Oleh : Samsul Nizar
PESTA sepakbola Piala Dunia 2026 hampir berakhir. Babak 8 Besar telah bergulir, dilanjutkan babak semifinal, dan final. Semua pecinta bola hanyut dan terbuai oleh tim (negara favorit) jagoannya. Sungguh, pesta 4 tahunan yang digelar FIFA ini mengandung pelajaran yang sangat bernilai, tapi hanya sediki yang sempat atau mau mengambil intisari bagi kehidupan. Semua mata hanya tertuju pada tampilan lahiriyah, tanpa mau melihat misteri di sebaliknya. Anehnya, peramal justru lebih dipercaya, seakan tak ada iman yang tersisa.
Paling tidak, ada beberapa pelajaran atas karakter yang bisa dipetik, antara lain :
Pertama, Pemain dan penonton. Pada level pemain, aktor sepakbola mengedepankan kualitas (skill), sportivitas, dan seni. Kolaborasi yang mengantarkannya memperoleh penghargaan dan pundi. Bila beratraksi, mereka tak pernah mempubli-kasikan diri, tapi dipublikasikan pihak lain atas prestasi dan skill yang dimiliki. Sementara, level penonton hanya mengandal-kan suara dan mengeluarkan pundi untuk memperoleh tiket, tapi tak pernah meraih penghargaan. Level penonton yang hanya mengandalkan suara dan komentar semu layaknya lebih pintar, benar, dan serbatahu strategi. Tapi, semua sebatas retorika yang dibungkus kemegahan jersi semata. Ketika timnya menang, euforia penonton lebih dominan ketimbang para pemain. Gema teriakan dan pesta meriah menghiasi jagat media sosial.
Demikian karakter dan level manusia dalam bersosial dan beragama. Bagi pelaku kebajikan hakiki, aktivitas karya dan ibadah selalu disembunyikan agar menghasilkan ganjaran (pahala) untuk bersama-Nya. Berbeda bagi level "penggembira", publikasi dan euforia lebih utama. Layaknya sosok mumpuni dengan untaian kritik yang tak pernah menghasilkan kebaikan (prestasi) nyata. Karakter level penonton yang meng-andalkan suara nyaring dan komentator yang hanya beretorika tanpa memiliki ke-mampuan nyata. Dalam Islam, kesalehan bukan terletak pada tampilan, kata manis, atau posisi mulia. Kesalehan hadir dari kesucian hati dan terpantul pada perilaku nyata dan adab mulia. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ : "Sesungguhnya Allah tidak melihat penampilan fisik dan harta kalian, melainkan Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian" (HR. Muslim).
Baca Juga: Sasar Kampung Dalam hingga Pangeran Hidayat, Polisi Amankan Empat Terduga Penyalahguna Narkoba
Meski hadis di atas begitu jelas, namun realitanya tanpa bekas. Begitu indah pada teori, tapi berbeda dalam wujud kehidupan nyata. Sungguh, manusia hanya hadir secara teori layaknya "pemain" (khalifah) paling mulia, tapi kualitas aslinya hanya level "penonton dan penggembira" semata.
Dalam dunia nyata, level "penonton" lebih mendominasi dan mengisi di semua lini peradaban. Euforianya bak pahlawan, meski sebatas "pahlawan kesiangan". Tampil bergaya dan komentar bak "pemain bintang", namun tak pernah tampil di gelanggang, apatahlagi mampu melesak-an bola dalam gawang. Hanya duduk manis sambil menyerumput segelas kopi, meski terkadang "over acting" bak aktor utama. Level ini justeru mengalahkan pemain pilar utama yang kadang dilupa-kan. Demikian nyata karakter manusia penikmat peradaban, tapi mengaku aktor perubahan. Demikian akibat bila sosok penggawa (lapangan hijau) yang diangkat dari kalangan level "penonton". Bila berhasil (menang), ia bersorak bak "pahlawan kesiangan". Tapi, bila gagal (kalah), sejuta alasan mencari "kambing hitam" yang akan dikorbankan.
Kedua, Benturan fisik pada level pemain di lapangan hijau sebatas keniscayaan (sunnatullah) dan seni. Tak ada dendam yang terpendam. Setelah pertandingan selesai, para pemain bersalaman bahkan bertukar jersi. Keakraban terbangun atas pondasi profesionalitas.
