Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Harga Minyak Mentah Naik, Peluang Penurunan Suku Bunga AS

jpg • Sabtu, 13 Juli 2024 | 09:46 WIB
Kapal Pertamina Halmahera merupakan kapal Suezmax untuk mengangkut muatan berupa minyak mentah dan produk serupa lainnya dengan rute pelayaran internasional, baru-baru ini.
Kapal Pertamina Halmahera merupakan kapal Suezmax untuk mengangkut muatan berupa minyak mentah dan produk serupa lainnya dengan rute pelayaran internasional, baru-baru ini.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - HARGA minyak mentah naik untuk sesi kedua berturut-turut pada hari Kamis (11/7) atau Jumat (12/7) pagi waktu Indonesia dengan patokan Brent menetap di atas 85 dolar AS per barel karena meningkatnya peluang penurunan suku bunga AS. Apalagi sebelumnya, data menunjukkan perlambatan inflasi yang tidak terduga.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 32 sen atau 0,4 persen menjadi 85,40 dolar AS per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 52 sen, atau 0,6 persen menjadi 82,62 dolar AS per barel.

Data menunjukkan harga konsumen AS turun pada bulan Juni, memicu harapan bahwa Federal Reserve atau The Fed akan segera memangkas suku bunga. Setelah data tersebut, para pedagang memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 89 persen pada bulan September, dari sebelumnya diprediksi hanya 73 persen.

Inflasi yang melambat dan pemotongan suku bunga kemungkinan akan memacu lebih banyak aktivitas ekonomi, kata analis Growmark Energy. Ketua Fed Jerome Powell mengakui tren perbaikan terkini dalam tekanan harga, tetapi mengatakan kepada anggota parlemen bahwa diperlukan lebih banyak data untuk memperkuat kasus penurunan suku bunga.

Data tersebut menurunkan indeks dolar AS dan hal itu akan mendukung harga minyak. Dolar AS yang lebih lemah dapat meningkatkan permintaan minyak berdenominasi dolar dari pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Harga minyak mentah AS bulan depan mencatat premi tertingginya terhadap kontrak bulan berikutnya sejak April. Kemauan pelaku pasar untuk membayar premi untuk tanggal pengiriman lebih awal, suatu struktur yang dikenal sebagai backwardation, biasanya merupakan tanda ketatnya pasokan.

Beberapa pihak masih percaya bahwa prospek permintaan minyak masih lemah. Dalam laporan bulanan pasar minyak, Badan Energi Internasional (IEA) melihat pertumbuhan permintaan global melambat menjadi di bawah satu juta barel per hari tahun ini dan tahun depan, yang terutama mencerminkan kontraksi konsumsi di Cina.

Meski demikian, kelompok produsen OPEC dalam laporan bulanannya pada hari Rabu (10/7) tetap mempertahankan bahwa perkiraan pertumbuhan permintaan dunia tidak berubah yakni sebesar 2,25 juta barel per hari untuk tahun ini dan 1,85 juta barel per hari tahun depan.

‘’Prakiraan permintaan OPEC dan IEA lebih berbeda dari biasanya, sebagian karena perbedaan pendapat mengenai laju transisi dunia menuju bahan bakar bersih,’’ pungkas analis StoneX, Alex Hodes.(hen)

Editor : Rindra Yasin
#harga minyak mentah #Perlambatan inflasi #suku bunga as