Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bahlil Pertimbangkan Gas Mubadala Diolah di KEK Arun Lhokseumawe

Tim Redaksi • Senin, 13 Juli 2026 | 12:30 WIB
BAHLIL. (JPG)
BAHLIL. (JPG)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan terkait permintaan pengolahan gas Blok Andaman oleh Pemerintah Aceh di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe masih dipertimbangkan dari sisi ekonominya. 

”Saya belum bisa memutuskan karena masih dalam pembahasan. Yang kita ha­rus cari yang win-win (terkait permintaan Aceh). Kita ngak bisa mengatakan A kalau cost-nya tinggi,” kata Bahlil Lahadalia di Banda Aceh, Sabtu (11/7).

Pernyataan itu disampaikan Bhlil Lahadalia kepada awak media dalam konfe­rensi pers usai prosesi pelantikan pengurus DPD I Partai Golkar Aceh di Banda Aceh. 

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat

Dirinya menjelaskan penge­lolaan gas ini bermuara pada bisnis. Artinya, selama perhitungan ekonominya masuk, maka permintaan Aceh (di KEK Arun) dapat dipertimbangkan. Tetapi, jika perhitungan ekonominya agak berat, mungkin sulit untuk dipaksakan.

”Karena nggak ada bisnis yang akan ujungnya rugi. Harus semuanya untung, ya. Untung bagi rakyat Aceh dalam konteks untuk pendapatannya, untung bagi investor. Dan kita bisa melakukan sharing terhadap pendapatan itu, ya,” ujarnya.

Seperti diketahui, Mubadala Ener­gy telah menemukan cadangan gas di lepas pantai (offshore) Blok Andaman. Kemudian, untuk target produksi Mubadala Energy pada tahapan awal ini sekitar 300 MMSCFD (million standard cubic feet per day atau juta standar kaki kubik per hari). 

Baca Juga: Terasi Terbaik Meranti dari Desa Ketapang Permai

Terkait temuan gas ini, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem telah menyurati Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri ESDM mengenai pengelolaan temuan minyak dan gas (migas) di Lapangan Tangkulo South Andaman oleh Mubadala Energy tersebut.

Adapun permintaan Aceh yakni gas tersebut tidak dilakukan melalui skema FPSO (Floating production, storage, and offloading) atau pengolahan di laut lepas (offshore). Melainkan, secara onshore receiving facility (ORF) di darat yaitu KEK Arun Lhokseumawe.

Kemudian, juga meminta pengalokasian gas Mubadala tersebut bisa dipakai untuk industri di Aceh. Serta, permintaan penundaan sementara Plan of Development (PoD) atau dokumen perencanaannya. 

Baca Juga: Danamon Dukung Startup Indonesia Tembus Pasar Global 

Bahlil menjelaskan temuan gas oleh Mubadala tersebut berada di atas 12 mil laut. Kemudian, jika dibangun pipa gasnya, maka membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Akhirnya, membuat harga gas sampai 10 dolar AS per MMBTU (satuan mengukur kandungan gas).

”Kalau kita bangun pipanya, itu cost-nya memang tinggi. Dan itu tidak akan menghasilkan harga jual gas yang kompetitif. Itu bisa sampai dengan di atas 10 dolar per MMBTU,” ujarnya.

Bahlil menuturkan, target produksi gas Mubadala pada tahap awal ini direncanakan sekitar 300 MMSCFD (million standard cubic feet per day atau juta standar kaki kubik per hari).

Sebagian dari rencana produksi tersebut, kata dia, bakal distribusi sebagiannya untuk PLN, dan kepada industri di Aceh yaitu Pupuk Iskandar Muda (PIM).

”Karena Pupuk Iskandar Muda sekarang bahan bakunya itu sebagian kita pakai LNG. Kita ambil dari Papua, Sulawesi, Kalimantan. Nah, sebagiannya ini yang kita akan dorong untuk memanfaatkan dari Blok Andaman,” ujarnya.(jpg)

Editor : Arif Oktafian
#blok andaman #mubadala energy #bahlil lahadalia