Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Takut pada Kecoak hingga Menjadi buku: Cara Bu Leli Menumbuhkan Literasi Anak lewat AI

Redaksi • Kamis, 28 Mei 2026 | 12:20 WIB
Guru di SDN 008 Lubuk Gaung, Dumai, Provinsi Riau Siti Nurleli, S.Pd lakukan inovasi dengan menumbuhkan literasi anak lewat AI. (Istimewa)
Guru di SDN 008 Lubuk Gaung, Dumai, Provinsi Riau Siti Nurleli, S.Pd lakukan inovasi dengan menumbuhkan literasi anak lewat AI. (Istimewa)

 

DUMAI (RIAUPOS.CO) - Di sebuah sudut kelas di SDN 008 Lubuk Gaung, Kota Dumai, anak-anak tampak antusias membaca buku cerita bergambar. Namun, buku itu bukan terbitan toko buku besar atau karya penulis terkenal. Tokoh utama dalam cerita itu adalah diri mereka sendiri.

Ada yang menjadi dokter, guru, polisi, hingga atlet. Ceritanya pun lahir dari imajinasi dan pengalaman mereka sendiri, lalu dibantu disusun menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Inovasi sederhana namun berdampak itu digagas oleh Siti Nurleli, S.Pd, seorang guru ASN di SDN 008 Lubuk Gaung, Dumai, Provinsi Riau. Perempuan kelahiran Selat Panjang, 4 Agustus 1979 itu telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan sejak tahun 2000.

Baca Juga: PNM Tebar Syukur, Salurkan Hewan Kurban ke Warga Desa

Kariernya dimulai sebagai guru honor di MI Nurul Islam pada 2000–2003. Setelah itu, ia menjadi Guru Bantu Pusat di SDN 008 Lubuk Gaung pada 2003–2006, hingga akhirnya diangkat menjadi guru ASN pada tahun 2006 dan terus mengajar hingga sekarang.

Bagi wanita yang kerap disapa Bule ini, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan sekadar membuat anak mampu membaca, tetapi membangun kebiasaan memahami isi bacaan. “Literasi itu bukan hanya membaca, tetapi memahami,” ujarnya.

Ia mengaku prihatin karena masih menemukan siswa kelas tiga yang belum lancar membaca. Selain itu, minat baca anak-anak juga kerap rendah karena bahan bacaan terbatas dan metode pembelajaran yang kurang menarik.

“Anak-anak cepat bosan. Buku yang tersedia juga terbatas,” katanya.

Baca Juga: BRK Syariah Gelar Pemotongan 19 Hewan Kurban, Tebar Kepedulian dan Kebersamaan

Keresahan itu membuatnya terus mencari cara agar literasi terasa dekat dan menyenangkan bagi siswa. Hingga suatu hari, ia menemukan video singkat di Facebook Reels tentang pembuatan storybook menggunakan Gemini AI.

Ide itu kemudian ia coba terlebih dahulu kepada anaknya sendiri, Nayla, yang memiliki ketakutan terhadap kecoak. Ia membuat cerita sederhana dengan Nayla sebagai tokoh utama yang berhasil menghadapi rasa takutnya. Hasilnya di luar dugaan. Nayla justru bersemangat membaca cerita tentang dirinya sendiri.

“Karena tokohnya dirinya sendiri, dia jadi tertarik membaca berulang kali,” kenangnya.

Dari pengalaman itu, Siti Nurleli mulai menerapkan metode serupa di kelas. Ia mengajak siswa membuat buku cerita digital menggunakan fitur storybook di Gemini AI dengan tokoh utama diri mereka sendiri.

Kegiatan tersebut dilakukan secara bertahap. Pertama, ia menjelaskan kepada siswa tentang AI dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu, siswa dikenalkan pentingnya membuat prompt atau perintah yang jelas agar AI dapat menghasilkan cerita sesuai keinginan mereka.

Anak-anak diminta memikirkan cerita yang mereka inginkan sendiri—mulai dari alur cerita, cita-cita, pekerjaan impian, hingga tokoh utama yang menggunakan nama mereka sendiri.

Baca Juga: Pemerintah Belum Ubah Asumsi APBN

Setelah itu, siswa menuliskan prompt ke dalam Gemini AI pada fitur storybook. Dalam waktu singkat, cerita bergambar pun muncul sesuai imajinasi mereka.

Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup.

Anak-anak tampak antusias melihat hasil cerita mereka sendiri. Bahkan, mereka bergantian maju ke depan kelas untuk menunjukkan dan membacakan cerita masing-masing.

“Anak-anak jadi senang membaca karena mereka merasa memiliki cerita itu,” ujarnya.

Tak hanya siswa, para orang tua juga memberikan respon positif. Link storybook karya siswa dikirim ke grup WhatsApp kelas sehingga wali murid dapat melihat langsung hasil karya anak-anak mereka. Banyak orang tua merasa bangga dan mengapresiasi kreativitas tersebut.

Dari cerita digital yang telah dibuat siswa, Siti Nurleli kemudian melakukan tangkapan layar setiap halaman cerita. Hasil cetakan itu dipotong, ditempel, lalu disusun bersama siswa menjadi buku sederhana. Kini, buku karya siswa tersebut menjadi koleksi pojok baca kelas dan inventaris literasi sekolah yang dapat dibaca siswa lainnya.

Selain memanfaatkan teknologi, ia juga terus membangun budaya literasi melalui kebiasaan sederhana di sekolah. Ia menyediakan pojok baca, membiasakan jurnal membaca, dan memberikan penghargaan bulanan berupa piagam “Duta Baca” bagi siswa yang aktif membaca.

Siti Nurleli mengaku dirinya semakin terdorong untuk terus berinovasi setelah bergabung menjadi fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation. Melalui program tersebut, ia mendapatkan kesempatan belajar sekaligus berbagi praktik baik pembelajaran kepada guru-guru lain di berbagai sekolah.

“Sebagai guru, kita tidak boleh berhenti belajar. Dari program itu saya banyak belajar dan semakin sadar bahwa guru harus kreatif mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Baca Juga: Pajero Sport Masih Jadi Andalan 

Meski memanfaatkan AI dalam pembelajaran, ia menegaskan bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan peran guru di kelas. “AI hanya alat bantu. Guru tetap yang memahami karakter anak, membimbing, dan menanamkan nilai,” ujarnya.

Melalui inovasi sederhana tersebut, Siti Nurleli percaya bahwa literasi dapat tumbuh ketika anak merasa dekat dengan apa yang mereka baca. Dan dari sebuah cerita tentang kecoak, lahirlah semangat baru membaca di ruang kelas kecil di Lubuk Gaung.***

 

 

Editor : Edwar Yaman
#takut pada kecoak #lubuk gaung dumai #literasi anak #ai