Oleh : Samsul Nizar
Sungguh, manusia begitu buta kebenaran. Padahal, semua ciptaan-Nya yang ada di alam semesta merupakan kumpulan ayat-Nya untuk menuntun dan menyadarkan manusia. Hal ini sesuai firman-Nya : "... Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia..." (QS. Ali Imran : 191).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelas-kan kesadaran pemilik sifat ulul albab (berakal sehat). Keselarasan antara zikir (mengingat Allah) dengan fikir (merenung-kan ciptaan-Nya). Hanya saja, manusia acapkali tak pernah menyadari, bahkan mengingkarinya. Untuk itu, Allah menegur sifat manusia yang mengingkari ayat dan nikmat-Nya dalam QS. ar-Rahman (33 kali).
Di antara ayat kauniah-Nya yang menjelas-kan karakter manusia melalui merpati, pedati, dan serigala. Sekilas, ketiganya tampak biasa dan tak ada kaitannya. Pada-hal, ketiganya menjelaskan cerminan watak manusia. Adapun i'tibar atas karakter yang dimaksud antara lain :
Pertama, Karakter burung merpati. Burung merpati memiliki sifat setia pada pasangan-nya seumur hidup. Ia suka hidup berkelom-pok, dan ramah pada manusia. Meski burung merpati jinak, tapi punya harga diri. Ia terlihat ramah dan mudah mendekat ketika diberi makan, namun cepat meng-hindar saat hendak dipegang. Memiliki pembawaan yang lembut dan tidak agresif, tapi memiliki kewaspadaan yang tinggi.
Baca Juga: SBK Apparel Kembali Hadir di Riau Pos Gowes Merdeka 2026
Sifat yang diabadikan dalam pepatah "jinak-jinak merpati". Ungkapan ini diguna-kan untuk menggambarkan sikap manusia yang tampak manis dan ramah, tetapi
sebenarnya susah didekati atau sulit ditaklukkan hatinya. Sebab, ia memiliki harga diri yang hanya ditundukan oleh "hati dan akal budi", bukan tumpukan pundi.
Burung merpati merupakan hewan yang memiliki daya ingat kuat (navigasi) untuk mengenali arah pulang ke sarangnya (homing instinct). Sifat kesetiaan dan tau jalan pulang membuatnya hewan yang tak lupa pada janji. Untuk itu, leluhur meng-gunakannya sebagai nasehat yang ter-tuang dalam pepatah "merpati tak pernah ingkar janji". Frasa ini berpijak pada sifat biologis burung merpati yang setia hidup monogami. Untuk itu, burung merpati dipakai sebagai hewan penyampai pesan yang dipercaya. Sebab, ia menjaga kejujur-an (amanah) tanpa pernah mengkhianatinya.
Kedua, Karakter pedati. Umumnya, pedati merupakan gerobak atau kereta tradisional
untuk mengangkut barang yang ditarik oleh hewan seperti kerbau, sapi, keledai, atau kuda. Akibat beban yang berat, lelah, atau tak memahami tugas dan fungsinya, hewan yang menarik pedati biasanya perlu diarahkan, disuruh, dan sesekali "dicambuk" agar bekerja. Hewan penarik pedati tak me-miliki inisiatif untuk melaksanakan tugasnya.
Dalam konteks sifat atau karakter, istilah "manusia pedati" sering digunakan untuk menjelaskan tipologi manusia "pemalas" tanpa kreativitas. Motivasi kerja bagaikan hewan penarik pedati yang menunggu arah-an. Tipikal manusia yang mau bergerak atau bekerja jika mendapat dorongan, tekanan, atau "pecutan" dari luar. Pemilik karakter ini tak memiliki inisiatif atau motivasi internal yang kuat untuk maju. Ia akan bertindak atau bekerja cepat ketika menghadapi ancaman, teguran, tekanan, hadiah, atau pujian dari atasan (lingkungan). Karakter ini cenderung pragmatis, pasif, dan selalu memperhitungkan untung rugi dalam menjalankan tugasnya. Melaku-kan aktivitas hanya untuk menghindari rasa sakit (hukuman), aman, maka, minum, atau ingin penghargaan sesaat, bukan atas kesadaran dari dalam diri (profesional).
