SURABAYA (RIAUPOS.CO) – Di tengah arus deras kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS), produsen baja lapis aluminium seng (BjLAS) justru menggenjot ekspor mereka ke Negari Paman Sam tersebut. Pelaku usaha melihat perang dagang yang terlihat justru menjadi kesempatan bagi industri metal Indonesia.
General Manager Sales and Marketing PT Sunrise Steel Filipus Tedjo Baskoro menjelaskan, pihaknya mengirimkan 6 ribu ton coil BjLAS ke AS. Pengiriman tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan produk industri turunan baja di AS justru meningkat.
“Kami sudah melakukan ekspor ke berbagai tujuan antara lain ke AS, Australia, Puerto Riko, dan Kanada,” tuturnya di Terminal Jamrud Utara, Tanjung Perak, Surabaya, Senin (14/4).
Manager Ekspor PT Sunrise Steel Nadia Setiawan menambahkan, pertumbuhan pasar ekspor ke AS besar. Hal itu dari pengiriman yang mencapai 6 ribu ton coil naik berkali-kali lipat dibandingkan ekspor pertama yang dilakukan ke AS pada 2023. Saat itu, kargo yang dikirim hanya berkisar 100-200 ton saja.
Permintaan besar itu dikarenakan banyak importir di AS yang mencari negara produsen alternatif karena terganggunya suplai global. “Harus diakui bahwa harga produk baja di Indonesia masih tinggi dibanding dengan negara lain. Tapi, dengan tarif yang diberlakukan, harga produk BjLAS seperti Zinium dari kami jadi lebih masuk akal,” paparnya.
Dia berharap bahwa tren tersebut berlanjut. Saat ini, kontribusi ekspor ke AS bagi perseroan mencapai 80 persen. Oleh karena itu, Nadia berharap kondisi itu bisa dijaga dengan upaya pemerintah Indonesia untuk memperbaiki hubungan dengan AS.
“Kami sudah mendapatkan kabar beberapa negara di blacklist dengan tarif tinggi. Harapannya, Indonesia bisa meminimalisir hal tersebut,” paparnya.(bil/dio/jpg)
Editor : Arif Oktafian