Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

BI Proyeksikan Rupiah Menguat di Kuartal III, Apindo: Suku Bunga Acuan Naik Berpotensi Kerek Inflasi

jpg • Sabtu, 27 April 2024 | 09:25 WIB
Petugas menghitung mata uang dolar AS di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (17/4/2024) lalu.
Petugas menghitung mata uang dolar AS di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (17/4/2024) lalu.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - INDEKS nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) menguat tajam. Mencapai level tertinggi 106,25 pada 16 April 2024. Perkembangan tersebut memberikan tekanan depresiasi kepada hampir seluruh mata uang dunia, termasuk nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia terus mengarahkan kebijakannya untuk menjaga stabilitas rupiah. Skenario atau asumsi baseline bank sentral dengan probabilitas di atas 75 persen memperkirakan Fed funds rate (FFR) akan turun sekali tahun ini. Memangkas sebesar 25 basis poin (bps) pada kuartal IV kemungkinan di akhir tahun.

Nah, potensial risiko lainnya, FFR tidak turun selama 2024. The Federal Reserve (The Fed) baru akan memangkas suku bunga sebanyak 50 bps di kuartal I atau II 2025. ’’Tell risk-nya, Fed funds rate akan tetap tinggi lebih lama di 2024, baru turun di 2025. Itulah mengenai probabilitas yang kami lakukan untuk bagaimana nanti memitigasi potential risk akan kembali ke baseline,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (25/4).

Perry meyakini rupiah akan tetap stabil di sekitar Rp16.200 pada kuartal II 2024. Yang kemudian akan menguat ke arah rata-rata Rp16 ribu di kuartal III 2024. Bahkan akan menguat berkisar Rp15.800 pada kuartal IV. ’’Itu langkah yang kami lakukan. Termasuk memperkuat stabilisasi rupiah dan juga operasi moneter yang pro-market,’’ ujarnya.

Sementara itu, Senior Economist DBS Bank Radhika Rao memandang kenaikan BI rate sebagai tindakan yang bijaksana dan bersifat preventif. Sebab, isyarat global dan katalis dalam negeri kurang kondusif. Mempertimbangkan revisi asumsi dasar BI untuk siklus FFR, preferensi untuk tetap waspada dan memprioritaskan stabilitas rupiah, bank sentral tampaknya akan tetap memperpanjang suku bunga tinggi hingga akhir tahun ini. ’’BI akan menaikkan suku bunga lanjutan jika kondisinya sangat memungkinkan,” ucap Radhika.

Analis kebijakan ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani memandang, kenaikan suku bunga acuan akan membawa tiga tantangan. Pertama, kebijakan perbankan yang cenderung akan menaikkan suku bunga kredit sehingga sektor usaha akan mengalami kenaikan cost of fund. Hal itu akan mendorong kenaikan harga pokok penjualan (HPP) atas produksi. ’’Inilah hal pertama yang perlu dimitigasi, yakni timbulnya inflasi karena kenaikan harga pokok produksi atau cost push inflation,’’ ujarnya.

BI BI Baca Juga: Rupiah Kian Terpuruk, BI Tingkatkan Daya Tarik Aset Rupiah

Kedua, pelemahan daya beli masyarakat. Dengan semakin sedikitnya likuiditas dan potensi kenaikan harga barang, daya beli masyarakat akan mengalami tekanan. Apalagi, pemerintah juga mempunyai ruang fiskal yang relatif terbatas untuk menopang daya beli masyarakat dengan skema bantuan sosial (bansos).

Ketiga, risiko perlambatan ekonomi. Ajib menyebutkan, tren pertumbuhan ekonomi RI cukup bagus pascapandemi. Namun, di sisi lain, ada tren pertumbuhan yang menurun. Pada 2022, pertumbuhan ekonomi secara agregat mencapai 5,31 persen dan 2023 ’’hanya’’ mencapai 5,05 persen. Tren menurun itu diharapkan kembali bisa rebound pada 2024 sehingga pemerintah membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi pada angka 5,2 persen. (han/dee/dio/jpg)

Editor : RP Arif Oktafian
#Inflasi 2024 #suku bunga bank #bank indonesia #nilai tukar rupiah