Karakter "Abu Lahab"

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 05:09 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

Oleh : Samsul Nizar  

Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muthalib) merupakan salah seorang paman dekat Rasulullah. Awalnya, Tsuwaibah meng-khabarkan bahwa Siti Aminah telah melahirkan seorang putra yang sempurna dan diberi nama Muhammad.

Kabar yang membuat hatinya begitu senang dan bahagia. Di sepanjang jalan yang dilalui, ia ungkapkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut. Kebahagiaannya diluapkan dengan mengundang tetangga, teman, dan para kerabat untuk merayakan kelahiran keponakannya.

Di hadapan para undangan, ia berkata kepada budaknya, ”wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka mulai hari ini kamu adalah lelaki merdeka.” Kebahagiaan Abu Lahab di hari kelahiran Rasulullah men-jadi wasilah ia memperoleh keringanan siksa-Nya setiap hari senin. Hal ini diceritakan oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), bahwa beliau ber-mimpi melihat Abu Lahab seraya bertanya, "bagaimana keadaanmu ?".

Baca Juga: Pelantikan ICF Pekanbaru Gelar Bike for Green City Jadi Gerakan Penghijauan, Wako Agung Ajak Warga Jadikan Pekanbaru Kota Masa Depan yang Hijau

Abu Lahab menjawab, aku seperti yang engkau lihat. Tersiksa di alam barzah. Tapi setiap hari senin, Allah SWT meringankan siksa-Nya kepadaku. Sebab, pada hari itu, aku begitu gembira dengan kelahiran keponakanku (Muhammad).” 

Kegembiraan Abu Lahab terhadap ponak-annya tak berlangsung lama. Meski memiliki hubungan darah, tapi Abu Lahab sangat membenci dan penentang keras agama yang dibawa oleh keponakannya tersebut. Kebencian ini didukung oleh isterinya (Ummu Jamil binti Harb) dan be-berapa tokoh elit Quraisy lainnya, di antara-nya Abu Jahal (Amr Ibn Hisyam). Dengan posisi, pengaruh, dan kekuatan finansial-nya, Abu Jahal bersekutu dengan Abu Lahab untuk memusuhi Nabi Muhammad ﷺ dan pengikutnya.

Bila al-Qur'an dan masyarakat Arab mem-beri julukan Abu Lahab (berarti bapak api yang berkobar) karena pipinya yang selalu kemerahan, maka gelar Abu Jahal (bapak kebodohan) karena kesombongan dan gengsinya yang luar biasa melakukan ter-hadap kebenaran ajaran Rasulullah. Pada-hal, ia tau kebenaran, tapi mengingkarinya. Bukti pengingkaran terlihat ketika setiap kali Abu Jahal berpapasan dengan Rasulullah ﷺ, ia selalu menutup matanya dengan kain sorbannya.

Perilaku aneh ini membuat kaum kafir Quraisy heran dan bertanya : "wahai Abu Jahal, kenapa eng-kau menutup mata dan wajahmu setiap berpapasan dengan Muhammad ?". Abu Jahal menjawab, "demi Allah, setiap aku bertemu dan melihat Muhammad, hatiku menjadi luluh. Sebab, wajahnya bukan wajah pendusta, perkataannya bukan per-kataan orang gila, dan perilakunya begitu terpuji yang tak pernah aku temukan. Aku takut bila melihatnya, hatiku lebih dahulu memuliakannya mendahului mulutku". 

