Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS Meningkat, Dipengaruhi Sentimen Dalam Negeri, Dunia Usaha Bergairah 

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 09:48 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (Dok Riaupos.com)
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (Dok Riaupos.com)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Ini kabar baik. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan kembali menguat pada perdagangan Senin (20/7).

Pada perdagangan Jumat (17/7) kemarin, rupiah ditutup di kisaran harga Rp17.921 per dollar AS. "Untuk perdagangan (20/7), mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp17.870-Rp 17.930," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi," Senin (20/7).
 
Pergerakan rupiah pada hari ini diprediksinya akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri. Ia mengatakan penguatan rupiah berasal dari kondisi fundamental ekonomi domestik yang masih terjaga.

Baca Juga: Hari Ini Harga Emas Bersaing, Antam Rp2.719.000 per Gram, Galeri24 Rp2.587.000 dan UBS Rp2.599.000

Hal itu tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) pada kuartal II-2026 yang menunjukkan aktivitas dunia usaha meningkat. BI juga melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal II-2026 mencapai 12,97 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 10,11 persen.

Di sisi lain, kondisi keuangan dunia usaha dinilai masih solid, baik dari sisi likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses pembiayaan yang tetap mudah.

Peningkatan itu didorong oleh membaiknya kinerja mayoritas lapangan usaha utama, terutama sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, konstruksi, serta pertambangan dan penggalian.

Baca Juga: Gol Tunggal Ferran Torres di Tambahan Waktu Bawa Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Lionel Messi Sedih Hingga Menangis 

Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga tumbuh seiring tetap terjaganya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan musim libur sekolah.

Sejalan dengan meningkatnya aktivitas usaha, kapasitas produksi terpakai pada kuartal II-2026 juga naik menjadi 73,8 persen dari 73,33 persen pada kuartal sebelumnya.

Meski demikian, BI memperkirakan aktivitas dunia usaha pada kuartal III-2026 sedikit melambat. Hal itu tercermin dari proyeksi SBT yang berada di level 11,75 persen.

Baca Juga: Keserakahan dan Kelicikan

Untuk lapangan usaha dia memperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan. Di antaranya industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor yang ditopang permintaan masyarakat.

Untuk sektor konstruksi diperkirakan tetap tumbuh seiring berlanjutnya proyek pemerintah maupun swasta. Sedangkan aktivitas pertambangan dan penggalian diproyeksikan meningkat karena penurunan curah hujan mendukung kegiatan produksi.

Menurut Ibrahim, membaiknya aktivitas dunia usaha dan masih ekspansifnya sektor manufaktur menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Kondisi tersebut dinilai mampu menjaga optimisme pelaku pasar terhadap aset domestik sehingga berpotensi memberikan ruang bagi penguatan nilai tukar rupiah di tengah tekanan dari sentimen global.

Baca Juga: Penurunan TKD dari Pemerintah Pusat, Pemkab Inhu Belum Bisa Bayarkan Gaji ke-13 

Dalam survei lainnya, Prompt Manufacturing Index (PMI) BI menunjukkan industri pengolahan masih berada di zona ekspansi pada kuartal II-2026 dengan indeks 51,43, meski lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 52,03.

Kinerja tersebut ditopang oleh ekspansi pada sejumlah komponen utama, yakni volume produksi sebesar 53,81, volume persediaan barang jadi 53,00, serta volume total pesanan 52,77.

Sumber: Jawapos.com

Editor : Rinaldi
dollar as dunia usaha nilai tukar rupiah