PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Suci Sustari (45) punya mimpi bisa memberdayakan masyarakat dan dia mewujudkan mimpi itu hanya dalam waktu empat tahun. Dari yang tidak punya apa-apa kini memiliki tenaga kerja hingga 88 orang dan beromset hingga Rp1 miliar.
Suci awalnya hanyalah seorang guru bahasa Inggris di kampungnya, Palembang, Sumatera Selatan. Dia meninggalkan profesi gurunya dan memilih ikut suami ke Provinsi Riau.
Berdasarkan pengalaman suaminya, Sofyan di Palembang yang pernah bersentuhan dengan program corporate social responsibility (CSR) di PT Bukit Asam, dia melihat ada peluang lewat program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Pertamina Hulu Rokan.
Inilah awal mula Suci dan suaminya, Sofyan memulai usaha Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rumah Jahit Lestari (RJL). Dikatakan KUB karena terdiri dari beberapa orang sesuai dengan pekerjaannya seperti tukang jahit, tukang potong, pembuat pola, pemasang kancing, tukang setrika, pengepakan, marketing dan pembuat invoice (administrasi).
Dia nekat mengajukan proposal usaha jahit ''coverall'' baju tahan api untuk pekerja migas ke Pertamina Hulu Rokan (PHR), apalagi di Provinsi Riau sangat banyak pekerja migas dari berbagai perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
Kelompok ini dibentuk dengan memberdayakan masyarakat terutama pemuda dan kaum perempuan yang tinggal di sekitar rumahnya.
''Suami bertugas melobi perusahaan dan merangkul pemuda untuk menjadi marketing, tugas saya menggaet kaum hawa untuk produksi dan pembukuan,'' ujar Suci kepada Riaupos.co, Rabu (24/9/2025) saat ditemui di tempat usahanya, KUB Rumah Jahit Lestari di Jalan Hangtuah No 4, Kelurahan Tambusai Batang Dui, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Setelah berjuang bersama, akhirnya KUB RJL mendapat order perdana sebanyak 40 baju. ''Kami pun bekerja keras dan pesanan selesai sesuai batas waktu yang diberikan. Namun hasilnya tidak sesuai harapan. Kami rugi sekitar Rp3 juta. Bisa dibayangkan jangankan untung, kami harus menutupi kerugian ini,'' ujar Suci sambil menarik nafas.
Sesuai profesinya dulu sebagai guru, perempuan berkacamata ini pun mempelajari apa yang menjadi penyebab kerugian yang cukup besar itu. ''Setelah ditelusuri ternyata karena kami membayar penjahit dari luar sementara di RJL hanya saya yang jadi penjahitnya,'' katanya.
Walaupun usaha perdana rugi tidak menyurutkan semangat Suci dan KUB RJL. Sofyan kembali mengajukan proposal dan pre order (PO) kedua pun diperoleh dengan jumlah pesanan cukup banyak yakni 167 stel ''coverall''.
Biar tak lagi rugi, Suci pun mengubah strategi, siswa dan siswi SMK yang telah lulus diundang menjahit di RJL sebagai instruktur belajar menjahit. Suci pun mengembangkan usahanya dengan membuka sekolah belajar jahit gratis yang menyasar anak-anak putus sekolah, anak tempatan suku Sakai, ibu rumah tangga hingga lanjut usia (lansia) bahkan kaum disabilitas.
''Saat buka sekolah jahit gratis ini, saya baru tahu ternyata banyak perempuan muda di Duri yang hanya tamat SD dan SMP terutama di daerah pemukiman Sakai,'' sebutnya.
Awal mula membuka sekolah jahit, Suci sadar tidak semua orang sekali belajar bisa langsung jadi. Karena itu, sesuai dengan filosofinya sebagai pendidik ''dari tidak bisa menjadi bisa'', dia pun terus memberikan semangat agar para perempuan ini bisa menjahit.
''Setelah bisa menjahit satu baju dapat upah Rp65 ribu. Dalam sehari rata-rata mereka bisa menyelesaikan 1,5 baju dan mendapat upah Rp100 ribu sehari. Sehingga jika dikalikan upah yang diterimanya Rp3 jutaan sebulan,'' jelasnya.
Berkembang Pesat
Usaha yang ditekuni bersama ini pun semakin berkembang. PO pun semakin banyak hingga 300 stel sebulan. Suci pun ketar-ketir karena secara finansial tidak mampu memenuhi permintaan apalagi tahun 2022 pekerja yang dimilikinya hanya 17 orang dan tahun 2023 menjadi 30-an yang tentu saja gaji yang harus dibayar juga tidaklah sedikit.
Suci pun berdiskusi dengan suaminya bagaimana solusi agar secara finansial seluruhnya tercukupi. ''Suami malah kasih usul jumlah pesanan ditambah, dari 300 stel menjadi 1.000 stel. Saya malah tambah pusing jadinya,'' tawanya.
Namun apa yang disampaikan ini menjadi penyemangat bagi Suci dan suami. Fasilitas pun ditambah, dari motor ke mobil. Dari ruko satu pintu yang disewa bulanan menjadi beberapa ruko yang disewa tahunan.
