Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Harga Cabai Tembus Rp120 Ribu per Kg

Wira Saputra • Sabtu, 29 November 2025 | 14:07 WIB
Harga cabai asal sumbar di Pasar Terubuk Bengkalis masih tinggi dan stoknya juga masih terbatas, Senin (13/10/2025).
Harga cabai asal sumbar di Pasar Terubuk Bengkalis masih tinggi dan stoknya juga masih terbatas, Senin (13/10/2025).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Bencana alam yang melanda daerah penghasil komuditas pangan di Sumatera yakni Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumatera Utara (Sumut) menyebabkan harga pangan di Riau mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Bahkan, harga cabai merah Bukittinggi menembus Rp120 ribu per kilogram (kg).

Pantauan Riau Pos, Jumat (28/11) di Pasar Tradisional Cik Puan Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru, sejumlah harga kebutuhan pokok langsung mengalami lonjakan tajam dalam dua hari terakhir. Cabai merah Bukittinggi dijual Rp120 ribu per kg dari harga sebelum di bawah Rp100 ribu.

Kemudian cabai hijau mengalami kenaikan dari Rp40 ribu per kg kini menjadi Rp80 ribu per kg, cabai rawit merah kini dijual Rp90 ribu per kg dari sebelumnya hanya Rp70 ribu per kg. Bahkan sejumlah sayuran pun juga ikut mengalami kenaikan sehingga membuat pedagang mulai mengalami dampak di saat daya beli masyarakat di Pekanbaru belum normal.

Salah seorang pedagang bernama Eka mengatakan, kenaikan harga yang terjadi selama dua hari ini dipicu terganggunya pasokan karena dampak bencana yang melanda sejumlah wilayah sentra produksi, seperti Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumatera Utara (Sumut).

“Dampak bencana di Sumbar besar, Pak. Semuanya naik. Cabai, bawang, sayur-mayur, rawit, semuanya mahal. Hari ini (Jumat, red) langsung naik Rp115 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Kemarin (Kamis) masih Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Memang sudah mahal kemarin, tapi sekarang tambah mahal,” jelasnya.

Lonjakan harga ini membuat sebagian pembeli memilih mengurangi jumlah belanjaan mereka. Para pedagang pun mengaku omset menurun karena daya beli masyarakat melemah. Pedagang memperkirakan harga masih berpotensi naik jika pasokan dari daerah terdampak bencana belum pulih.

“Selama ini pasokan pasar di Pekanbaru mengandalkan suplai dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, serta beberapa daerah lain yang saat ini terkendala cuaca dan kondisi jalan. Kalau pasokan belum lancar, ya bisa naik lagi. Kita juga menunggu kabar dari agen, takutnya besok (hari ini, red) makin tinggi lagi harga terus kami mau jualnya juga bingung disaat masyarakat masih mengurangi jumlah pembelian,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru Iwan Simatupang menyampaikan, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memastikan distribusi bahan pokok, terutama cabai dan sayur ke Kota Pekanbaru masih berjalan normal, meskipun wilayah Sumbar dan Sumut tengah dilanda bencana alam.

Menurutnya, hingga saat ini belum ada gangguan terhadap pasokan komoditas dari kedua daerah penghasil tersebut. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir terhadap pasokan bahan pangan karena pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan memastikan pasokan tetap berjalan lancar.

“Distributor yang memasok kebutuhan pokok ke Pekanbaru juga masih beroperasi normal sehingga belum terjadi perubahan pasokan maupun harga. Kami akan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan situasi dan kami meminta masyarakat tidak panik dalam kondisi ini,” tegasnya.

Harga sejumlah bahan pokok di Kepulauan Meranti masih relatif stabil. Dari puluhan komoditas yang dipantau, sekitar 95 persen berada pada posisi normal tanpa mengalami kenaikan. Namun demikian, dua komoditas penting ayam ras dan cabai merah besar tercatat mengalami lonjakan yang cukup mencolok.

Data Dinas Perdagangan Kepulauan Meranti menunjukkan, harga ayam ras kotor naik dari Rp34 ribu menjadi Rp35 ribu per kg. Sementara ayam ras bersih naik dari Rp44 ribu menjadi Rp45 ribu per kg. Kenaikan kecil ini dinilai sebagai efek dari biaya pakan serta distribusi dari pemasok luar daerah.

Yang paling mencolok adalah cabai merah asal Bukittinggi. Harga normal komoditas ini berada di level Rp53 ribu per kilogram, namun sempat melambung tajam hingga Rp100 ribu per kg beberapa hari lalu. Saat ini harga turun menjadi Rp85 ribu per kg, tetapi masih jauh di atas kondisi normal.

Kepala Dinas Perdagangan Kepulauan Meranti, Marwan, mengakui bahwa lonjakan harga cabai terjadi akibat gangguan pasokan dari daerah penghasil dan belum stabilnya suplai menjelang akhir tahun. Selain faktor cuaca dan distribusi antar kabupaten/kota, terbatasnya stok masuk dari Bukittinggi juga menjadi penyebab utama.

Namun yang menjadi perhatian adalah ketiadaan langkah intervensi pemerintah daerah, seperti operasi pasar. “Kita memahami kondisi masyarakat, dan sebenarnya operasi pasar bisa menjadi pilihan. Namun harus kami sampaikan bahwa tahun ini tidak tersedia anggaran untuk operasi pasar. Jadi kami tidak punya ruang fiskal untuk intervensi,” kata Marwan.

Ia menambahkan pihaknya hanya bisa melakukan pemantauan intensif di lapangan dan berkoordinasi dengan pemasok agar suplai tetap aman. “Kami terus berkomunikasi dengan distributor luar daerah agar pasokan tidak terputus. Untuk cabe, suplai dari Bukittinggi sudah mulai membaik, sehingga harga turun dari Rp100 ribu menjadi Rp85 ribu. Tapi memang belum kembali ke harga normal Rp53 ribu,” jelasnya.

Di Kuantan Singingi (Kuansing), Jumat (28/11), harga komoditi pangan masih relatif stabil, terutama dalam ketersediaan bahan pangan seperti cabai, beras, kelapa, bawang merah dan lainnya. “Harga sembako masih relatif stabil pasca banjir dan longsor di Sumatera Barat. Tetapi kami memprediksi akan berpengaruh terhadap komoditi sembako di Kuansing. Sebab, mayoritas sembako yang masuk ke Kuansing berasal dari Sumatera Barat,” ungkap Kadis Kopdagrin Kuansing Masnur. (ayi/wir/dac)

Editor : Bayu Saputra
#cabai bukit #cabai naik #harga cabai