Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Penguatan Kesadaran Diri

Redaksi • Senin, 29 Juni 2026 | 05:06 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

 

Oleh: Samsul Nizar  

SUNGGUH, manusia acapkali begitu aneh. Kualitas permata tak terlihat dan tak pula dihargai karena letaknya di pojok gudang yang berdebu. Tapi, batu bata yang kotor justeru dinilai berharga karena letaknya di etalase mewah. Begitu standard penilaian manusia berkepribadian rendah. Melihat nilai hanya berdasarkan  kondisi dan status, bukan kualitas objek.

Fenomena penilaian di atas telah diingat-kan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib RA : "Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat-lah apa yang dibicarakan". Kata bijak yang penuh hikmah dari sang "pemegang kunci" perbendaharaan ilmu nabi Muhammad ﷺ. Sayangnya, untaian hikmah tersebur sekadar dibaca tapi begitu sulit bahkan enggan dipedomani umat akhir zaman. Sebab, manusia telah dibutakan oleh wujud ilusi dan kemunafikan. Manusia justeru lihai memutarbalikan nasehat tersebut. Hanya fokus "melihat siapa yang berbicara, tapi tak perlu melihat apa yang dibicarakan".  Sungguh pengingkaran nyata yang tanpa adab. Anehnya, logika terbalik ini dianggap biasa dan menjadi tradisi "menjilat posisi". Penyakit ini berpotensi menerpa seluruh komponen, tanpa terkecuali. Hanya sosok pemilik iman yang lurus mampu selamat.

Baca Juga: Hari Perdana MTQ Ke-44 Riau, 40 Peserta Terbaik Kafilah Kampar Mulai Bertanding

Meski ilmu mengajarkan "jalan kebenaran", tapi acapkali tak mampu menghantarkan pemiliknya menemukan tujuan yang benar. Sebab, tujuan hakiki yang ingin dituju telah diselimuti awan fatamorgana nafsu sera-kah yang menampilkan "kenikmatan dan keindahan memukau".  Akibatnya, kebenar-an ilmu yang dipelajari acapkali tak bisa terlihat, bahkan nyatanya bertolak bela-kang. Untuk itu, wajar bila deretan gelar atau tingginya status acapkali tak berkore-lasi dengan perilaku nyata. Perilaku biadab yang ditutupi asesoris palsu seakan sosok beradab. Penghargaan dan pujian begitu menggema hanya ketika memiliki posisi. Padahal isi kepala dan untaian kata yang sebenarnya hanya biasa-biasa saja dan terkadang sepele, murahan, sampah, dan "aneh atau kampungan". Sebaliknya, "kesunyian" begitu terasa bila keluar dari mulut strata "rakyat jelata". Padahal, isinya merupakan kebenaran yang cahayanya menembus dan mengguncang langit. Ketika hal ini terjadi, pejuang kebenaran seakan hidup dalam kesendirian di tengah "hutan jahiliyah" dan hiruk pikuk teriakan peradaban yang semu penuh kemunafikan.

Sungguh, bagi manusia tanpa dasar ilmu dan iman, fase hidup "di atas" membuat tumbuh subur kesombongan. Sedangkan bagi fase hidup "di bawah" merupakan ruang begitu sempit dan tak ada yang hadir membantu. Tak ada yang memberi semangat, memperhatikan, atau peduli. Pada fase ini, banyak manusia runtuh,  bukan karena beban yang berat tapi merasa sendiri tanpa ada yang peduli. Padahal, fase ini Allah sedang membentuk karakter dan mental hamba pilihan-Nya. Untuk itu, sandarkan pada pemilik kehidup-an yang tak pernah melupakan hamba pencari kebenaran dan perlindungan-Nya.