Baca Juga: Kompol Ridho Perasetia Resmi Jabat Wakapolres Bengkalis

Kisah "kejahilan" Abu Lahab dan Abu Jahal begitu banyak ditemukan. Namun, kisah yang penuh i'tibar (pelajaran) ini tak pernah dijadikan sebagai renungan memperbaiki diri, tapi justeru selalu diikuti. Padahal, karakter Abu Lahab dan Abu Jahal begitu nyata dan berpotensi tampil pada perilaku lintas generasi. Sebab, keduanya merupa-kan arsitek utama terjadimya penyiksaan atas para sahabat Nabi, pemboikotan terrhadap kaum muslim, dan provokator (menghasut) orang lain untuk membeci Rasulullah. Bila kebencian Abu Lahab dilakukan secara langsung (vis a vis), tapi kebencian Abu Jahal dilakukan dengan memanfaatkan posisi dan materi yang dimiliki. Untuk itu, kisah kebencian Abu Lahab dan isterinya yang begitu ekstrim diabadikan dalam al-Qur'an QS. al-Lahab : 1-5. Sedangkan, Abu Jahal terbunuh dalam kekufuran di Perang Badar.

Ada beberapa cerminan karakter Abu Lahab dan Abu Jahal yang melekat pada manusia sepanjang sejarah --terutama akhir zaman-- antara lain : 

Pertama, Abu Lahab dan Abu Jahal tau sifat jujur, kemuliaan akhlak, dan kebenar-an agama yang dibawa oleh ponakannya. Tapi, mereka enggan mengakui dan menen-tangya. Meski hati dan akalnya menerima kebenaran, tapi mulut dan nafsunya yang mengingkari dan memerintahkan untuk berperilaku zalim terhadap semua kebenar-an ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Manusia yang demikian sedang ditimpa azab-Nya yang pedih. Hal ini tertuang dalam firman-Nya :"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat" (QS. al-Baqarah : 7).

Menurut Ibn Katsir, tertutupnya seluruh pintu hidayah disebabkan oleh dosa-dosa yang terus melekat akibat kebiasaan ber-perilaku menolak kebenaran dan mengikuti hawa nafsu. Akibatnya, mereka tidak akan pernah beriman dan mendapat hidayah-Nya.

Sejarah membuktikan bahwa hadirnya si-kap kebencian dan arogan akan berakibat fatal, apalagi bila dibangun atas kerjasama "tetrasula (quadrident)" atau"kujang mata empat". 

Baca Juga: Dapat Informasi Warga Ada Sarang Narkoba di Sebuah Mess Milik Perusahaan, Personel Polsek Singingi Langsung Turun

Bangunan kerja sama kemungkaran antara kemunafikan kaum intelektual, pemilik posisi (status) tinggi, penyandang dana yang kuat, serta dukungan massa jahil (keluarga) yang tertutup akal dan hatinya dari nilai kebenaran (hukum dan agama).

Kedua, Penolakan terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah bukan disebabkan ke-jahil-annya (kebodohon), tapi lebih pada kekhawatiran akan hilangnya pengaruh atau jabatan (kekuasaan) yang dimilikinya. 

Sikap tercela ini telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya : "Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat" (QS. al-Baqarah : 146).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas berisi ancaman keras bagi manusia yang se-ngaja menyembunyikan ilmu atau ke-benaran yang sudah diketahuinya karena takut kehilangan reputasi, posisi, materi, atau pengikut. Mereka akan kehilangan keberkahan, kehilangan kepercayaan (krisis moral), dan siksa yang pedih.

Ketiga, Kebencian disebabkan "kekerdilan diri" atas ketidakmampuan memiliki kebaikan atau mengimbangi kualitas (kalah pamor) atas orang yang dibenci. Untuk itu, berbagai upaya intimidasi, provo-kasi, dan fitnah dilakukan agar kebencian menyelimuti hati semua orang. Sifat ini selalu diiikuti oleh manusia yang selevel. Padahal, mereka merupakan kaum terpela-jar yang mengetahui ajaran agamanya, tapi selalu mengingkari. Ternyata, "tak semua manusia menolak kebenaran karena ketidaktauan, tapi lebih pada ketakutan atas posisi atau kedudukannya." Sosok manusia yang demikian telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Akan datang kepada manusia suatu saat, orang yang berpegang teguh pada agama-nya seperti orang yang berpegang teguh pada bara api” (HR. at-Tirmidzi).

