Penambahan Kuota BBM Bersubsidi Baru Dibahas Akhir Bulan

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 10:41 WIB
Masyarakat mengantre BBM di salah satu SPBU Kabupaten Kuansing, Riau, beberapa waktu lalu. (Dok Riaupos.co).
Masyarakat mengantre BBM di salah satu SPBU Di Riau, beberapa waktu lalu. (Dok Riaupos.co).

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Peme­rintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengajukan penambahan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yakni biosolar dan pertalite. Pengajuan penambahan kuota tersebut dilakukan melihat saat ini banyak antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), terutama jenis biosolar.

Kepala Dinas ESDM Riau Ismon mengatakan, untuk kuota biosolar penambahan kuota yang diajukan sebanyak 99.700 kiloliter (kl). Sedangkan penambahan kuota pertalite sebanyak 99.556 kl. “Pemprov Riau telah mengajukan kuota BBM jenis biosolar dan pertalite. Tapi hingga saat ini masih tinggal menunggu persetujuan dari pusat dalam hal ini BPH Migas,” katanya.

Terkait pengajuan penambahan kuota tersebut, pihaknya saat ini masih terus berkoordinasi dengan pihak BPH Migas. Pasalnya untuk penambahan kuota tersebut juga perlu persetujuan dari pemerintah pusat. “Pengajuan penambahan kuota BBM bersubsidi ini kan ada kaitannya dengan APBN juga. Makanya kami masih menunggu sembari terus berkoordinasi, informasi yang kami dapatkan pembahasan usulan tersebut baru akan dilakukan akhir bulan ini,” ujarnya.

Baca Juga: OPD Diminta Agresif Cari Sumber Pembiayaan

Antrean Tak Kunjung Terurai

Antrean kendaraan untuk mendapatkan solar masih terjadi setiap hari di sejumlah SPBU di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Rohul. Kepala Disperindag Rohul Sugesti melalui Sekretaris Disdperindag Zulfikar SP mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah SPBU. 

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi penyaluran solar sekaligus mencari tahu penyebab antrean yang masih berlangsung setiap hari. ”Kita dalam waktu dekat akan melakukan sidak ke sejumlah SPBU. Kita ingin melihat langsung kondisi di lapangan, termasuk penyaluran solar dan antrean yang terjadi,” ujarnya, Senin (14/9).

Zulfikar menyebutkan, sidak nantinya juga akan dilakukan dengan berkoordinasi bersama pihak terkait. Disperindag Rohul ingin memastikan penyaluran solar di SPBU berjalan sesuai ketentuan dan masyarakat mendapatkan pelayanan yang semestinya.

Baca Juga: Wisatawan Riau Dinilai Selektif, Pilih Paket Wisata Ekonomis

”Kita akan lihat kondisi antrean dan bagaimana mekanisme penyalurannya. Intinya, kita ingin memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan baik,” tegasnya. ”Kita berharap persoalan ini bisa diketahui penyebabnya dan dicarikan solusinya. Pemerintah daerah inginkan kebutuhan BBM masyarakat dapat terpenuhi dan penyalurannya berjalan sesuai aturan,” tuturnya

Antrean juga masih terjadi di Kabupaten Pelalawan, termasuk di Kecamatan Pangkalankerinci. Berdasarkan pantauan di SPBU Jalan Koridor RAPP Kilometer 5 Pangkalankerinci, antrean truk besar memenuhi bahu jalan di kedua sisi. Para sopir harus menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan solar.

Seorang sopir truk, Tawardi mengaku telah mengantre selama empat jam. Ia mengatakan hendak kembali ke Kabupaten Kuantan Singingi setelah mengantarkan muatan ke sebuah perusahaan di Pangkalankerinci. Karena bahan bakar di tangki dinilai tidak cukup untuk perjalanan pulang, ia terpaksa mengantre di SPBU tersebut.

Baca Juga: Ekonom Dorong Pendataan Bansos Pakai Sistem Coretax agar Tepat Sasaran

“Ya, antrean kendaraan untuk isi biosolar sangat panjang. Kita berharap pihak SPBU dapat melakukan pengaturan agar pengemudi tidak menunggu terlalu lalu. Artinya, pembatasan kuota bagi setiap kendaraan harus diterapkan. Maksimal 80 liter,’’ ujarnya.

‘‘Soalnya, ada sejumlah kendaraan yang bisa mengisi hingga mendapat jatah 100 hingga 200 liter. Kalau pengaturan ini dimaksimalkan, saya yakin antrian tidak akan panjang,” tambahnya.

