Tapi, bila pilihan ke-2 dan ke-3, maka Allah mengingatkan melalui firman-Nya : "Sesungguhnya orang-orang yang mendusta-kan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka dan mereka tidak akan masuk surga, sampai unta bisa masuk ke lubang jarum..." (QS. al-A'raf : 40).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelas-kan tentang azab yang pedih bagi orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri. Sebuah perumpama-an kemustahilan untuk memperoleh keber-kahan-Nya (surga).
Semua pilihan tergantung pada kualitas keimanan setiap diri. Pilihan penghamba-an pada-Nya atau memperbudak diri pada nafsu serakah untuk menguasai duniawi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor : Edwar Yaman