Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Surplus Neraca Perdagangan Ditopang Kelapa Sawit

Redaksi • Jumat, 14 November 2025 | 12:35 WIB
Sejumlah kendaraan antre saat mengantarkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di salah satu pabrik kelapa sawit di Riau, belum lama ini. Kelapa sawit menjadi kontributor utama surplusnya neraca perdagangan pada September 2025.
Sejumlah kendaraan antre saat mengantarkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di salah satu pabrik kelapa sawit di Riau, belum lama ini. Kelapa sawit menjadi kontributor utama surplusnya neraca perdagangan pada September 2025.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, kelapa sawit merupakan salah satu pilar ekonomi terpenting di Indonesia. Bahkan, surplus neraca perdagangan pada September 2025 mencatatkan kelapa sawit sebagai salah satu kontributor utama.

Hal ini disampaikannya pada sambutan virtual saat ingin membuka Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Bali, Kamis (13/11).

“Kelapa sawit tetap menjadi salah satu pilar ekonomi terpenting Indonesia. Pada September 2025, neraca perdagangan mencatat surplus 4,34 miliar dolar AS, dengan kelapa sawit sebagai salah satu kontributor utama,” jelas dia.

Dari Januari hingga September, ekspor kelapa sawit Indonesia mencapai 28,55 juta ton, meningkat dibandingkan tahun lalu. Bahkan, India dan Cina tetap menjadi pembeli utama, di samping Jepang dan Selandia Baru yang mencatatkan peningkatan permintaan.

“Harga rata-rata pembelian minyak sawit dan buah segar berada di kisaran Rp3.000 per kilogram dan hal ini memberikan dampak positif bagi produsen maupun petani kecil,” jelas dia.

Untuk memastikan daya saing dan keberlanjutan, pemerintah juga memperkuat sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk memastikan produksi kelapa sawit selaras dengan standar lingkungan dan global. Bahkan, sistem informasi ISPO yang menghubungkan validasi, sertifikasi, dan data perdagangan juga tengah dipersiapkan.

“Sistem ini meningkatkan transparansi dan memungkinkan pelacakan produk secara real-time,” ungkap dia.

Di sisi lain, Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia juga sedang mengubah minyak sawit menjadi energi bersih yang berkelanjutan. Hal ini berdasarkan persiapan program biodiesel B50 yang dipersiapkan pada semester kedua tahun depan.

“Emisi gas rumah kaca kami telah berkurang sekitar 41,46 juta ton setara CO2. Kami juga sedang mempersiapkan pemanfaatan minyak sawit untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan diharapkan dalam dua hingga tiga tahun produk ini dapat mulai beroperasi,” sebutnya.

Dia menekankan, minyak sawit terus memainkan peran kunci sebagai sumber energi, inovasi, dan kekuatan nasional. Indonesia tak boleh berhenti mengekspor bahan baku, tapi terus meningkatkan produk, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan memperkuat industri.

“Salah satu contohnya adalah kerja sama antara PT Pindad dan BPDP dalam pengembangan produksi industri pertahanan. Inisiatif ini akan menggunakan sumber daya lokal, termasuk minyak sawit sebagai bahan baku utama,” tukas Airlangga.(jpg)

Laporan JPG, Jakarta

 

Editor : Arif Oktafian
#Pilar Ekonomi #Menteri Koordinator Bidang (Menko) Perekonomian #Kontributor Utama #surplus #neraca perdagangan #kelapa sawit