SALO (RIAUPOS.CO) - Di balik berkembangnya budidaya dan pengolahan daun kelor di Desa Salo Timur, terdapat sosok perempuan tangguh yang menjadi penggerak lahirnya perempuan-perempuan mandiri dan berdaya. Ia adalah Nurhidayah Sari, seorang perempuan desa yang memilih bergerak bersama masyarakat untuk menciptakan peluang usaha berbasis potensi lokal.
Berangkat dari keinginan sederhana untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga dan kaum perempuan di desa, Nurhidayah Sari kini berhasil membangun gerakan pemberdayaan perempuan melalui budidaya daun kelor yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berdampak sosial bagi masyarakat sekitar.
Di tangan Nurhidayah, daun kelor yang sebelumnya dipandang sebagai tanaman biasa kini berkembang menjadi komoditas bernilai tambah yang diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman. Melalui pendekatan pemberdayaan, ia mengajak perempuan-perempuan di Desa Salo Timur untuk terlibat langsung dalam proses budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk.
“Perempuan desa sebenarnya memiliki potensi besar. Tinggal bagaimana diberikan ruang, kesempatan, dan semangat untuk berkembang bersama,” ujar Nurhidayah Sari.
Gerakan yang dibangunnya perlahan tumbuh menjadi wadah belajar bagi para ibu rumah tangga dan perempuan desa untuk meningkatkan keterampilan sekaligus memperoleh tambahan penghasilan. Tidak hanya belajar bercocok tanam, para anggota kelompok juga mendapatkan pemahaman mengenai pengolahan produk, pengemasan, hingga pemasaran usaha.
Semangat yang dibawa Nurhidayah menjadikan budidaya kelor bukan sekadar aktivitas pertanian, tetapi juga gerakan sosial yang memperkuat peran perempuan dalam pembangunan ekonomi desa.
Dalam perjalanannya, pengembangan budidaya dan pengolahan daun kelor di Desa Salo Timur turut mendapatkan dukungan dan pembinaan dari PT PLN (Persero) melalui PLN Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng). Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam penguatan kapasitas kelompok perempuan, mulai dari pendampingan usaha, pengembangan produk, hingga peningkatan nilai ekonomi hasil olahan daun kelor.
Melalui kolaborasi tersebut, kelompok perempuan binaan kini semakin percaya diri mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang berorientasi pada keberlanjutan.
Berkat kegigihan dan konsistensi Nurhidayah Sari bersama kelompok perempuan binaannya, Desa Salo Timur kini mulai dikenal sebagai “Desa Berdaya Kelor”, sebuah desa yang tumbuh melalui pemberdayaan masyarakat berbasis budidaya dan pengolahan daun kelor. Bahkan, hasil olahan daun kelor dari desa tersebut kini telah menembus pasar internasional dan mulai diekspor ke luar negeri.
Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat desa, sekaligus membuktikan bahwa produk lokal yang dikelola secara serius mampu memiliki daya saing hingga pasar global.
Selain menciptakan peluang ekonomi, kegiatan budidaya daun kelor yang dijalankan juga menjadi bagian dari pengembangan green business atau bisnis hijau berkelanjutan. Pemanfaatan tanaman lokal yang mudah dibudidayakan serta pengolahan berbasis rumah tangga menjadikan usaha ini ramah lingkungan sekaligus memberikan manfaat sosial bagi masyarakat desa.
Nurhidayah mengatakan, keberhasilan terbesar bagi dirinya bukan hanya ketika produk berhasil dijual, melainkan saat melihat semakin banyak perempuan yang mulai percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
“Saya ingin perempuan-perempuan di desa punya keberanian untuk berkembang. Ketika perempuan berdaya, keluarga ikut kuat dan desa juga akan maju,” ungkapnya.
Kini, gerakan perempuan berbasis budidaya kelor yang digagas Nurhidayah Sari mulai dikenal sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang tumbuh dari desa. Semangat gotong royong, kemandirian, dan keberanian untuk berkembang menjadi kekuatan utama yang terus menghidupkan usaha tersebut.(adv)