Sementara itu, pengawas SPBU, Roni mengaku tidak mengetahui penyebab pasti terjadinya antrean panjang. Mereka hanya bertugas melayani pengisian BBM sesuai arahan dari pihak pengelola. Bahkan, pihaknya juga telah membatasi kuota biosolar bagi pengendara. Yakni maksimal 80 liter. “Jadi, setiap kendaraan, diberi jatah maksimal 80 liter,” ujarnya.

Baca Juga: PTPN IV PalmCo Inisiasi PSR Award 2026, Perkuat Ekosistem Sawit Rakyat

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Pelalawan, Hanafie mengatakan, antrean solar telah berlangsung selama beberapa hari. “Kita akan berkoordinasi dengan Pertamina untuk meminta penjelasan mengenai penyebab antrean solar tersebut, sekaligus mencari solusi agar antrean panjang di SPBU dapat segera diatasi,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Pelalawan, Carles menjelaskan, pihaknya sudah mulai geram terhadap perilaku para pengusaha yang armadanya ikut berebut membeli BBM subsidi. Kondisi ini membuat stok biosolar di SPBU sulit didapat.

“Kita mengingatkan kepada para pengusaha, transportasinya untuk tidak membeli minyak solar bersubsidi di seluruh SPBU yang ada di Kabupaten Pelalawan. Minyak solar di SPBU itu bukan untuk para pengusaha, tolong jangan ikut mengantre berebut membeli solar,” paparnya.

Baca Juga: Harga Ayam dan Cabai Masih Tinggi

Demikian juga di Siak. Antrean solar  masih terjadi di SPBU Kota Siak. Mobil pribadi harus bersabar antre bersama truk. Seperti Ibu rumah tangga bernama Nia, mengaku terpaksa antre sampai dua jam karena di depannya ada beberapa truk. 

“Melelahkan, tapi harus bagaimana lagi, tangki mobil ini sudah kosong. Saya tidak menyangka bakal selama ini antrenya,” ucap Nia. Nia mengharapkan segera ada solusi dari pemerintah atas persoalan ini. Sebab selama ini dia membeli dexlite, tapi karena harganya semakin tinggi, membuatnya memilih antre. 

Sementara Petugas SPBU 14.286.136 di Kecamatan Siak, Budi mengatakan tiga hari dalam sepekan ada tambahan 8.000 L, jadi sepekan 16.000 L, tapi entah bagaimana ceritanya, tetap terjadi antrean. 

Baca Juga: Bedelau Langsung BRK Syariah, Siswanto Bawa Pulang Honda ADV 160

Sejumlah sopir truk mengaku ekstrasabar, sejak dua bulan terakhir harus antre solar. Mestinya lebih awal sampai ke pabrik, kini harus menunggu dua sampai tiga jam. Danang, benar-benar mulai terbiasa dengan situasi ini. Sebagai sopir truk pembawa tandan buah segar, dia enggan mengeluh. “Saya jalani saja, memang situasinya seperti ini mau bilang apa lagi,” ucapnya.

Berbeda di Kuantan Singingi (Kuansing). Antrean kendaraan Senin (14/9) terlihat berkurang dari pekan lalu. Di SPBU Sungai Jering yang pekan lalu hingga ke arah jalan H Halim, kemarin terlihat antre di depan kedai sembako Toko Damai dari arah Telukkuantan. Sedangkan dari arah Pekanbaru, truk pun lebih pendek antrean, hanya di depan Kantor JNT.

Riau Pos yang ikut mengantre hanya perlu waktu menunggu giliran 30 menit untuk pertalite. Menurut Mega Wahyuna, bagian administrasi SPBU Sungai Jering Telukkuantan, ini menyusul pasokan BBM yang tiba lancar dan sesuai kota. Selain itu, tidak ada gangguan di sistem SPBU. “Alhamdulillah lancar. Antrean tidak terlalu panjang. BBM masuk sesuai kuota,” ujarnya.

Baca Juga: Unri-FK2PT Dorong Kolaborasi Global untuk Perikanan dan Ekonomi Biru Berkelanjutan

Begitu pula dengan SPBU yang lain. Menurut informasi yang dia terima, pasokan BBM juga lancar dan sesuai kuota. “Kalau pasokan BBM lancar dan sesuai kuota, mudah-mudahan antrean tidaklah panjang. Tapi kalau ada yang tak masuk, maka antrean akan panjang di SPBU terdekat, seperti Sungai Jering ini,” ujarnya.(sol/epp/amn/mng/dac)

 

Editor : Arif Oktafian
biosolar bbm subsidi riau pertalite kuota bbm