JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Bank Indonesia (BI) diprediksi akan menurunkan suku bunga, atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6 persen pada September 2024.
Hal ini diungkapkan Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman, menurutnya keputusan itu diambil mengingat kondisi global dan domestik. Serta sudah diturunkannya suku bunga instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 12 bulan menjadi 7,25 persen, dari sebelumnya sebesar 7,5 persen.
"Perkiraan kami, BI akan menurunkan BI Rate sebesar 25 bps di bulan September," kata Helmi dalam konferensi pers Kinerja Keuangan Citi Indonesia Kuartal II-2024 di Jakarta, Kamis (15/8).
Helmi juga memastikan suku bunga SRBI pada bulan September akan mengalami penurunan lebih banyak daripada suku bunga acuan atau BI Rate. Pasalnya, kata Helmi, kenaikan suku bunga SRBI justru lebih dikerek naik lebih banyak dibandingkan BI Rate pada beberapa bulan terakhir.
Salah satunya seperti yang terjadi pada Oktober tahun lalu dan April tahun ini. Di mana kurva moneter dibuat lebih curam dengan menetapkan SRBI 12 bulan bunganya lebih tinggi dari BI Rate.
"Perlu kita pahami, penurunan yang terjadi tidak hanya di BI Rate saja, tetapi juga terjadi di bunga SRBI-nya. Dan SRBI 12 bulan kami perkirakan akan turun lebih jauh dibanding dengan suku bunga BI Rate," jelasnya.
Dia memprediksi, ketika suku bunga bergerak turun, maka yang terjadi adalah suku bunga SRBI yang turun akan lebih banyak dibandingkan suku bunga BI Rate-nya. "Dengan asumsi The Fed menurunkan ke arah 3,25 persen hingga pertengahan tahun depan, BI Rate akan turun ke arah 5 persen dalam siklus penruunan suku bunga ini," pungkasnya.
Untuk diketahui, pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Agustus dijadwalkan akan dilangsungkan pada 20–21 Agustus 2024. Sedangkan untuk RDG September 2024 akan digelar pada 17–18 September 2024.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) atau suku bunga acuan sebesar 6,25 persen pada Juli 2024. Keputusan ini disepakati dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Juli 2024.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa keputusan ini konsisten dengan kebijakan moneter yang pro-stability. Sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2024 dan 2025.
Sumber: JawaPos.com
Editor : M. Erizal