Baca Juga: Peringati Hari Anak Nasional 2026, Awal Bros Ajak Orang Tua Lebih Peduli Tumbuh Kembang Anak

Beriman sebatas pemanis bibir dan men-jaga kebenaran begitu berat, tapi melaku-kan kemaksiatan dan kezaliman dianggap gerak zaman. Sebelumnya, setiap umat nabi dan rasul hanya melakukan satu atau dua jenis kejahatan. Umat nabi Luth yang tertarik pada sejenis, umat nabi Musa menganggap dirinya "tuhan", umat nabi Nuh yang sombong dan menyembah ber-hala, atau umat nabi Syuaib yang curang (korupsi) dan memonopoli ekonomi. Tapi, fenomena kemungkaran manusia (umat) akhir zaman justeru sangat mengerikan. Mereka melakukan akumulasi semua ke-jahatan umat para nabi dan rasul terdahulu. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Kalian pasti akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta..." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas merupakan peringatan keras Rasulullah ﷺ tentang proses tasyabbuh (penyerupaan) budaya, gaya hidup, politik, ekonomi, bahkan bentuk kemaksiatan umat sebelumnya. Peringatan tersebut justeru sedang dipraktekan umat akhir zaman. Meski secara perlahan, tapi umat begitu "semangat" untuk mengadopsi dan mengakumulasi semua bentuk dosa kaum terdahulu.

Kesemuanya terlihat begitu nyata dan beberapa indikator tak terbantah-kan. Ketika para pendusta lebih dipercaya dan pembawa kebenaran tapi didustakan, orang khianat diberi amanah dan orang amanah dikhianati, kebenaran dicurigai dan kebohongan diberi posisi, pintar bicara bukan karena keilmuan tapi sebatas kebe-ranian beretorika, dan varian lainnya. 

Ketika fenomena di atas terjadi, maka Islam hanya tinggal nama dan al-Quran sebatas tulisan semata. Masjid begitu megah dan jamaah begitu ramai, tapi umat tak mampu disatu-kan. Ayat al-Quran dilan-tunkan merdu, tapi tak mampu menggetar-kan kalbu. Kajian agama begitu membahana, tapi sepi dari amalan. Majelis ilmu begitu berkembang, tapi pemilik ilmu acapkali tak beradab. Umat hanya sibuk mengunggah amaliah di media sosial agar memperoleh pujian. Shalat dilakukan, tapi tak mampu mencegah kezaliman.

Majelis zikir begitu menjamur dan membahana, tapi kemung-karan dan kebencian senantiasa membara. Malam hari beriman, paginya kembali pada kekufuran. Pelaku kesalahan selalu dipuji dan dianggap kewajaran, tapi pemilik ilmu kebaikan dianggap bentuk perlawanan yang harus disingkirkan. Pelanggar aturan didiamkan dan dimaklumi, tapi penjaga kebenaran justeru dikucilkan dan dibuli. Keserakahan (berbagai variannya) dinilai keberkahan lagi mujur, tapi sifat jujur selalu tersungkur dan terbujur.

Meski manusia secara agama dan keilmuan mengetahui nilai kebenaran, tapi secara sadar melanggarnya. Bila Abu Lahab secara terang-terangan memusuhi Rasulullah, tapi umat akhir zaman ber-sembunyi dalam wajah kesalehan ketika melakukan pelanggaran (fasik) terhadap hukum dan agama. Bila hal ini terjadi, be-tapa kenistaan dengan sengaja dibangun, ditradisikan, dan didukung para "cendekia berkarakter jahiliyah". Meski karakter Abu Lahab yang sombong, busuk hati, dan ter-cela, tapi wataknya selalu diganderungi, diikuti, dan dilanggengkan lintas generasi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

 

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
abu lahab karakter