PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kolaborasi antara dunia pendidikan dan layanan kesehatan kembali menghadirkan inovasi di bidang teknologi medis.
Tim peneliti dari Politeknik Caltex Riau (PCR) yang dipimpin Putri Madona SST MT memperoleh pendanaan hibah penelitian Kemendiktisaintek tahun 2025 untuk mengembangkan sistem monitoring dan deteksi dini aritmia berbasis internet of medical things (IoMT) dan kecerdasan buatan (AI).
Penelitian berjudul ‘’Optimasi Sistem Monitoring dan Deteksi Dini Aritmia Berbasis IoMT dan AI dengan Integrasi Data Klinis yang Memenuhi Standar SNI’’ ini berfokus pada pengembangan prototipe perangkat bernama CEKG, yang saat ini masih dalam tahap optimasi dan evaluasi berbasis data klinis.
Adapun tim peneliti terdiri dari Putri Madona SST MT, Siti Syahidatul Helma SKom MKom, Prof Dr Hendriko ST MEng dan dr May Valzon MSc (Universitas Abdurrabb). Penelitian ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Syafira Pekanbaru, dengan pendampingan dokter spesialis jantung, dr Abdiyat Syakrie Sp JP.
Bentuk kolaborasi meliputi focus group discussion (FGD) bersama dokter spesialis jantung dalam perancangan sistem early detection aritmia, pengambilan data klinis dengan pendampingan tenaga medis, serta evaluasi hasil sistem secara bersama untuk memastikan kesesuaian dengan kebutuhan klinis.
‘’Secara teknis, penelitian ini mengembangkan sistem deteksi dini aritmia menggunakan tiga elektroda berbasis raspberry Pi sebagai unit pemrosesan data,’’ ujar Dona kepada Riau Pos, Ahad (22/2).
Dijelaskan Dona, sinyal EKG yang diperoleh diproses dan dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan prediksi awal terhadap kemungkinan gangguan irama jantung. Model AI dikembangkan menggunakan database publik pada tahap awal, kemudian divalidasi secara terbatas dan bertahap menggunakan data klinis pasien melalui pendampingan tenaga medis.
Perangkat yang dikembangkan bersifat non-invasif, sehingga proses pengambilan data dilakukan tanpa prosedur pembedahan atau tindakan berisiko tinggi. Seluruh proses akuisisi data dilaksanakan dengan menjunjung tinggi prinsip etika penelitian serta perlindungan kerahasiaan data pasien.
Ketua tim peneliti, Putri Madona menyampaikan, penelitian ini dirancang tidak hanya untuk menghasilkan inovasi akademik, tetapi juga untuk membangun fondasi pengembangan perangkat monitoring jantung yang relevan dengan kebutuhan klinis dan standar nasional.
Direktur Rumah Sakit Syafira Pekanbaru dr Rina Elfiani Mars menyampaikan dukungan penuh terhadap kolaborasi ini.
‘’RS Syafira mendukung penuh kolaborasi penelitian bersama PCR, yakni Tim CEKG, dalam pengembangan teknologi deteksi dan analisis penyakit jantung. Sebagai rumah sakit dengan layanan jantung di Provinsi Riau, kami memandang kerja sama ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat riset dan inovasi kesehatan daerah,’’ sebut Rina.
Dijelaskan Rina, penelitian ini dilaksanakan melalui koordinasi intensif dengan dokter spesialis jantung RS Syafira serta tetap menjunjung tinggi etika penelitian dan perlindungan kerahasiaan data pasien.(hen)
Editor : Arif Oktafian