Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dolar AS Bisa Rp20 Ribu di Akhir Juni

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Rupiah
Rupiah

Advertisement

 JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Tekanan terhadap rupiah bakal belum mereda dalam waktu dekat. Bahkan, Center of Economics and Law Studies (Celios) memproyeksikan kurs rupiah berpotensi menyentuh level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Juni 2026, apabila pemerintah gagal memperbaiki fundamental ekonomi domestik.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan rupiah saat ini bersifat persisten dan lebih banyak dipicu persoalan internal dibanding faktor eksternal. ”Akhir Juni, rupiah Rp20.000 itu tidak terelakkan. Proyeksi yang memang masih sangat moderat itu Rp20.000,” ujarnya, Selasa (19/5).

Menurut Bhima, pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi pemerintah. Mulai belum dipublikasikannya laporan keuangan Danantara hingga arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dinilai tidak realistis. 

Advertisement

Baca Juga: BI Yakin Rupiah Menguat Juli-Agustus

”Pemerintah terkesan denial, seolah-olah uangnya ada. Selalu meninabobokan dan membuat narasi positif. Padahal situasi­nya sekarang sebenarnya sudah penuh tekanan,” katanya.

Bhima mengingatkan, pelemahan rupiah bakal berdampak langsung terhadap masyarakat. Kenaikan biaya hidup, ongkos transportasi, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal disebut menjadi risiko yang sulit dihindari apabila kurs terus terdepresiasi.

Advertisement

Dia juga menilai sentimen pasar semakin memburuk akibat keraguan investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah. Termasuk isu keluarnya Indonesia dari sejumlah indeks global seperti FTSE dan MSCI. Karena itu, Bhima mendorong presiden segera melakukan reshuffle tim ekonomi kabinet serta merasionalisasi belanja negara berdasarkan tingkat urgensi.

“Harus segera ada reshuffle. Arah APBN juga harus dilakukan rasionalisasi berdasarkan urgensi. Kalau itu tidak dilakukan, rupiah akan terus melemah,” tambahnya.

Bhima turut menanggapi pernyataan Bank Indonesia (BI) yang menyebut tekanan rupiah pada April–Juni bersifat musiman dan berpotensi mereda pada Juli–Agustus. Menurut dia, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding tahun lalu. “Rupiah sekarang dibanding peers menjadi yang terlemah. Artinya faktor internal lebih dominan dibanding eksternal. Jadi bukan sekadar seasonal,” ujarnya.

Sementara itu, analis mata uang Lukman Leong menilai pelemahan rupiah mencerminkan masih lemahnya sentimen pasar terhadap aset domestik. Padahal, dolar AS dan harga minyak mentah global mulai terkoreksi setelah rencana serangan militer AS ke Iran ditunda.

Menurut dia, pasar kini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung, Rabu (20/5) hari ini. Investor mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah. Lukman memprediksi BI akan menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) dari level saat ini 4,75 persen menjadi 5 persen.(mim/dio/das)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Rupiah Sentuh Rp18.100 per Dolar AS

Rupiah Sentuh Rp18.100 per Dolar AS

Rupiah melemah hingga Rp18.139 per dolar AS. Tekanan kurs berisiko meningkatkan biaya impor, beban produksi, dan harga barang di Indonesia.

Dolar AS Diprediksi Tembus Rp18.200 

Dolar AS Diprediksi Tembus Rp18.200 

Rupiah diprediksi melemah hingga Rp18.200 per dolar AS pada akhir Oktober 2026 akibat penguatan dolar dan kenaikan harga minyak dunia.

IHSG Merah, Rupiah Melemah

IHSG Merah, Rupiah Melemah

IHSG) ditutup anjlok 678,6 poin atau 11,57 persen ke level 5.185,1. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer