Investasi Hilirisasi Menguat, GIFA dan METEC Indonesia 2026 Siapkan Teknologi untuk Industri Logam

Ari Iswandi • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:02 WIB
(Ki-Ka) Dadang Asikin (Ketua GAMMA), Lars Wismer (Managing Director Messe Düsseldorf Asia), Lia Indriasari (Country General Manager PT Pamerindo Indonesia), Iwan Lukito (Wakil Ketua Umum APLINDO) pada Press Conference GIFA & METEC Indonesia di Jakarta (19/8/2026). (Istimewa)
(Ki-Ka) Dadang Asikin (Ketua GAMMA), Lars Wismer (Managing Director Messe Düsseldorf Asia), Lia Indriasari (Country General Manager PT Pamerindo Indonesia), Iwan Lukito (Wakil Ketua Umum APLINDO) pada Press Conference GIFA & METEC Indonesia di Jakarta (19/8/2026). (Istimewa)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Perkembangan investasi hilirisasi Indonesia mulai membuka kebutuhan baru di sektor industri logam. Bukan hanya peningkatan kapasitas produksi, pelaku industri kini membutuhkan teknologi pemrosesan, otomasi, rekayasa, sistem mutu, hingga kemampuan manufaktur hilir. 

Momentum tersebut akan dihadirkan melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026 yang berlangsung pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo).

Memasuki edisi ketiga, GIFA dan METEC Indonesia yang diselenggarakan Messe Düsseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia, bagian dari Informa Markets, akan menghadirkan sekitar 260 perusahaan peserta dan menargetkan 6.000 pengunjung profesional. Pameran ini mencakup berbagai teknologi untuk pengecoran logam, metalurgi, besi dan baja, logam non-ferrous, fabrikasi, otomasi, hingga manufaktur berkelanjutan.

Baca Juga: Peluang Merebut Juara Masih Terbuka, Lima Jalur Inhu Melaju ke Putaran Kedua

Penyelenggaraan tahun ini hadir ketika industri nasional sedang bergerak lebih jauh dalam agenda hilirisasi. Data investasi pada semester pertama 2026 menunjukkan subsektor logam dasar, barang logam, mesin, dan peralatan telah mencatat investasi sebesar US$8,44 miliar atau 14,9% dari total investasi nasional.

Momentum tersebut semakin terlihat pada kuartal kedua 2026 ketika investasi hilirisasi bauksit mencapai US$2,25 miliar. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan investasi hilirisasi nikel sebesar US$1,65 miliar dan mencatat peningkatan 193%.

“Indonesia sedang bergerak dari model ekspor sumber daya menuju model industri yang lebih terintegrasi, yakni mengolah sumber daya mineral dalam negeri bernilai tambah lebih tinggi, sekaligus memperkuat basis manufakturnya,” ujar Lars Wismer, Managing Director, Messe Düsseldorf Asia, salah satu penyelenggara GIFA dan METEC Indonesia di Jakarta (19/8/2026).

Baca Juga: Target PAD Pekanbaru 2027 Diproyeksikan Rp1,4 Triliun

Seiring peningkatan investasi dan kapasitas produksi, kebutuhan industri pun ikut bergeser. Kebijakan larangan ekspor bauksit sejak 2023 dan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto turut menjadi bagian dari perkembangan tersebut, sekaligus mendorong kebutuhan teknologi proses, keahlian rekayasa, infrastruktur, sistem mutu, dan kemampuan manufaktur hilir.

“Industri pengerjaan logam dan permesinan Indonesia membutuhkan akses terhadap teknologi pemrosesan canggih, keahlian teknis, serta kemitraan internasional seiring dengan berkembangnya kapasitas manufaktur domestik,” ujar Dadang Asikin, Ketua GAMMA (Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia). “Kami memandang GIFA dan METEC Indonesia sebagai pelengkap agenda hilirisasi Indonesia.”

Melalui GIFA Indonesia, pengunjung dapat melihat teknologi pengecoran yang mencakup proses peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking, simulasi, otomasi, hingga pengujian. Sementara METEC Indonesia menghadirkan teknologi metalurgi dan produksi logam, meliputi besi dan baja, logam non-ferrous, tungku, refractory, pengerolan, pembentukan, pengendalian proses, serta rekayasa pabrik.

