Robohnya Adab Ilmu

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 05:06 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

Oleh : Samsul Nizar  

Dikisahkan, Imam Syafie dikenal memiliki kualitas keilmuan, adab mulia, dan selalu menghormati semua gurunya. Ketika ia belajar dengan Imam Malik (Madinah), Sufyan bin Uyainah (Mekah), Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (Irak), dan guru lainnya, ia duduk dengan sopan, mencatat setiap kata yang didengar,  dan memper-hatikan semua penjelasan para gurunya. Ia tak pernah memotong penjelasan sebelum diminta menjelaskan. Para sahabatnya be-gitu kagum terhadap adab dan keluasan ilmunya. Salah seorang sahabat bertanya, "wahai Syafie, bagaimana engkau bisa memiliki ilmu yang luas dan kebijaksanaan yang begitu tinggi ?". Dengan sopan Imam

Syafie menjawab, "aku memperoleh semua ini karena izin-Nya dengan 3 tiga cara", yaitu :

Pertama,  Belajar dengan hati yang bersih tanpa kesombongan. Ilmu menundukan hati dari keangkuhan. Bila hati mengeras dan keangkuhan menggunung, tanda ilmu telah sirna keberkahannya. Ilmu hakiki menuntun manusia mengenal pemilik-Nya. Sedangkan ilmu dan gelar imitasi (men-jamur) akan "mempermainkan" Rabb-nya. Ia hanya memunculkan kesombongan dan secara sadar memalsukan kebenaran.

Untuk itu, bila belajar hanya mengejar gelar dan status sosial, maka pemiliknya akan jauh dari adab mulia. Bahkan, adakalanya --segelintirnya-- sebelum gelar diraih sesuai aturan, tapi tanpa malu mencantumkan "candidat" gelar atau varian sebutan lainnya. "Pamer" yang tak pantas dicontoh. Anehnya, bila nilai dan target tak sesuai diharapkan, muncul gelombang protes penuh kebenci-

Baca Juga: Epson Dorong Smart Classroom, Integrasikan AI dan Teknologi Interaktif di Sekolah

an. Meski proses mencari ilmu hanya di-ikuti "setengah hati dan ogah-ogahan", tapi ingin tampil "megah, mewah, dan predikat wah" untuk dibanggakan.

Target akreditasi dan jurnal bereputasi se-lalu jadi alasan. Visi lebih utama ketimbang menanamkan adab sebagai tujuan. Agar asa tercapai, berbagai cara dan rekayasa ditempuh. Kuantitas peserta didik jadi ukuran agar berkorelasi dengan ketepatan waktu kelulusan sebagai tujuan utama. Sedangkan kualitas ilmu dan adab (moral) sebatas "retorika" di atas podium, namun nyatanya acapkali terpinggirkan.

Menurut al-Ghazali, ilmu yang benar akan  melahirkan ketakwaan dan adab mulia. Kehadirannya sebagai suluh alam. Sedang-kan ilmu yang diperoleh melalui niat dan cara culas akan melahirkan sosok yang biadab. Kehadirannya jadi bumerang. Bila iblis memiliki ilmu yang tinggi, tapi dilaknat karena tanpa adab (kesombongan) kepada-Nya. Sedangkan manusia ilmu terbatas, tapi sombong setara iblis.

Pencari dan pemilik ilmu yang sombong begitu dibenci oleh Allah. Hal ini sesuai firman-Nya : "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuh-nya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya" (QS. al-A'raf : 146).

Baca Juga: BKN Setujui Penerapan Manajemen Talenta Dalam Sistem Manajemen Kepegawaian

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelas-kan bahwa Allah akan berpaling terhadap orang yang sombong dari kebenaran ayat-ayat-Nya. Sifat sombong akan menutup rahmat-Nya. Akibatnya, Allah akan mengunci hati, mata, pendengaran mereka atas peng- ingkaran kebenaran ayat-Nya. Sungguh, azab-Nya sangat pedih (QS. al-Baqarah : 7).