Sementara benturan fisik dan kata di level penonton bisa menyebabkan perkelahian dan dendam kesumat sampai kiamat. Ter-bangun fanatisme "barbar" atas ashabiah komunitas, bukan atas dasar kemampuan (skill) dan profesionalitas. Bila menang begitu pongah. Tapi, bila timnya kalah rasa kecewa akut menerpa. Cibiran, makian, bahkan berbagai perusakan fasilitas yang acapkali terjadi. Bila benturan fisik antar pemain didasari alasan profesi dan sesuai aturan, tapi benturan antar penonton atas emosi, kepentingan, dan tanpa aturan.
Baca Juga: Kabar Duka! Komedian Temon Berpulang, Bopak Castello Sebut Mendadak
Demikian "sepak bola" kehidupan nyata. Benturan atas perbedaan pendapat dan "warna kepentingan" acapkali tak terelak-an. Siap menang, tapi tak siap kalah. Siap mengkritik, tapi tak mau dikritik. Acapkali menyakiti, tapi murka bila disakiti. Selalu menyalahkan, tapi tak mau disalahkan. Begitu nyata ego manusia level pemain tapi berkarakter penonton. Akibatnya, perilaku yang ditunjukan acapkali melam-paui batas kemanusiaan. Untuk itu, Allah telah mengingatkan melalui firman-Nya : "Sesungguhnya Kami telah mengemuka-kan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh" (QS. al-Ahzab : 72).
Dalam tafsir al-Qurthubi, ayat di atas merupakan perumpamaan (majaz) tentang beratnya memikul amanah atau kewajiban agama dan ketaatan. Ketika Allah bertanya kepada langit, bumi, dan gunung, namun semua menolak. Mereka takut bila gagal menjalankannya dan azab yang menyertai-nya. Tapi, manusia justeru menyanggupi-nya. Kesediaan manusia menerima amanah menunjukan 2 (dua) tabiat yang mendominasi, yaitu : (1) zhaluma (sangat zalim) ; manusia berpotensi menyia-nyia-kan amanah atau tidak menunaikannya dengan benar. (2) jahula (sangat bodoh) ; manusia tak menyadari atau memikirkan akibat buruk yang akan menimpanya di akhirat akibat kelalaian yang dilakukan. Tujuan utama memperoleh amanah, meski sadar tak mampu menjalankannya secara benar. Kedua tabiat ini begitu mengemuka di dunia nyata. Meski sadar tak memiliki kemampuan, tapi hasrat dan ego lebih menguasai dirinya. Berharap "amanah" di lisan, tapi tegak kokoh sifat khianat dalam diri. Bila ada saingan yang lebih mumpuni, dianggap musuh yang harus dibasmi. Akibatnya, tampil sosok komunitas yang "sesifat" agar "pengkhianatan" berjalan mulus, menghasilkan fulus, dan memper-kuat status. Tabiat ini sangat dicela dan di-murkai-Nya. Untuk itu, Allah mengingatkan agar bijak memilih komunitas yang berkualitas. Hal ini tertuang melalui firman-Nya : ".....Wahai, celakalah aku !. Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku)" (QS. al-Furqan : 28).
Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat di atas sebagai bentuk penyesalan terhadap orang-orang zalim di akhirat akibat salah memilih komunitas (sahabat atau lingkung-an pergaulan). Sebab, komunitas tersebut saling mendukung dalam kemaksiatan. Pilihan komunitas yang hanya didasari "kepentingan", bukan ketaatan kepada Allah. Pada waktunya akan berujung pada azab dan murka-Nya.