Ada beberapa langkah yang perlu dilaku-kan bagi menyadarkan diri pemilik harga diri (kebenaran), antara lain :

Pertama, Sadari tak semua perjuangan yang penuh resiko dan dinamika mendapat perhatian dan tepuk tangan, dihargai, dan diapresiasi. Sebab, perjuangan, pemikiran cerdas, dan karya nyata tak memerlukan validasi makhluk. Baginya, kepuasan hadir bila berhasil menghadirkan kebermanfaat-an, membawa kebajikan, dan rahmat bagi semesta (QS. al-Anbiya' : 107). Biar Allah yang mengetahui dan penduduk langit yang menyaksikan semuanya. Sementara, sosok manusia "culas dan khianat" selalu berupaya dan berharap validasi. Ia bangga berdampingan dan bersama sumber kesalahan. Mereka "tertidur" ketika proses memperjuangkan kebenaran. Tapi, begitu keberhasilan tercapai, tampil euforia dan paling depan bak "pahlawan kesiangan". Agar masyarakat memberikannya validasi, maka upaya "menutupi sejarah" dan menghilangkan jejak pelaku sejarah. Akibatnya, sejarah terkubur seiring tumbuh subur pohon benalu yang begitu jumawa di media sosial (flexing) menampilkan sejuta prestise tanpa secuil prestasi.

Baca Juga: Heboh! Tahanan Polres Bengkalis Meninggal saat Dirawat di RSUD, Begini Penjelasan Kasi Humas

Kedua, Jadikan "kesunyian dan kesendiri-an" dengan selimut karya yang digoreskan sebagai ruang mengenal diri untuk dekat dengan Allah. Sebab, kesunyian dalam berprestasi mengajarkan keikhlasan (QS. al-Baqarah : 271). Sementara keriuhan te-puk tangan atau pujian yang menggema acapkali membuat lupa diri. Padahal, ia sedang menapaki "medan terjal" yang akan menggelincirkannya dari kebajikan. Rasulullah mengingatkan dalam sabda-nya : "Taburkanlah debu ke wajah orang-orang yang gemar memuji (menyanjung)." (HR. Muslim).

Hadis di atas ditujukan kepada orang yang memuji secara berlebihan. Pujian yang tak sepantasnya dan acapkali merupakan bentuk kemunafikan atau "ambil muka". Padahal, semua pujian hanya milik Allah (QS. al-Fatihah : 2). Untuk itu, Allah sangat mencela manusia yang "gila pujian". Hal ini

tertuang dalam firman-Nya : "Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka kerjakan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka terlepas dari siksa. Mereka akan mendapat siksa yang pedih" (QS. Ali 'Imran : 188).

Ibnu Katsir mengutip riwayat dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri dan Marwan bin Hakam. Ayat di atas turun terkait orang-orang munafik di masa Rasulullah ﷺ yang sering mangkir dari jihad, namun mereka merasa senang dan gembira dengan ketidakhadirannya. Anehnya, saat Nabi ﷺ dann sahabat kembali dari medan perang, mereka mengarang berbagai alasan dusta dan bersandiwara agar dipuji seolah-olah ikut. Bahkan, sebagian lagi menyatakan (merekayasa) alasan sebagai orang-orang yang berhalangan dan ingin ikut berjuang.

Baca Juga: Inilah 7 Manfaat Cengkeh untuk Kesehatan Tubuh, Mulai dari Pengendalain Gula Darah hingga Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Ketiga, Bangun komunikasi pada Allah tempat muara harapan yang hakiki. Ketika itu, Allah akan menjawab semua rintihan dengan cara-Nya. Kepedihan merupakan nikmat bagi hamba yang mengerti. Sebab, Allah sedang merindukannya. Hal ini ter-tuang dalam hadis qudsi, Allah berfirman : "Pergilah kepada hamba-Ku, lalu timpakan-lah ujian kepada mereka, karena aku rindu mendengar rintihannya” (HR. Thabrani dan Abu Umamah).

