PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dua unit mobil berjenis Sports Utility Vehicle (SUV) dengan harga di atas Rp500 juta berjejer rapi di garasi rumahnya. Tidak hanya itu, dua unit truk box berpendingin juga berada di sisi samping rumahnya. Di antaranya jejeran rumah yang ada di Jalan Melur, Kelurahan Mentangor, Kecamatan Tenayanraya Pekanbaru itu. Rumah ini yang terlihat paling menonjol.
Selain bentuknya yang besar. Pada rumah ini juga juga terdapat tempat produksi dan toko untuk menjual beberapa produk frozen food. Adalah Slamet, pemilik rumah dan tempat produksi frozen food dengen merek Mbah Bejo itu.
Sebelum sukses dengan usahanya saat ini. Slamet dahulunya berprofesi sebagai sopir bus sejak tahun 1992. Namun seiring berjalannya waktu, perusahaan bus tempatnya bernaung mencari rezeki mulai bangkrut.
“Saya dulunya itu sopir bus, mulai tahun 1992. Namun mulai tahun 2000 an, perusahaan mulai goyang kemudian kami para driver mencari jalannya masing-masing. Ada kawan yang pindah ke perusahaan lain yang ada kaitannya dengan kendaraan, namun saya tidak,” katanya.
Usai tidak lagi menjadi sopir, Slamet memberanikan diri untuk ‘banting setir’ menjadi pedagang makanan mulai tahun 2000, namun masih belum fokus. Baru pada 2011, ia mulai fokus untuk menjual nasi uduk. Langkahnya memulai usaha itu mendapatkan dukungan dari Bank BRI senilai Rp20 juta.
“Awal tahun 2011-an itulah saya mulai mengenal BRI. Saya dapat pinjaman Rp20 juta dengan jaminan rumah,” ujarnya.
Sembari menjual nasi uduk, ia juga mulai membuat cireng. Cireng hasil buatannya kemudian coba ia titipkan di warung-warung sekitar. Tak disangka, makanan dengan bahan baku tepung buatannya ternyata diminati.
“Saya buat cireng pertama itu dengan bahan baku tepung 9 ons. Sekarang satu bulan bisa habis sekitar 28 hingga 35 ton tepung per bulan,” sebutnya.
Namun, awalnya cireng yang ia jual belum dalam bentuk frozen food. Idenya membuat frozen food bermula dari cireng yang ia titipkan di warung, dimasukkan ke dalam kulkas agar lebih tahan lama.
“Karena melihat itu, saya kemudian berpikir untuk membuat frozen food. Karena kalau dibekukan kayaknya bisa tahan lebih lama. Alhamdulillah ilmunya jadi bertambah,” ujarnya.
Karena melihat usaha cirengnya memiliki prospek yang bagus, Slamet kemudian berpikir untuk fokus mengembangkan usaha tersebut. Kemudian memberhentikan usahanya nasi uduknya dan membuat rumah produksi cireng. Agar cireng buatannya semakin diminati dan bisa lebih dijual lebih luas. Slamet kemudian mengurus perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
“Setelah dapat PIRT, kemudian saya juga mengirim izin ke BBPOM. Dengan izin dari BBPOM itu, membuat cireng buatan saya bisa dikirim keluar provinsi yakni ke Sumatra Barat dan Sumatra Utara,” sebutnya.
Selain sukses mengembangkan bisnis, Slamet juga sukses memberdayakan masyarakat terutama kaum ibu-ibu untuk bekerja. Terutama yang berstatus janda. Karena hingga saat ini, total karyawannya ada 40 orang.
“Total karyawan saya sekarang 40 orang, mereka itu rata-rata janda. Ada yang merupakan warga sekitar tapi ada juga yang dari jauh,” paparnya.
Slamet mengakui, kesuksesan bisnisnya ini tidak terlepas dari bantuan modal Bank BRI. Dari mulai Rp20 juta hingga saat ini mencapai Rp200 juta untuk pembelian alat-alat produksi.
“Karena itu saya berterimakasih atas dukungan Bank BRI selama ini. Kami tentunya tidak boleh lupa dengan pihak-pihak yang sudah mendukung usaha ini,” sebutnya.
Pimpinan BRI KC Pekanbaru Lancang Kuning, I Wayan Mestera mengatakan, usaha frozen food yang dikelola Slamet dengan merek Mbah Bejo saat ini sudah mendapatkan bantuan senilai Rp200 juta. Dan selama pembiayaan yang diberikan berjalan sangat baik.
“Frozen food Mbah Bejo saat ini sudah mendapatkan bantuan kredit Rp200 juta dari awalnya yang hanya Rp20 juta. Usahanya juga terus berkembang dari yang awalnya pecel lele, saat ini menjadi frozen food yang sudah didistribusikan hingga ke provinsi tetangga,” sebutnya.
Meskipun usahanya saat ini sudah berkembang, namun pihak Bank BRI tidak akan berhenti melakukan pembinaan. Pihaknya juga siap memberikan kredit yang lebih besar agar usaha ini dapat terus dikembangkan.
“Kami juga terus lakukan pendampingan terkait mekanisme pembayarannya,” ujarnya.
Editor : RP Eka Gusmadi Putra