''Alhamdulillah, sekarang orderan kami sudah mencapai 1.000 hingga 1.500 per bulan dengan tukang jahit seluruhnya 58 orang, marketing 30 orang,'' jelasnya.
Harga baju coverall yang dijual RJL paling murah Rp650 ribu satu stel dan paling mahal Rp1,2 juta per stel. Harga ini sama untuk seluruh ukuran mulai S sampai 6 XL. Dan jika beli baju RJL diberi garansi permak dan garansi 6 bulan untuk resleting, gratis ongkos kirim dari Sabang sampai Merauke (dari bandara ke bandara) sementara transportasi lokal dari bandara ke tujuan tidak ditanggung.
Bahkan para penjahit RJL sudah mengantongi sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). RJL saat ini sudah memiliki sertifikat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan sertifikat standar nasional Indonesia (SNI). Untuk bisa berkembang hingga ke mancanegara, RJL saat ini sedang mengejar sertifikasi NFPA dari Singapur.
Tidak hanya mengembangkan usaha jahit, KUB RJL juga rutin berbagi dengan anak yatim (panti asuhan) dengan membagikan baju. Namun sejak 2024, KUB RJL mengubah konsep tidak lagi hanya berbagi dengan anak yatim tetapi lebih ke sustainability yakni menjalankan program ketahanan pangan dengan melakukan budidaya tanaman dan membuat kolam ikan.
Baca Juga: Pemkab Kepulauan Meranti akan Lantik 3 Kepala OPD Hasil Seleksi, Jabatan Sekda Menunggu Kosong
''Untuk sosial, KUB RJL juga memiliki program ini. Jadi tidak hanya urusan bisnis yang dikejar, kita juga harus berbagi bahkan sekarang memberdayakan masyarakat untuk program ketahanan pangan,'' tuturnya.
Program ketahanan pangan ini, hasil perkebunan diperbolehkan dibawa pulang oleh para pekerja, bahkan para pekerja juga diminta melakukan budidaya tanaman di pekarangan rumahnya. ''Semuanya kita ajarkan, bagaimana agar warga sejahtera dan bisa mandiri,''tegasnya.
Meningkatkan Ekonomi Keluarga
Sejalan dengan apa yang dikatakan Suci, saat itu ada beberapa siswi magang selama 6 bulan dari SMK Korpri. Para siswi ini berbagi tugas, ada yang memasang kancing, menjahit dan sebagainya.
''Bisa menyiapkan 300 stel baju sebulan. Walaupun tugas saya hanya memasang kancing,'' ujar Keysah Zahra.
Dia dan teman-temannya magang di RJL dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Selama magang diberi makan siang dan mendapat uang saku. ''Jadilah buat nambah uang jajan. Bisa magang di sini saja sangat bersyukur dapat ilmu dan bisa lebih mahir lagi nantinya,'' katanya.
Sementara salah satu tukang dengan mesin tiga jarum bernama Rena Fidawati (45) mengaku sudah dua tahun bekerja di sana. Dari awal yang hanya bisa menjahit baju perempuan biasa, kini menjahit baju overall 3-5 stel sehari. Dari awal hanya bergaji Rp65 ribu sehari kini Rena berpenghasilan Rp9 juta sebulan.
''Dari menjahit di sini, saya bisa beli mobil Toyota Avanza, bantu ekonomi keluarga juga,'' kata ibu tiga anak ini.
Tidak hanya Rena, Erdawati (45) juga merasakan hal yang sama. Dengan bekerja di RJL, Erdawati bisa membantu ekonomi keluarga.
''Anak yang paling besar kuliah di UIR, yang nomor dua kuliah di Umri sementara dua lagi masih SMA di Duri. Tentu biaya sekolah mereka sangat besar. Jika tak bekerja di sini belum tentu kami sanggup membiayai mereka,'' sebut Erdawati.
Awalnya dirinya ikut pelatihan menjahit gratis sampai akhirnya bisa menjahit dan diterima bekerja di RJL.
''Pemberdayaan yang dilakukan tak pandang bulu, siapa saja yang mau pasti diterima dan diajari. Kita juga tak dilarang menjahit di rumah selepas bekerja di sini yang penting target tercapai dan hasilnya bagus,'' tutur wanita berhijab ini.
Sementara itu, Senior Officer Community Involvement and Development North Area PHR Wildan menjelaskan, RJL menjadi pedoman sosial license to operate yakni cara masyarakat mendukung operasi perusahaan migas. Dampaknya mencakup lingkungan, ekonomi, kesejahteraan dan sosial.
''Program RJL juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) PBB seperti pengentasan kemiskinan, ketimpangan sosial, kesetaraan gender, menciptakan pekerjaan layak dan produksi yang bertanggung jawab. RJL sudah mandiri dan terjadi keberlanjutan ekonomi. Ini sudah sejalan dengan misi perusahaan, memberdayakan masyarakat setempathingga mandiri,'' sebut Wildan.*
Editor : M. Erizal