Hadis di atas menjelaskan qudsi bahwa nikmat adalah ujian dan musibah adalah cobaan. Keduanya merupakan bentuk kasih sayang-Nya. Melalui ujian (nikmat), Allah rindu mendengar hamba-Nya yang bersyukur atas semua nikmat-Nya. Sedang-kan cobaan merupakan media munajat dan rintihan hamba untuk mengadu, bercerita, dan memohon pertolongan-Nya. Namun, manusia sering kali lalai (lupa diri) ketika senang (sombong) dan putus asa ketika sulit (QS. al-Isra' : 83 dan QS. al-Fushilat : 51).

Keempat, Fokus pada langkah kecil tanpa pernah berhenti. Sebab, Allah akan melihat kualitas istiqomah hamba, bukan "langkah besar" tapi tak pernah dilakukan. Padahal, Allah membenci manusia yang lisannya tak sesuai amal perbuatannya (karya). Hal ini tertuang pada firman-Nya :"Wahai orang-orang yang beriman !. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?. (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (QS. ash-Shaff : 2-3).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas seba-gai teguran keras dari Allah SWT mengenai pentingnya keselarasan antara ucapan dan perbuatan (integritas), serta mencela sifat kaum munafik. Kaum yang hanya menjanji-kan sesuatu kebaikan, namun tak pernah dilakukan dan terwujud.

Kelima, Berhenti menjelaskan diri. Sebab, tak semua orang mau memahami, apatah-lagi menghargai. Sebab, manusia akhir zaman tak lagi mau mendengarkan apa (isi) kebenaran, tapi hanya mendengarkan siapa yang bicara. Semakin tinggi status yang dimiliki, manusia mendengarkan kata-nya bagai "berlian". Padahal, di mata Allah hanya "tumpukan kotoran" yang bernajis.

Keenam, Rawat energi cerdas dengan me-mikirkan sesuatu yang bermanfaat, bukan terpengaruh pada "tumpukan sampah" yang keluar dari mulut berbelatung dan menghiasi media sosial. Sebab, tumpukan sampah hanya akan menutupi kemuliaan kecerdasan yang dimiliki. Bagi pemilik akal cerdas, tiada hari tanpa karya. Sedangkan bagi pemilik akal culas, tiada hari tanpa publikasi untuk dipuji (flexing),  jualan ide pepesan kosong, mencari kesalahan orang lain, dan mengejar prestise tanpa prestasi.

Ketujuh, Temukan makna dan rahasia-Nya dalam setiap langkah perjuangan. Sebab, setiap fenomena dan gerak langkah terkan-dung pelajaran dan pesan-Nya (QS. Ali Imran : 191). Pada waktunya, Allah akan buka pintu hikmah-Nya (QS. al-Baqarah : 282) bagi hamba pilihan. Ketika ma'rifat tersingkap, semua rahasia akan terbuka. Tak ada yang bisa ditutupi. Ketika hal ter-sebut dianugerahkan-Nya, maka dukungan, pujian, dan apresiasi manusia tak lagi berarti. Sebab, pujian manusia bersifat temporer, terselubung kemunafikan, dan penuh kepentingan. Ketika kepentingan tak lagi ada, maka akal dan hati manusia tak lagi mau menghargai, tapi membenci kebenaran. Sebab, semua media untuk menemukan kebenaran telah tertutup oleh kejahilannya (QS. al-Baqarah : 7).

Menurut para mufasir, kenikmatan yang dijelaskan oleh ayat di atas merupakan hukuman (istidraj) dari Allah. Meski ia beriman dan tau isi ajaran-Nya, tapi nafsu duniawi membuatnya begitu sadar meng-ingkari dan menolak kebenaran, mendusta-kan agama, dan terus-menerus dalam kefasikan. Ketika kondisi ini terjadi, maka tak ada harapan ruang kebajikan dan per-baikan yang akan dimunculkannya. Meski seluruh penduduk bumi memuliakan, tapi yakinlah bahwa Allah dan penduduk langit akan memandang hina setiap pembawa (pemilik) kemunafikan dan penyebab hadir-nya kezaliman (kesombongan). Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
#kesadaran diri