Baca Juga: Meranti Bidik Sumber PAD Sektor Sagu dan Sarang Walet

Kombinasi keduanya mempertemukan berbagai mata rantai industri dalam satu ekosistem. Produsen, pengembang proyek, pemasok teknologi, perusahaan rekayasa, dan pemangku kepentingan dapat mengeksplorasi kebutuhan industri mulai dari material mentah hingga produk jadi.

“Industrialisasi hilir Indonesia menciptakan kebutuhan baru akan teknologi, keahlian rekayasa, pengembangan keterampilan, dan kemitraan. Melalui pameran ini, kami menyediakan platform bagi industri Indonesia untuk berinteraksi dengan pemasok global dan mengidentifikasi solusi untuk kebutuhan produksi nasional yang berkembang,” ujar Lia Indriasari, Country General Manager Pamerindo Indonesia.

Sektor aluminium menjadi salah satu bagian penting dalam penguatan rantai nilai tersebut. Di Mempawah, Kalimantan Barat, telah dikembangkan rencana smelter aluminium primer dengan kapasitas 600.000 ton per tahun serta Smelter Grade Alumina Refinery Tahap II berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun.

Baca Juga: Belasan Tahun Buron, Terpidana Korupsi Ditangkap di Aceh 

Di sisi lain, Inalum mengindikasikan kapasitas terpasang smelter aluminium dapat mencapai 1,975 juta ton pada 2026, sementara kebutuhan domestik aluminium primer berada di sekitar 520.000 ton per tahun. Perbedaan kapasitas tersebut memperkuat peluang untuk mengembangkan sektor pengolahan aluminium di dalam negeri.

Peluang tersebut mencakup pengembangan produk berupa lembaran, foil, ekstrusi, kawat, produk cor, hingga berbagai komponen manufaktur. Untuk pertama kalinya, Aluminium Pavilion akan hadir membawa solusi yang mencakup peleburan, pengecoran, pengembangan paduan, fabrikasi, pemotongan presisi, daur ulang, pengolahan scrap, dan materials handling.

Partisipasi ABP Induction Systems GmbH, Foshan Diamond Technology Co., Ltd., dan Henan Tosta Machinery Co., Ltd. menjadi bagian dari kehadiran Aluminium Pavilion dalam GIFA dan METEC Indonesia 2026.

Baca Juga: Kebakaran Lahan di Rimbo Panjang, BPBD Kampar Lakukan Penyekatan dan Pendinginan

“Aluminium berada di titik temu sejumlah prioritas industri Indonesia, termasuk hilirisasi, daya saing manufaktur, pembangunan infrastruktur, integrasi rantai pasok otomotif, serta transisi energi,” ujar Mr. Wismer.

“Aluminium Pavilion yang baru ini merespons kebutuhan pasar akan hubungan yang lebih erat antara produksi aluminium primer dan manufaktur hilir,” tambahnya.

Peluang bisnis juga terbuka ketika produsen nasional mulai memasuki tahap produksi operasional setelah sebelumnya berfokus pada pembangunan kapasitas. Kebutuhan terhadap simulasi pengecoran, pengendalian mutu digital, peralatan fabrikasi dan pemotongan presisi, sistem material handling, serta otomasi menjadi bagian dari kebutuhan yang semakin relevan.

Baca Juga: 66 Pejabat Eselon II, III, Kepsek dan Kapus di Rohul Dilantik, Ini Daftar Namanya

Kehadiran perusahaan nasional dan internasional seperti Wilisindomas Indahmakmur PT, CITEC Engineering Indonesia PT, Wintherm Bara PT, Metallurgical Corporation of China Ltd, Ashapura International Limited, BEDA Oxygentechnik Armaturen GmbH, MAGMA Engineering Asia Pacific Pte. Ltd., KALFRISA, S.A.U., serta Zobon (Lianyungang) Metal Technology Co. Ltd. turut memperluas peluang pertemuan bisnis dan teknologi.

“Dengan mendekatkan komunitas teknologi internasional yang relevan kepada industri Indonesia, kami bertujuan mendukung diskusi bisnis yang berbasis informasi mengenai produktivitas dan pengembangan rantai nilai,” tutup Lia Indriasari.

Melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026, pelaku industri tidak hanya mendapatkan akses terhadap teknologi, tetapi juga kesempatan membangun kemitraan dan memperkuat kompetensi teknis. 

Editor : M. Erizal
GIFA dan METEC Indonesia 2026 investasi hilirisasi industri logam manufaktur jiexpo