Baca Juga: Buaya Mengintai di Balik Rakit, Atai Warga Meranti Lolos dari Maut, Korban Terus Bertambah
Ketiga, Karakter serigala yang cerdas, berani, setia hanya pada "kawanannya", dan memiliki struktur kekeluargaan yang kuat (nepotisme). Serigala memiliki sifat kerja sama yang tinggi, naluri teritorial, dan kepemimpinan untuk melindungi anggota kelompoknya. Namun, serigala termasuk hewan yang sangat licik untuk mencapai tujuannya. Untuk itu, wajar bila leluhur meng-ingatkan agar waspada terhadap karakter serigala melalui pepatah "bagaikan serigala berbulu domba". Ungkapan yang menggambarkan sifat seseorang yang
tampangnya terlihat baik, sopan, ramah, atau penurut. Tampilan untuk menutupi sifat aslinya yang licik, kejam, munafik, dengki, dan berniat buruk untuk menipu atau mencelakakan orang lain.
Penampilan yang anggun dan lembut bak bulu domba. Tapi, sifat aslinya merupakan sosok pemangsa yang sangat berbahaya. Pepatah di atas digunakan sebagai peng-ingat agar selalu waspada terhadap sosok manusia munafik. Tampil dengan bungkus (asesoris) kesalehan dan kebaikan. Sering memuji dan seakan begitu peduli atau baik hati. Padahal, nyatanya menusuk dari belakang dengan menyebar fitnah (gosip), manipulatif, atau memanfaatkan kebaikan (kepercayaan) orang lain demi keuntungan pribadi.
Karakter "serigala berbulu domba" acapkali terlihat nyata. Sifat yang dinukil-kan Allah mrlalui firman-Nya : "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada me-reka. Mereka itulah musuh (yang sebenar-nya), maka waspadalah terhadap mereka ; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran) ?" (QS. al-Munafiqun : 4).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan sifat orang munafik. Tampil begitu mengagumkan, menarik, dan tutur katanya begitu baik. Namun, hatinya penuh dengki, pengecut, keimanan yang rapuh, dan begitu khawatir kemunafikannya akan terbongkar.
Potensi sifat manusia bak "serigala berbulu domba" dapat menerpa lintas strata sosial. Fenomena OTT oknum rektor bagaikan "jam dinding". Terpampang nyata "jarum jam" menunjuk pada angka-angka tertentu.
Baca Juga: Roger Federer Menangis saat Upacara Pelantikan di Hall of Fame
Meski kadangkala mata hanya tertuju pada angka yang ditunjuk jarum, tapi luput dari angka yang diucap oleh lisan dengan digit yang sulit dibayangkan (fa8ntastis).
Sungguh pilu melihat dunia pendidikan akhir zaman. Mungkin yang tampil hanya orkestra manusia terpelajar sebatas gelar, untaian kata integritas ketika di podium, tertulis di kertas, pajangan di kantor, atau varian lainnya. Namun, semua bak "tong kosong nyaring bunyinya".
Sungguh, OTT masih fokus melihat pada hasil dan "target", belum mengarah pada hulu sampai hilir penyebab perilaku nista. Tak mungkin suatu kejahatan dilakukan tanpa alasan di hulu dan "dermaga" untuk membongkar semua yang "dikumpulkan" (disetorkan). Andai hanya sekedar "nafsu personal", mungkin angkanya terbatas. Tapi bila bertujuan memenuhi "nafsu komunal", maka angkanya akan semakin membesar tak terbatas dan tak terkendali. Anehnya, menyingkap tabir misteri yang begitu terang justeru terasa begitu sulit. Kayaknya, lebih mudah menyingkap misteri makhluk alam ghaib yang tak terlihat.