Ketiga, Level wasit (hakim) pertandingan "di bawah telunjuk" yang begitu kaya teori, tapi miskin harga diri. Hanya sebatas juri yang berlari di lapangan hijau. Bila bola menyentuh tangan pemain, wasit meniup peluit tanda handsball. Tapi, begitu bola menyentuh tangan si wasit, ia hanya senyum manis tanpa merasa bersalah dan luput dari hukuman. Sebab, aturan hanya berlaku pada pemain, tapi tak berlaku untuk wasit dan hakim garis, apalagi penonton yang memenuhi stadion dan bebas beratraksi. Andai wasit (hakim) diberi kesempatan menjadi pemain, "godaan si kulit bundar" akan membuatnya lebih banyak melakukan pelanggaran. Bahkan, dagelan "sepakbola" level dunia membuat keadilan begitu miris. Ternyata, akibat intervensi Donald Trump terhadap FIFA, wasit (hakim) yang mengawal pertandingan tak kuasa mengganjar kartu merah pemain USA (Folarin Balogun).
Baca Juga: Argentina Kalahkan Swiss 3-1 lewat Perpanjangan Waktu untuk Hadapi Inggris di Semifinal
Ketidakadilan bukan sebatas harga diri, tapi sepak bola level dunia (2026) telah kehilangan nilai sportivitas dan keadilan. Hal yang sama acapkali terjadi di level oknum tokoh lintas level di dunia nyata. Ketika mereka diamanahkan menjadi "pemain" justru lebih arogan dan acapkali melanggar aturan. Atau kuasa "dalang" yang menghendaki siapa yang akan dimenangkan demi "transaksi perjudian" yang menguntungkan. Bila wasit ditugaskan untuk mengawal kebenaran justeru melakukan pelanggaran, atau wasit men-jadi "pemain", maka pertandingan tak lagi layak ditonton. Kompetisi bukan lagi men-cari kualitas, tapi siapa yang bisa mengisi tas. Semua yang terjadi akibat ulah jahil "dalang si tangan sakti" di luar arena melakukan intervensi agar oknum yang "dilindungi" tak tersentuh jeratan hukum. Padahal, Rasulullah ﷺ begitu tegas meng-ingatkan posisi dan amanah wasit (hakim). Hal ini tertuang dalam sabdanya :"Hakim itu ada tiga, dua di neraka dan satu di surga. Hakim yang memutuskan hukum dengan tidak benar (zalim), sedangkan ia mengetahuinya, maka ia di neraka. Hakim yang tidak mengetahui kebenaran (sehing-ga keliru), maka ia pun di neraka. Hakim yang memutuskan hukum dengan kebenar-an, maka ia di surga" (HR. at-Tirmidzi).
Untuk itu, Allah mengingatkan amanah bagi wasit (hakim) melalui firman-Nya : "Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetap-kannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baiknya yang memberikan pengajaran kepadamu" (QS. an-Nisa : 58).
Al-Qurthubi menegaskan bahwa ayat di atas merupakan fondasi etika (akhlak), hukum, dan keadilan dalam Islam. Nilai keadilan merupakan perintah mutlak Allah yang wajib ditegakkan tanpa pandang bulu untuk menciptakan kemaslahatan. Dalam ilmu mantiq, bila penegakan hukum (wasit) masih memandang bulu, maka berarti sosok keduanya "makhluk yang berbulu" (hewan). Wujud yang demikian dijelaskan melalui firman-Nya : "Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat (hina) lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS. al-A'raf : 179).
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat di atas menegaskan bahwa orang yang menyia-nyiakan akal dan hatinya akan menjadi penghuni neraka jahannam. Mereka disamakan bak binatang, bahkan lebih hina. Sebab, kendati memiliki panca indra, akal, dan hati (kalbu), tapi tak pernah mampu menemukan kebenaran-Nya.
Sungguh, begitu jelas Allah mempertonton-kan semua yang terjadi --termasuk pesta sepak bola-- sebagai pelajaran (i'tibar) bagi hamba-Nya yang terpilih (QS. Ali Imran : 191). Kelak, alam semesta akan menjadi saksi atas semua yang perilaku manusia. Meski manusia seisi alam memuji, tapi penduduk langit akan menistakan semua puji. Sebab, perilakunya telah mendustakan ayat-ayat-Nya (QS. al-Baqarah : 39). Meski lisan dan penampilan seakan berbalut iman, tapi sebenarnya berisi pengingkaran, bahkan melampaui kebiadaban kaum jahiliyah tanpa iman (QS. al-Baqarah : 8) ala Trump dan kroni sejenisnya. Na'uzubillah min Dzaalik. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor : Edwar Yaman