Kedua, Menempatkan guru seakan kedua orang tuanya. Tidak malu bertanya bila tak mengerti dan tak pernah merasa cukup atas ilmu yang telah dimiliki. Sebab, kadar ilmu manusia sangat terbatas. Hal ini me-rujuk pada firman-Nya : "Dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit" (QS. al-Isra' : 85).

Ibnu Katsir menekankan bahwa manusia hendaknya menyadari posisinya yang lemah (dhaif). Kesombongan atas ilmu merupakan sikap yang  tidak pantas dan menunjukan kelemahan. Sikap beradab akan mengantarkan pemilik ilmu pada derajat yang telah dijanjikan-Nya.

Hal ini sesuai firman-Nya :"Niscaya Allah akan mengang-kat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (QS. al-Mujadalah : 11).

Merujuk ayat di atas, Allah mengangkat derajat orang yang berilmu bila : (1) me-miliki keimanan yang kokoh kepada Allah dan mengamalkan ilmunya untuk kebaik-an. (2) Ilmu yang dimiliki berawal niat ikhlas dan dimanfaatkan secara benar.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kedudukan dan hak seorang guru ruhani sangat tinggi. Ia memberikan ilmu, membimbing akal, dan menyelamatkan jiwa dari kebodohan. Untuk itu, Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata : "Aku adalah hamba (budak) bagi orang yang pernah meng-ajariku walau ha-nya satu huruf. Terserah kepadaku apakah ia akan menjualku, memerdekakan, atau tetap menjadikanku sebagai budak." 

Ungkapan Sayidina Ali bin Abi Thalib di atas menunjukan adab, ketinggian ilmu, dan kehati-hatiannya berprilaku terhadap seorang guru. Hal ini dilakukannya agar terpelihara keberkahan ilmu yang dimiliki. Sebab, ia tau dan sadar bahwa status mulia dalam strata sosial tak berharga bila adab hilang dari kehidupan. Sementara, si-kap pencari ilmu akhir zaman menempat-kan guru sebatas mencari nilai. Di pihak lain, kadangkala status guru sebatas ruang mencari rezeki, bukan panggilan nurani dan jalan menuju cinta Ilahi. Sikap ini akan menyebabkan keberkahan ilmu tak dimiliki. Tandanya terlihat ketika adab telah sirna, terkelupas, dan tak dipedulikan.

Baca Juga: BPBD Kampar Imbau Warga Waspadai Potensi Hujan Lebat Khususnya di Kecamatan Tapung Hulu

Ketiga, Berharap ridha Allah, tanpa harap puji manusia. Berkat adabnya tersebut, Allah buka pintu ilmu dan kebijaksanaan. Melalui karakter Imam Syafie, Allah menjelaskan i'tibar bahwa ilmu tanpa adab bagaikan tubuh tanpa dan ruh. Ia ada tapi tak memberi manfaat bagi diri dan orang lain. Belajar dengan tawadhu' dan meng-hiasi diri dengan adab mulia merupakan kunci ilmu hakiki. Sebab, pemilik ilmu hakiki mengedepankan adab mulia diban-dingkan ilmu dan gelar. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Sesung-guhnya Allah mewahyukan kepadaku un-tuk memiliki sifat tawadhu'. Janganlah se-seorang menyombongkan diri dan melam-paui batas pada yang lain" (HR. Muslim).