Sungguh, OTT dunia akademik yang terkuak hanya bak permukaan salju (puncak gunung es) yang "lagi apes". Andai penyisiran dilakukan objektif bak "sinar matahari", sebenarnya masih banyak gunung es lainnya yang memiliki butiran kristal busuk yang serupa, lebih "bersalju", bahkan --mungkin-- lebih dingin tapi keras melebihi batu cadas, dan "memukau". Mungkin para pendaki tunggu perintah, tak dapat perintah, atau terhenti oleh suguhan "kopi panas" yang menghangat-kan tubuh.
Sebab, di kaki gunung dan jalan setapak menuju puncak begitu banyak "warung" yang menyediakan beraneka menu makanan hangat dan mengundang selera. Andai para pendaki kuat menahan "aroma kopi", mungkin lebih banyak dan besar gunung es yang bisa "ditaklukan" dan saljunya bisa diciduk. Semua hanya beda tempat, waktu, subjek, objek, besaran, atau cara "serigala berbulu domba" memainkan perannya "bermain salju". Tapi, substansinya sama, yaitu mengeruk habis butiran es-es yang ada. Semua dilakukan lewat jurus aji mumpung, kooperatif, balas budi, investasi, "terikat janji", masa bodoh, dan varian lainnya.
Meski banyak "bongkahan es" yang telah terbongkar dan terpublikasi begitu nyata, tapi anehnya sebagian "serigala berbulu domba" justeru tampil anggun dan tak bisa tersentuh. Begitu "digdaya" untuk diadili. Bahkan, segelintir mantan warga "prodeo" (jelas salah) justeru diberi kepercayaan untuk menjaga dan bicara lantang tentang integritas, etika atau moral. Semua tampil mulia tanpa nista. Mungkin kejahatan begitu mulia dan terhormat. Padahal, semua perilaku dan kata yang diucapkan berjalan terbalik dengan ajaran agama dan logika hukum. Atau mungkin kebenaran (agama dan hukum) hanya objek untuk "dijual dan dipermainkan" dengan orkestra sumbang yang memekakkan telinga dan membuta-kan mata hati. Sebab, hukuman terhadap pelaku amoral secara hukum positif tanpa sanksi sosial, tak mampu membuat efek jera.
Sungguh dunia bagaikan panggung sandi-wara. Karakter merpati yang amanah telah punah atau "dipunahkan". Karakter pedati yang pemalas tapi penurut lebih dihargai. Sedangkan karakter serigala berkembang-biak dan "dibiakan"). Hanya berharap hadir dongeng Pinokio di dunia nyata. Dongeng yang bisa menunjukan kebenaran. Setiap melakukan kebohongan, maka hidung akan memanjang dan kejahatan tak bisa ditutupi.
Sungguh, Islam tegas menjelaskan ketika dusta dan kebohongan hadir, pertanda iman telah sirna (QS. an-Nahl : 105). Indikasinya, nama Allah dan agama dijadikan sandaran pemanis bibir. Sumpah yang diucap untuk meyakinkan seakan berada di pihak yang benar. Padahal, semua ucapan-nya bertentangan dengan realitas kebenar-an yang ditutupi (QS. al-Munafiqun : 2). Memang, manusia penipu dan bisa ditipu dengan modal kemunafikan berbungkus topeng kesalehan. Tapi, Allah Maha Tau dan tak bisa ditipu (QS. at-Taghabun : 4). Pada waktunya, Allah akan membalas semua tipu daya yang dilakukan dengan tipuan yang sangat pedih (QS. Ali Imran : 54). Sungguh, Allah tak pernah mengingkari semua janji-Nya (QS. ar-Rum : 6). Sebab, setiap tanaman akan berbuah. Ketika waktu-nya tiba, semua tanaman akan dipetik oleh si penanamnya. Setidaknya di akhirat kelak. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor : Edwar Yaman