Jakarta (RIAUPOS.CO) - Tekanan inflasi kembali meningkat pada bulan lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi mencapai 3,48 persen secara tahunan (YoY), melonjak dibandingkan Maret 2025 yang hanya 1,03 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, kenaikan inflasi tahunan tersebut salah satunya dipicu low base effect, yakni basis perbandingan yang rendah pada tahun sebelumnya. Pada awal 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik yang menekan Indeks Harga Konsumen (IHK). Ketika tarif kembali normal pada 2026, inflasi terlihat meningkat.
“Diskon listrik pada 2025 membuat basis perbandingan rendah. Ketika tarif kembali normal, inflasi tahunan terlihat lebih tinggi,” ujar Ateng, Rabu (1/4).
Energi dan Pangan Jadi Pendorong
Tekanan inflasi terbesar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi 7,24 persen dengan kontribusi 1,08 persen terhadap inflasi tahunan. Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil signifikan dengan inflasi 3,34 persen dan kontribusi 0,99 persen.
Sejumlah komoditas yang menjadi pendorong kenaikan harga antara lain, beras, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, serta minyak goreng. Sebaliknya, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat deflasi 0,03 persen.
Tekanan Struktural
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai inflasi saat ini tidak hanya dipicu faktor musiman, tetapi juga tekanan biaya produksi. Gejolak geopolitik global dan krisis energi turut mendorong kenaikan harga berbagai input produksi, mulai dari pupuk, biaya logistik, hingga bahan baku industri.
“Kenaikan biaya produksi perlu dikendalikan,” ujarnya.
Untuk meredam tekanan inflasi, dia mendorong pemerintah memperkuat pasokan pupuk melalui penambahan subsidi, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta mengembangkan sumber energi alternatif guna mengurangi ketergantungan impor.(mim/bil/dio/gem)
Laporan JPG, Jakarta
Editor : Arif Oktafian