B50 Pangkas Ketergantungan Impor BBM

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 10:51 WIB
YULIOT TANJUNG. (JPG)
YULIOT TANJUNG. (JPG)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -  Pemerintah membidik program pencampuran solar dengan bahan bakar nabati atau B50 untuk memangkas ketergantungan terhadap impor BBM. Program tersebut diproyeksikan mampu mensubstitusi impor solar hingga 310 ribu barel per hari.

Target itu disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung saat menghadiri G20 Energy Abundance Ministerial Meeting di Houston, Texas, Amerika Serikat, 14-16 September 2026.

B50 merupakan penggunaan solar yang dicampur dengan bahan bakar nabati hingga 50 persen. Pemerintah menempatkan program tersebut sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan energi sekaligus mengoptimalkan sumber daya energi domestik.

Baca Juga: Lampaui Target, Realisasi PSR Capai 7.244 Ha

Dengan substitusi impor hingga 310 ribu barel per hari, pemerintah memperkirakan B50 dapat menghasilkan penghematan hampir 10 miliar dolar AS per tahun. “Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menjalankan program B50,” ucapnya di Jakarta, Kamis (17/9).

Konsumsi Tembus 1,6 Juta Barel

Pengembangan B50 dilakukan ketika kebutuhan BBM nasional masih jauh di atas produksi minyak domestik. Berdasarkan rilis Kementerian ESDM, konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi dalam negeri baru sekitar 600 ribu barel per hari.

Kesenjangan tersebut membuat pemerintah harus mencari sumber pasokan sekaligus strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. 

Baca Juga: Weekend Ini, Yuk Habiskan Waktu Bersama Orang-Orang Tersayang di Living World Pekanbaru

“B50 menjadi salah satu instrumen yang disiapkan dari sisi konsumsi, sementara dari sisi produksi pemerintah menargetkan produksi minyak nasional meningkat hingga 1 juta barel per hari,” paparnya.

Untuk mengejar target produksi tersebut, pemerintah membuka peluang investasi pada 118 wilayah kerja migas dengan menawarkan skema fiskal bagi investor.

Di sisi lain, pemanfaatan bahan bakar nabati menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi. Penggunaan sumber energi domestik diharapkan dapat mengurangi kebutuhan solar impor sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas dalam negeri.

Baca Juga: Toyota Space Kembali Hadir di Riau, Rasakan Langsung Inovasi Teknologi Hybrid EV

Strategi ketahanan energi juga berjalan beriringan dengan pengembangan energi baru dan terbarukan. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit listrik 69,5 gigawatt, dengan 76 persen di antaranya berasal dari energi terbarukan. (dio/jpg)

 

Editor : Arif Oktafian
impor BBM b50 bbm solar biodiesel