Merujuk hadis di atas, para ulama salaf sepakat mengatakan bahwa ilmu tanpa adab akan mendatangkan kemudharatan dan melahirkan kesombongan.  Karakter yang menyuburkan kezaliman kelas elite tanpa bisa dinasehati. Sebab, mereka para ilmuan yang mengerti aturan, tapi sengaja melakukan berbagai pelanggaran. Untuk itu, Syekh Burhanuddin az-Zarnuji secara khusus menulis kitab"Ta'lim Muta'allim Thariq at-Ta'allum". Demikian pula KH. Hasyim Asy'ari menulis kitab "Adab Ta'lim wa Muta'allim". Kedua kitab ini menjadi rujukan utama etika menuntut ilmu. Kedua-nya seakan merasakan potensi kerusakan pendidikan akhir zaman yang tanpa adab. Mereka sepakat bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa disertai adab mulia. Perbedaan keduanya hanya pada konteks, fokus pembahasan, dan struktur penyajian.

Kedua kitab ini mengingatkan pentingnya penanaman adab bagi pendidik dan peserta didik. Sebab, bila adab tak lagi dimiliki, maka ilmu akan lepas kontrol tanpa mampu diluruskan. Status dan gelar akan menyuburkan kesombongan. Kata-katanya sebatas kepintaran "bersilat lidah", padahal isinya bak "tong kosong bunyinya nyaring". Retorika tanpa wujud karya nyata. Perilakunya bagaikan "vampir" yang bergentayang-an tanpa memiliki ruh kebenaran.

Meski semua dasar (al-Quran, hadis, fatwa ulama) begitu jelas dan lugas, namun prak-tik pendidikan disibukan oleh rutinitas tum-pukan tugas administratif dan formalitas. Lembaga pendidikan menjamur, lulusan bertabur, namun gelar semakin kabur dan adab semakin luntur. Semua pulas tertidur dengan mimpi mengejar status (kuantitas) "tanpa ingin terbangun" meraih kualitas. Ruang intelektual mati suri oleh gempita irama tepuk tangan atas retorika hampa yang begitu nyata dipelupuk mata. Sebab, muru'ah ilmuan telah tergadai oleh euforia tanpa "perisai" adab.

Dunia pendidikan yang lebih mengutama-kan kuantitas dan "kilauan asesories" aka-demik merupakan bentuk keterbelakangan peradaban. Sebab, peradaban akan diisi dan dinakhodai oleh generasi tanpa adab. Kemunduran nilai dan keimanan yang se-yogyanya diwaspadai, tapi hanya sekedar "dimaklumi". Padahal, Rasulullah ﷺ diutus untuk memperbaiki adab (akhlak al-karimah). Sebab, Allah berfirman : "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatang-an) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (QS. al-Ahzab : 21).

Meski ayat begitu tegas dan akhlak Rasul begitu jelas, namun tak lagi jadi acuan. Bahkan, perilaku kemungkaran justeru di-lakukan oknum yang berilmu dan mengerti aturan (hukum dan agama). Anehnya, me-reka justeru dihormati, dipedomani, dan memiliki posisi. Bila sosok dan perilakunya menjadi acuan bagi lintas generasi, maka akan memperparah kualitas pendidikan dan peradaban masa depan (tanpa adab).

Sungguh, adab ilmu yang contohkan Imam Syafie dan para ulama pilihan tak lagi jadi pedoman. Sebab, adab mulia tak jadi tujuan utama. Akibatnya, hadir generasi sombong, zalim, kehilangan empati, meng-gunakan ilmu (gelar) untuk memangsa sesamanya. Semua jalur keberkahan tertutupi oleh keinginan "jalan pintas" (instan) meraih kemuliaan intelektual dan melek digital, tapi hampa moral. Literasi sekedar "melek huruf" dan mengejar gelar, tapi buta hati dan akal untuk membaca kebenaran.  Proses literasi wajar (normal) yang terjal, berenergi, dan berliku kini dikalahkan nafsu formalitas yang instan dan mulus. Semua begitu nyata, tapi tak ada yang peduli. Akan seperti apa generasi yang akan datang merawat peradaban bila generasi tua yang seyogyanya menjaga adab justeru sedang menjual harga diri (biadab) disemua lini kehidupan ? Entahlah. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

 

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

Editor : Edwar Yaman
adab ilmu Robohnya Adab Ilmu imam syafii