JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Saat ini nilai tukar rupiah tergadap Dollar Amreika Serikat setara dengan Rp17.963. Namun angka itu berpotensi berubah karena rupaih terus melemah.
Menurut Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Senin (27/7). Pengaruh sentimen luar negeri jadi penyebabnya.
Ibrahim menjelaskan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang mendorong permintaan terhadap dollar AS tetap tinggi.
"Untuk perdagangan (24/7), mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.960-Rp 18.020," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (25/7).
Dari sisi eksternal, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap barang dari 60 mitra dagang mulai Jumat. Kebijakan tersebut menetapkan tarif sebesar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap berbagai produk impor, termasuk barang asal Indonesia.
Pemerintah AS menyebut langkah tersebut bertujuan mendorong negara-negara mitra dagang memperketat larangan terhadap produk yang dibuat menggunakan tenaga kerja paksa.
Baca Juga: Besaran Dana Pilkades Serentak Rohul di 54 Desa Tak Sama, Ternyata Ini yang Menentukannya
Gejolak ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyerang dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah, paling berpengaruh.
Situasi di Timur tengah mendorong Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan Houthi terhadap pelayaran komersial dan mengancam akan mengambil tindakan militer lebih lanjut terhadap Teheran.
Dengan harga minyak mentah yang telah berada di atas asumsi APBN Perubahan, yakni USD 83 per barel, serta nilai tukar rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS, kebutuhan devisa untuk impor energi diperkirakan akan semakin meningkat.
Baca Juga: Epson Dorong Smart Classroom, Integrasikan AI dan Teknologi Interaktif di Sekolah
Ibrahim menilai kebutuhan impor energi Indonesia yang mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan terhadap rupiah. "Kondisi tersebut berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari pelebaran defisit neraca transaksi berjalan hingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026," ujarnya.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi