JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pada 14 Oktober lalu, masa dukungan Windows 10 resmi berakhir. Keberadaan sistem operasi yang banyak digunakan di sektor bisnis berakhir sete;ah lebih dari satu dekade.Tentu saja penghentian dukungan ini diperkirakan berdampak signifikan.
Terutama bagi perusahaan yang belum migrasi ke sistem operasi lebih baru. Meski sebagian pelaku usaha menganggap sistem operasi urusan teknis. Keputusan ini membawa konsekuensi nyata bagi mereka.
Tanpa pembaruan keamanan, perangkat yang masih menjalankan Windows 10 berisiko tinggi. Ini menjadikannya titik rawan serangan siber.
Baca Juga: Terdakwa Korupsi Pembangunan Jalan di Inhil Dituntut 8,5 Tahun Penjara
Ancaman yang Mengintai Jika Tetap Bertahan di Windows 10
Keamanan menjadi aspek paling krusial. Tanpa patch terbaru, celah keamanan tidak ditambal lagi. Kondisi ini membuka peluang serangan malware dan ransomware. Kedua serangan itu memanfaatkan kerentanan lama dan potensi kebocoran data sensitif akibat perangkat tidak terlindungi.
Selain itu, risiko jika tidak segera update Windows adalah gangguan sistem. Gangguan ini menyebabkan downtime operasional dengan biaya perbaikan dan pemulihan data membengkak.
Dalam ekosistem bisnis digital, gangguan operasional bahkan hanya beberapa jam saja. Hal itu langsung berdampak pada reputasi dan stabilitas keuangan perusahaan.
Melansir laman resmi Microsoft, setelah 14 Oktober 2025, Microsoft menghentikan tiga dukungan penting bagi perangkat Windows 10:
Baca Juga: Ayo, Buruan! Pendaftaran Beasiswa Pemko Pekanbaru 2025 Diperpanjang
1. Pembaruan Keamanan
Tanpa update keamanan, Windows 10 lebih rentan terhadap virus, malware, dan ransomware. Ancaman tersebut terus berkembang dengan evolusi teknologi.
2. Pembaruan Fitur
Pengguna Windows 10 tidak lagi menerima fitur baru. Fitur-fitur tersebut kini banyak terintegrasi dengan teknologi AI di sistem operasi modern.
3. Dukungan Teknis
Pengguna yang mengalami masalah dengan perangkat Windows 10. Mereka tidak lagi mendapat bantuan resmi dari Microsoft. Penghentian dukungan ini beriringan dengan meningkatnya kebutuhan teknologi bisnis. Teknologi tersebut harus stabil, aman, dan kompatibel dengan aplikasi modern.
Banyak perangkat yang masih menjalankan Windows 10 juga tergolong unit lama. Ini menambah tantangan dari sisi perangkat keras.
Baca Juga: Inhil Peringkat 5 Inflasi Tertinggi Nasional
Biaya Perawatan Bertambah
Semakin tua perangkat, biaya perawatan semakin besar. Begitu juga dengan ketidakpastian ketersediaan suku cadang dari pusat layanan. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang waktu perbaikan. Bahkan membuat perangkat tidak dapat diperbaiki lagi.
Sebelum migrasi, perusahaan disarankan memeriksa kompatibilitas perangkat. Gunakan aplikasi PC Health Check agar proses transisi lebih efisien. Studi Microsoft menyatakan bisnis yang beralih ke sistem modern. Mereka mengalami penurunan biaya pemeliharaan IT hingga 64 persen dan peningkatan efisiensi investasi jangka panjang.
Lie Heng, Direktur PT Synnex Metrodata Indonesia, menilai akhir dukungan Windows 10 harus jadi alarm bagi usaha.
“Upgrade bukan hanya soal keamanan, tapi juga efisiensi dan penghematan biaya jangka panjang,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Berakhirnya masa dukungan Windows 10 menjadi titik penting. Perusahaan harus mengevaluasi ulang infrastruktur teknologi mereka. Perangkat dan sistem operasi yang tidak lagi didukung melemahkan keamanan. Selain itu, perangkat itu juga membebani operasional perusahaan.***
Editor : Edwar Yaman